
" Tidak mungkin kalau hanya urusan itu sampai membuatmu murung. Tapi tidak apa - apa, mungkin kamu belum siap bercerita. Baiklah Papa istirahat dulu. Nanti kalau kamu sudah siap. Kamu bisa cerita ke Papa. " Papa Reihan hendak bangkit dari duduk.
" Tunggu Pa. " Anjani memegang pergelangan tangan Papanya. " Papa duduk dulu, Anjani akan cerita ke Papa. " Papa Reihan duduk kembali ke kursinya. "Baiklah, Papa akan menjadi pendengar yang baik."
Anjani memulai ceritanya, " Sudah beberapa hari ini, Bayu tidak memberikan kabar seperti biasanya. Dia seperti menghilang. Anjani sudah berusaha menanyakan kabarnya. Tapi, belum ada jawaban dari Bayu. "
" Mungkin dia sedang sibuk. Papa bisa memahami kesibukan Bayu. Karena Papa sendiri juga pernah mengalaminya semasa berpacaran dengan Mama kamu dulu. Sama sepertimu sekarang, Mamamu yang kala itu tak mendapat kabar dari Papa mulai gundah. Papa sebenarnya ingin memberi kejutan Mama mu setelah proyek selesai, Papa akan mengajak Mamamu jalan - jalan." Papa Reihan menoleh ke arah Anjani dan menghentikan ceritanya.
" Lalu? " Anjani sudah tidak sabar menunggu kelanjutan cerita Papanya. " Mama mu memilih untuk tinggal beberapa hari di rumah neneknya. Papa menjemputnya setelah pekerjaan kantor beres. Papa mengajukan cuti satu Minggu untuk melangsungkan acara pertunangan dengan Mamamu."
" Pasti romantis sekali saat Papa melamar Mama. " Anjani sudah membayangkan adegan romantis seperti hal nya Rheia juga Andrew. Serta beberapa film romantis yang pernah ia tonton.
Papa Reihan tertawa pelan, " Papa bukan tipe laki - laki yang romantis. Membawa bunga dan mengajaknya makan malam di restoran mahal. Papa melamar Mamamu saat kami berjalan di kebun teh. Papa berlutut di hadapannya dan memintanya untuk menemani perjalanan hidup Papa sebagai istri yang akan Papa cintai dengan segenap hati. "
Anjani semakin antusias mendengarkan Papanya. " Lalu? "
" Mamamu menerima Papa dan menurut Mamamu itu romantis. Entahlah, Papa tidak faham perasaan perempuan. " Papa Reihan menoleh kearah Anjani yang masih menunggu kelanjutan cerita Papanya.
" Beri Bayu waktu, lelaki sejati tahu kapan saat yang tepat untuk dia menunjukkan dirinya. Besok acara jam sembilan pagi kan? Kamu beristirahatlah. Besok Papa akan mengantarmu. " Papa Reihan berdiri dari duduknya dan masuk ke kamarnya.
Anjani mencerna kembali kata - kata Papanya. Kemudian masuk kedalam kamarnya.
Bayu terlihat sudah rapi dan hendak menemui Andrew. Mama Joice memilih beristirahat sebentar untuk selanjutnya akan memesan spa melalui kapster yang sudah di booking. Spa langganan Mama Joice selalu memberikan pelayanan prima.
Itu sebabnya Mama Joice puas dengan pelayanan karyawan disana. Tapi untuk kali ini Mama Joice memilih di Apartement Bayu karena perjalanan panjang yang mereka tempuh.
Bayu berpamitan dengan Mamanya lalu mengendarai mobil pribadinya untuk menemui Andrew tanpa memberinya kabar terlebih dahulu.
Setelah sampai di depan rumah Andrew, Bayu memarkirkan mobilnya. Sebelum sampai Bayu sempat menelpon kediaman Andrew. Pelayannya memberi tahu kalau Andrew ada dirumah. Pelayan sudah lama bekerja di keluarga Andrew dan juga mengenal Bayu.
__ADS_1
Saat mereka sedang makan malam keluarga Andrew, Bayu muncul. Andrew yang saat itu sedang minum hampir tersedak karena Mamanya Andrew berteriak. " Bayu, apa kabar mu Nak? "
Seketika Andrew menoleh dan ketika benar Bayu datang. Andrew segera berdiri dan memeluk Bayu. " Wah, kebangetan nih orang. Datang ga bilang - bilang. Kan bisa aku gelar karpet merah buat penyambutan. "
" Karpet merahnya buat kamu saja besok. " Bayu membalas pelukan Bayu. " Ayo makan dulu. " Ajak Andrew ke kursi kosong di sebelahnya.
Bayu sempat menjabat tangan Papa Andrew, Tuan Anderson. Dan mama Andrew, Madam Rose. Kakak Andrew dan istrinya belum hadir malam itu.
Pesawat akan tiba tengah malam nanti. Karena
harus mengurus bisnis sebelum mereka berangkat, maka dari itu mereka memilih penerbangan paling akhir.
Usai makan malam Andrew dan Bayu duduk di sudut ruangan rumah Andrew ada meja bar kecil disana. Tapi Bayu dan Andrew hanya membuat kopi. Ada mesin kopi disitu. Andrew yang enggan memanggil pelayan karena sudah larut, meracik sendiri kopi untuknya dan Bayu.
Kali ini mereka membuat Kopi Arabica, wangi kopi dan rasanya istimewa.
" Bagaimana persiapan besok? Sudah beres? "Andrew yang masih menyiapkan gula sachet mengangguk dengan pertanyaan Bayu.
Bayu mengambil satu cangkir kopi dari nampan. " Dari aromanya wangi sih, nanti kita coba rasanya. Karena ini masih panas. "
" Ngomong - ngomong, Anjani tahu kalau kamu datang? " Bayu menggeleng pelan. Andrew menaikkan satu alisnya.
" Sudah kuduga, kamu pasti punya rencana lain? " Andrew mengambil kopi di nampan.
" Jangan salah paham, aku ingin memperkenalkan Anjani kepada Mama. " Bayu mengelus cangkir kopi yang masih panas.
" Iya, aku tahu maksud baik kamu. Aku bahkan juga sudah berpikir jauh kesana. Mengingat orang sibuk sepertimu tidak mungkin jauh - jauh kemari hanya untuk kondangan hehe.. " Andrew tertawa.
" Berisik sekali. " Suara Papa Anderson dari belakang membuat Andrew dan Bayu menoleh ke asal suara.
__ADS_1
" Maaf Om, ini Andrew tertawa keras sekali. " Bayu giliran tertawa. " Ah, sudahlah, bukankah kalian ini sama saja. Dari dulu seperti itu, nikmatilah sebelum kalian melepas status lajang." Om Anderson menepuk pundak putranya.
" Papa mau Andrew buatkan kopi ? " Andrew hendak berdiri dari kursi bar yang didesain di sudut ruangan itu.
" Tidak usah, Papa mau kembali beristirahat. Kalian jangan begadang ya? Besok acara pagi. Kalian harus sudah siap. Papa ke kamar dulu. " Papa Anderson kembali ke kamarnya.
Bayu mulai menikmati kopinya. " Jago juga kamu bikin kopi. "
" Hey Bung, lihat di dinding itu. " Andrew menunjuk salah satu dinding yang terpajang piagam Barista dan Bartender milik Andrew.
" Oh, cicak. " Bayu yang sebenarnya paham maksud Andrew sengaja menggodanya sambil tertawa.
" Piagamlah masak cicak sih. Jangan - jangan rabun bebek kamu Bay. " Giliran Andrew membalas.
" Ya kali aja, di dinding kirain cicak. Kaya lagu. Rabun, rabun ayam kali, bukan rabun bebek. " Bayu menjelaskan hingga mereka tertawa terbahak - bahak.
Bayu pamit pulang setelah menghabiskan kopinya. Tentunya setelah tahu pakaian apa yang akan dikenakan oleh pendamping pihak pria dan apa warna gaun yang Anjani kenakan.
" Kamu sudah pulang? Bagaimana Andrew? " Pertanyaan Mama Joice ketika Bayu membuka pintu apartementnya.
" Andrew sudah siap, Ma. Besok pagi jam sembilan kita akan ke tempat acara." Bayu menutup rapat pintu. Kemudian membimbing Mamanya ke kamar yang memang sudah disiapkan khusus untuk Mamanya. " Mama sekarang istirahat, besok pagi kita berangkat. "
Bayu menuju kamar pribadinya setelah Mamanya masuk ke kamar.
.....
Terimakasih untuk like dan komen dari kalian. Maaf atas keterlambatan penulisan.
Semoga selanjutnya bisa rutin diterbitkan.
__ADS_1
Terimakasih atas dukungannya. 🙏🏼