
Setelah mendapatkan beberapa foto, Bayu melepas Anjani untuk pergi mengganti gaunnya. Bayu masih ingin mengambil beberapa foto dirinya saat sendirian.
Di dalam ruang ganti Anjani kembali memperhatikan dirinya. Perasaan biasa saja. Cuma pakai gaun begini dibilang cantik. Namanya juga masih pacaran, nanti kalau sudah jadi istrinya pakai daster bau masakan dapur. Dengan dua roll di rambut sebelah kanan dan kiri. Apakah dia masih akan tetap memuji, cantik? Gumam Anjani. Anjani tertawa sendiri dengan pikiran liarnya.
Bayu mendapat beberapa gambar dirinya dan Anjani begitupun foto dirinya pribadi. Bayu mengganti pakainya dengan pakaian pribadinya yang dipakai tadi.
Anjani tampak sudah menunggu, Bayu baru saja keluar dari ruang ganti. " Ayo kita makan siang, " Ajak Bayu. Anjani yang memang sudah lapar mengikuti langkah Bayu masuk kedalam mobil.
Di dalam mobil sesekali Bayu melihat ke arah Anjani yang sedang menatap lurus ke depan. " Kamu mau makan apa? " Bayu mencoba memecah kesunyian. " Terserah mau makan dimana, aku ikut saja. " Jawab Anjani tanpa menoleh.
" Mau Barbeque atau Mie Ramen? " Bayu mencoba memberi option. " Kalau aku pilih Barbeque, nanti kita harus menunggu. Kalau memilih Mie Ramen, rasanya aku sedang ingin makan Barbeque. " Anjani sedang berfikir.
" Jadi? " Bayu kembali memastikan. " Jadi terserah kamu. " Anjani menoleh ke arah Bayu. " Baiklah, kita makan Barbeque yang tempatnya sepi. Agar kita tidak antri. " Bayu mencoba memberi solusi sambil tetap fokus menyetir.
" Kalau tidak antri berarti makanan di tempat itu kurang enak donk? " Anjani menyentuh dagunya sendiri dengan jari telunjuknya.
" Iya jadi ? Kamu mau makan dimana? " Bayu mulai menahan emosinya dan belajar bersabar. " Dimana ya? Terserah kamu saja deh. " Anjani melihat emosi Bayu hampir tersulut.
" Anjaniku, sayangku, aku bermaksud baik ingin menuruti kemauanmu. Jadi tolonglah mengerti, jangan sampai hanya karena makan siang kita jadi bertengkar. " Bayu mendengus pelan setelah menjelaskan dengan hati - hati.
" Ke warteg saja yuk! " Anjani tersenyum ingin melihat ekspresi Bayu. " Aduh sayang, di warteg tidak ada daging bakar. Ayam bakar bahkan ikan bakar saja belum tentu ada. " Bayu menepikan mobilnya menyalakan lampu hazard tanda darurat. Anjani tertawa terpingkal - pingkal.
" Sebenarnya kamu kenapa? " Bayu menoleh ke arah Anjani. Anjani menghentikan tawanya, " Tidak apa - apa, sudahlah. Ayo jalan, perutku sudah lapar. "
" Iya jalan kemana? " Bayu masih memperhatikan Anjani. Anjani hendak tertawa kembali tapi di urungkan.
__ADS_1
" Baiklah kita ke Barbeque. " Anjani menatap Bayu serius. " Oke, kita ke Barbeque. " Bayu mematikan lampu tanda darurat dan kembali melajukan mobilnya.
Sampai di halaman parkir Bayu dan Anjani keluar bersamaan dari mobil. Dinding kaca tembus pandang mempermudah mereka untuk melihat seberapa ramai orang di dalam sana.
Bayu yang berdiri di belakang Anjani memegang kedua pundak Anjani untuk berjalan masuk. Kepala Anjani tepat di dada bidang Bayu. Seorang pelayan membuka pintu untuk mereka. " Silahkan. "
Bayu dan Anjani mengangguk masuk. Seorang pelayan yang lain menyambut mereka di pintu masuk. " Untuk berapa orang Tuan ? " Posisi Bayu bertukar dihadapan Anjani. Bayu menggenggam satu tangan Anjani.
" Kami hanya berdua, tolong cari tempat yang private untuk kami. " Bayu memesan satu meja khusus untuk berdua.
" Silahkan. " Pelayan itu menunjukan tempat paling ujung dengan pemandangan dari dinding kaca sebuah taman dan gemericik air buatan. Ternyata bagian belakang tempat itu adalah taman buatan. Lengkap dengan kolam kecil berisi ikan koi.
" Kamu suka tempat ini? " Bayu menarik kursi untuk Anjani. Bayu sendiri duduk dihadapan Anjani. " Suka. " Anjani memperhatikan pemandangan di luar dinding kaca.
Berupa permainan dengan berbagai model untuk mengasah kemampuan anak - anak di sana. Setelah puas Mama Joice kembali ke apartement dan mengepak barang - barang. Karena setelah pernikahan Andrew besok. Malam hari Mama Joice dan Bayu sudah harus pulang.
Mama Bayu melihat liontin berbentuk hati yang terpasang di sebuah kalung yang dulu nenek Bayu berikan untuknya.
Rencananya besok, Mama Joice ingin memberikannya kepada Anjani. Mama Joice menyimpannya rapi dan meletakkannya di meja rias.
Anjani dan Bayu selesai dengan makan siangnya. " Anjani, besok setelah pesta pernikahan Andrew dan Rheia. Aku dan Mama akan pulang. Aku harap kamu mampu menjaga dirimu dengan baik. Sampai nanti aku menjemputmu atau menemanimu disini. "
Ada kesedihan di hati Anjani, rasanya masih belum puas Anjani menghabiskan waktu bersama Bayu. Tapi foto perempuan kemarin membuatnya kuat untuk melepas Bayu.
" Kamu juga jaga diri kamu baik - baik disana. Dan jangan lupa jaga wanitamu di foto itu. " Anjani mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
" Baiklah, ada yang ingin kuceritakan. Foto perempuan di dekat meja kamarku. Dia adalah Catherine. " Bayu menghentikan sejenak ceritanya.
" Catherine, nama yang bagus. " Anjani menyahut cerita Bayu. " Biar aku selesaikan ceritaku. " Bayu menatap Anjani. Sementara Anjani menatap gemericik air.
" Dulu kami satu kampus, kami sangat dekat. Dia adalah sahabatku, tanpa terasa aku ingin lebih dari persahabatan kami. Aku tidak berani mengungkapkannya. Aku pikir dia paham, ternyata tidak." Bayu menghentikan sejenak ceritanya setelah seorang pelayan mendekat dan mengambil beberapa piring kosong di meja Anjani dan Bayu.
Bayu memesan lagi dua minuman dingin, untuk dirinya dan Anjani serta meminta bill pembayaran. " Lalu setelah wisuda dia menerima lamaran kakak tingkat kami. Jadi sebenarnya mereka sudah pacaran tanpa sepengetahuanku. Aku sedih, belum lagi Papa meninggal. Aku benar - benar patah hati dan terluka saat itu."
Pelayan tadi meletakkan dua minuman dingin pesanan Bayu dan menyerahkan bill kepada Bayu diatas nampan kayu berukuran kecil. Bayu meletakkan kartu kreditnya. " Tanda tangan. " Pelayan pun mengangguk dan menggesek kartu kredit Bayu. Lalu kembali untuk meminta tanda tangan Bayu dan mengembalikan kartu Bayu.
Bayu menanda tangani kertas pembayaran. Setelah pelayan itu pergi, Bayu melanjutkan ceritanya. " Sampai dimana tadi aku bercerita ? "
" Tanda tangan. " Jawab Anjani singkat. " Kok tanda tangan sih? " Bayu menatap Anjani. Anjani tertawa pelan, " Sampai Papamu meninggal." Bayu menatap ke taman. " Dari situ aku menyibukkan diriku untuk mengelola perusahaan. Sampai akhirnya aku bertemu dirimu. Aku beranikan diri untuk mengungkapkan perasaanku. Dan foto itu, bahkan aku sendiri lupa kalau masih ada disana. Tapi tenang saja. Sudah kubuang ke tempat sampah semalam."
" Bagaimana dengan hatimu? Apakah kamu membuangnya darisana juga? Atau aku juga sama seperti perusahaan yang kamu kelola, hanya sebatas pengalihanmu saja? " Anjani menatap Bayu.
" Kamu boleh ragu dengan apa yang aku ucapkan. Karena aku tidak yakin bisa membuatmu percaya. Tapi yang jelas, perempuan yang aku bawa ke hadapan Mama untuk aku perkenalkan secara khusus. Bahkan membawanya untuk mengenal lebih dekat satu sama lain. Itu hanya dirimu. " Bayu meminum minuman dingin di hadapannya.
" Catherine? " Tanya Anjani. " Aku kuliah di kota lain, dan tidak pernah mengajak Catherine untuk bertemu Mama. " Bayu menghabiskan minumannya.
***
Terimakasih Readers sudah setia menunggu cerita ini update. Karya author yang lain adalah " Pesan Dalam Luka. " Silahkan bagi yang ingin membaca ceritanya.
Jangan lupa tinggalkan komen, like, dan vote nya. Terimakasih 🙏🏼.
__ADS_1