
Bayu menuju kamar pribadinya setelah Mamanya masuk ke kamar.
Di dalam kamar Bayu membersihkan dirinya lalu merebahkan dirinya diatas kasur. Sedari tadi dia belum sempat mengecek ponselnya.
Banyak sekali pesan masuk berkaitan dengan pekerjaan. Bayu menggeser turun nama - nama pemilik pesan. Sampai muncul satu nama yang ia rindukan, Anjani. Bayu tersenyum membaca pesan Anjani.
Di balas nya pesan dari Anjani, " Maaf, beberapa hari ini aku sangat sibuk. Sampai aku lupa memberitahumu kalau aku merindukan mu. "
Satu pesan masuk di ponsel Anjani, Anjani yang sudah terlelap sudah tidak menghiraukan lagi pesan yang masuk di ponselnya.
Mungkin dia sudah tidur. Bersabarlah, besok kita akan bertemu. Gumam Bayu.
Bayu memejamkan matanya, meskipun mitos menyebutkan minum kopi sebelum tidur membuatmu tidak bisa tidur. Ternyata tidak berlaku bagi Bayu. Lelah sepanjang perjalanan panjang membuatnya cepat sekali terlelap.
Pagi hari pukul enam Mama Joice memanggil seorang kapster profesional dari salon langganannya untuk datang ke apartement. Suara hair dryer berhasil membangunkan Bayu yang kala itu masih terlelap.
Bayu mengerjapkan mata kemudian turun dari ranjang nya membuka pintu kamarnya perlahan. Seorang kapster dengan cekatan mendandani rambut Mama Joice dengan bentuk sanggul modern setelah selesai dengan make up nya.
" Pagi Ma. " Bayu menyapa Mamanya. Kapster salon yang sedang menata rambut Mama Joice menoleh ke arah Bayu. Dia memperhatikan, paras tampan Bayu.
" Pagi, Nak. Mama sudah membuatkan sarapan untukmu. Kalau mau hangat, kamu bisa menaruhnya kembali di microwave. Mama sudah membuatkan sejak tadi. Mungkin sudah dingin. " Mama Joice kembali memperhatikan cermin di depannya.
" Mama mau kemana ? Cantik sekali sepagi ini. " Bayu memasukkan makanan ke microwave sambil menggoda Mamanya.
" Jangan menggoda Mama, atau kamu akan tahu akibatnya. Hehe.. " Mama Joice membalas candaan Bayu.
Bayu mengambil makanan setelah bunyi Ting dari microwave. Dan memasukkan kopi yang sudah dibuatkan Mamanya agar hangat kembali.
Bayu sedikit menggigit sandwich isi salmon dan sayuran lalu menambahkan mayonaise di dalamnya. Lalu kembali menikmatinya.
Microwave kembali berbunyi artinya kopi Bayu sudah hangat. Bayu membuka microwave mengambil kain tahan panas baru mengambil cangkir kopinya.
" Waw, buatan Mama memang yang terbaik. " Bayu menghirup aroma kopinya sebentar lalu membiarkannya sebentar. Agar tidak terlalu panas.
" Kopi yang tadi dingin di panasin di microwave lalu dia menunggu dingin sebentar. Hehehe.. " Mama Joice tertawa.
__ADS_1
" Karena tadi terlalu dingin, Bayu ingin lebih panas sedikit. Dan ini terlalu panas, Bayu dinginkan lagi. " Bayu menjelaskan.
" Apa itu artinya Bay? " Pertanyaan Mama Joice menghentikan aktivitas Bayu yang masih menikmati sisa sandwich di mulutnya suapan terakhir.
" Manusia tidak pernah puas. " Jawab Bayu sambil berlalu masuk ke kamarnya. Untuk menghindari Mamanya berbicara lebih banyak lagi.
Bayu segera mandi dan menggunakan setelan jas serapi mungkin. Ditambah sepatu pantovel yang mengkilap.
Bayu berkaca memperhatikan penampilannya. Setelah rapi, Bayu keluar dari kamarnya.
Kapster itu selesai mendandani Mama Joice. Dia undur diri setelah semua pekerjaannya selesai.
Mama Joice sudah bersiap untuk berangkat, Mama Joice dan Bayu meninggalkan apartement mereka menggunakan sopir pribadi yaitu Paman Jo. Jalanan lumayan sepi karena hari itu hari libur akhir pekan.
Anjani yang sudah bangun dan baru saja selesai mandi segera kerumah Rheia karena dia akan di make up disana.
Papa Reihan hanya mengantarkan sampai ke depan pelataran rumah Rheia dan meninggalkan Anjani disana. Ada rekan bisnis Papa Reihan yang meminta untuk bertemu hari itu. Rheia masih dalam proses make up.
Anjani segera duduk disamping Rheia untuk di make up. " Kamu diantar siapa? " Rheia menatap Anjani di kaca rias karena masih belum bisa menoleh saat di make up.
Bayu terlebih dulu kerumah Andrew untuk membantu membawa barang - barang yang dibawa untuk Rheia. Nenek Rheia dari Mama Rose adalah orang Jawa.
Mama Rose menginginkan pertunangan mirip adat Jawa seperti seserahan seperangkat barang - barang yang dipakai wanita dari ujung kaki hingga ujung rambut.
Mobil Bayu telah sampai di kediaman Andrew. Mama Joice turun dari mobil dan berjalan menuju kedalam rumah di ikuti Bayu di belakangnya.
" Wah, terimakasih sudah mau repot - repot datang ke acara pertunangan anakku Andrew. " Tante Rose menghampiri Mama Joice untuk bersalaman.
" Lama kita tidak bertemu. " Mama Joice menjabat tangan Tante Rose kemudian memeluknya sebentar.
" Bayu kedalam sebentar ya Ma? " Bayu meninggalkan mereka yang tengah asik mengobrol.
" Bagaimana, kamu siap ? " Bayu meninju pelan pundak Andrew. " Ehm, lumayan. Sedikit gugup. Namanya juga baru pertama. " Andrew mencoba bercanda.
" Hushh.. Sembarangan. Memang mau berapa kali? " Papanya datang menghampiri Andrew. " Wah, kalau kita tanya ke Rheia. Kira - kira seperti apa reaksinya? " Bayu menaikkan satu alisnya.
__ADS_1
" Enggak lah, ini kan bercanda. Ini yang pertama dan terakhir. " Jawab Andrew yakin.
" Oke, semua sudah siap? Kita berangkat sekarang. Barang - barang cek semua." Teriakan dari salah satu Wedding Organizer yang Andrew sewa membuat masing - masing sibuk dengan tanggungjawab barang bawaan mereka seserahan untuk Rheia.
Rombongan Rheia terlebih dahulu sampai di tempat acara. Wedding Organizer yang mereka sewa sedang briefing untuk berjalannya acara.
" Aku sedikit gugup. " Rheia memegang tangan Anjani. " Tangan kamu dingin. " Anjani menenangkan Rheia mengusap - usap lengannya.
" Putriku cantik sekali bukan? " Paman George memandang Rheia. " Tentu saja, dia anakku juga. Anak kita." Tante Maria, Mama dari Rheia memegang lengan suaminya. Mereka bertiga berpelukan sebentar.
Terdengar teriakan dari luar rombongan pria sudah datang. " Semua mempersiapkan posisi. Bagi yang mendapat tugas menerima barang - barang dari pihak pria boleh menempatkan diri."
Di gerbang sebelum masuk ada pihak dari keluarga Andrew yang meminta izin untuk melamar pihak perempuan. Basa - basi singkat lalu dari pihak Rheia juga ada yang menerima lamaran tersebut kemudian mengucapkan sepatah dua patah kata.
Satu per satu dari pihak keluarga Andrew menyerahkan barang - barang kepada pihak keluarga Rheia. Dan yang terakhir sepasang mata yang Anjani kenal. " Bayu. " Suara Anjani pelan, Bayu memperhatikan Anjani.
" Kamu apa kabar? " Suara Bayu menyadarkan Anjani. " A.. aku baik. " Anjani sedikit gugup. Anjani meletakkan barang ke tempat yang sama dengan barang - barang yang lain yang sudah tersusun rapi.
Bayu mengikuti kemana Anjani pergi hingga lupa ada Mama Joice bersamanya. Mama Joice berjalan mengikuti Bayu.
" Ehemm.. " Bayu menoleh ke belakang, lalu menepuk jidatnya sendiri pelan. Waduh, sampe lupa kalau ada Mama disini. Gumam Bayu.
" Ehm, Anjani. Ini Mama ku yang pernah aku ceritakan ke kamu."
Anjani menoleh ke belakang, " Oh Tante, saya Anjani Tante. Saya sahabat Rheia. " Mama Joice tersenyum, " Saya Joice, Mamanya Bayu. "
" Tante kapan datang ? Bayu tidak bicara apa - apa jadi Anjani tidak tahu kalau Tante akan hadir. Kalau Anjani tahu, mungkin Anjani akan berkunjung ke tempat Tante. " Anjani terlihat segan dengan Mama Joice.
.....
Hai Readers, terimakasih sudah setia menunggu kelanjutan kisah Tentang Cinta dan Samudera.
Ditunggu Boom Like and Komen nya.
Sebagai support untuk saya 🙏🏼.
__ADS_1