Tentang Cinta Dan Samudra

Tentang Cinta Dan Samudra
Ingin Menjelaskan


__ADS_3

Anjani yang masih belum ingin berbicara kepada Bayu untuk saat ini hanya mengamati layar handphone nya.


Bayu rasanya ingin kembali kerumah Anjani dan menjelaskan semuanya. Tapi malam sudah larut. Suara ketukan pintu terdengar, " Iya Ma. " Bayu membuka pintunya.


Mama Joice masuk, " Kamu sedang ada masalah? " Bayu hanya terdiam. " Itu Ma..." Mama Joice yang sudah mengenal dengan baik putranya segera menyahut, " Selesaikan masalahmu dengan tenang. Kalau kamu masih ragu dengan hatimu, kamu masih bisa mundur. "


Mama Joice hendak meninggalkan Bayu dan sudah berdiri diambang pintu, " Tapi Bayu benar - benar menyukai Anjani, Ma. "


" Mama tahu, yakinkan dia akan hal itu. " Mama Joice menutup pintu kamar Bayu dan kembali masuk ke kamarnya sendiri.


Kenapa aku tidak membuang foto Catherine sejak lama. Apakah aku masih menyimpan perasaan untuknya? Ah, rasanya sudah kubuang sejak lama. Karena saat ini yang ada di otakku hanya Anjani, Gumam Bayu.


Anjani merasa masih banyak yang tidak dia ketahui dari Bayu, dan rasanya tidak mungkin dia menanyakan ini kepada Andrew melalui Rheia. Saat ini Anjani hanya ingin menjaga hatinya sendiri. Mumpung masih belum terlalu dalam.


Semalaman Bayu tidak bisa memejamkan kedua matanya. Tubuhnya diatas tempat tidur tapi pikirannya melayang akan apa yang akan dilakukan besok ketika bertemu Anjani.


Pagi hari Mama Joice sudah menyiapkan sarapan untuk Bayu. Bayu yang semalaman hampir tidak tidur meminum kopinya dan membawa baju Anjani yang di laundry kemarin ingin segera bertemu Anjani.


" Jelaskan baik - baik kepadanya. Agar dia mengerti. " Mama Joice tidak mau terlalu ikut campur dalam urusan Bayu dan Anjani. Mama Joice ingin agar anaknya bersikap gentleman.


Bayu mengetuk pintu rumah Anjani. Kebetulan Papa Reihan membuka pintu, "Ada apa kamu datang sepagi ini?"


Papa Reihan mengajak Bayu masuk kedalam rumahnya dan duduk di ruang tamu. " Silahkan duduk. Mau minum apa? Kopi? Teh?"


" Tidak usah Pak Reihan, saya hanya ingin bertemu Anjani. Ada yang harus kami bicarakan." Papa Reihan menangkap kecemasan di raut wajah Bayu.


" Aku perhatikan kamu terlihat gelisah. " Papa Reihan hendak menginterogasi Bayu namun niatnya di urungkan. Menurut Papa Reihan, biarlah Anjani dan Bayu sendiri yang menyelesaikan urusan mereka.


Bayu mengirim pesan kepada Anjani, " Aku membawa baju mu. Temui aku di ruang tamu. " Papa Reihan mengetuk pintu kamar Anjani. " Anjani, ada Bayu ingin bertemu denganmu."


" Iya Pa, sebentar. " Anjani menyahut panggilan Papanya. Sebenarnya Anjani sangat malas untuk bertemu saat ini. Tapi Bayu akan segera kembali ke Miami. Maka dari itu Anjani tetap menemui Bayu.

__ADS_1


Anjani hanya membuka sedikit pintu kamar, " Anjani mandi sebentar. " Pintu ditutup kembali.


" Baiklah, saya tinggal dulu. Saya harus ke kantor. " Papa Reihan berangkat ke kantor.


Anjani sudah berpakaian rapi, menemui Bayu di ruang tamu. " Kamu kemari sepagi ini. Apa ada yang bisa ku bantu? "


" Aku hanya ingin menjelaskan tentang..... " Bayu yang sudah antusias ingin menjelaskan agar kelak tidak ada kesalah pahaman lagi, tiba - tiba dihentikan kalimatnya oleh Anjani.


" Aku mau buatkan kamu minum dulu. Kamu mau teh atau kopi? " Anjani beranjak dari tempat duduk. Menuju meja dapur.


Langkahnya dihentikan oleh tubuh tegap Bayu, " Bisa aku bicara sebentar saja. Setelah ini kamu boleh melakukan apa saja. "


" Nanti saja, duduklah dulu. Kamu adalah tamu dirumahku. Sudah sewajarnya aku menjamu tamuku. " Anjani melewati Bayu yang ada di hadapannya.


Bayu mengalah kemudian duduk kembali. Anjani masih menyeduh kopi. Handphone Bayu berbunyi, dari Andrew.


" Bay, mau fitting baju tidak ? Untuk mendampingiku nanti. Ajak Anjani sekalian bersamamu. Aku dan Rheia sudah selesai. Hanya tinggal keluarga yang belum. Nanti aku share lokasi butiknya. Kami sudah booking. " Andrew menunggu jawaban Bayu.


Bayu menghembuskan nafasnya pelan. " Baiklah, nanti aku akan ke sana bersama Anjani. "


" Siapa? Aku mendengar kamu menyebutkan namaku. " Anjani keluar dari dapur membawa satu cangkir kopi.


" Andrew, dia sudah memesan kita sebagai pendamping pengantin besok. " Anjani meletakkan kopi di meja depan Bayu, " Oh. Rheia sudah memberi tahuku. "


" Kalau begitu kamu sudah siap? " Bayu menebak. " Belum, aku belum sarapan. " Anjani tahu proses fitting biasanya lumayan lama. Apalagi butik ini terkenal. Jadi harus tepat waktu, karena setiap harinya sudah ada jadwal nama - nama customer yang akan datang dan jam - jamnya.


" Masih ada 45 menit. Aku akan membuat telur mata sapi untuk sarapan. Kamu sudah sarapan? " Bayu menggeleng. " Baiklah akan kubuatkan juga untukmu.


Keluarga Rheia dan Andrew sudah datang ke butik yang dimaksudkan. Mereka masih mencoba satu per satu untuk final. Karena beberapa hari lalu sudah sempat mengukur tubuh mereka di butik ini.


Selesai sarapan, Bayu dan Anjani segera meluncur ke butik. Andrew sempat mengirim lokasinya. Anjani yang waktu itu sudah diajak Rheia juga ikut menunjukan arah jalan.

__ADS_1


Saat Anjani dan Bayu datang, pelayan toko memberikan gaun yang di booking Rheia waktu itu untuk Anjani. " Darimana kalian tahu ukuranku? "


" Waktu datang bersama Nona Rheia, Nona Anjani juga kan sempat kami ukur . " Anjani baru ingat. Pantas saja sudah jadi. Gumam Anjani.


Bayu mencoba jas hingga ke sepatunya, kemudian melihat kearah cermin. Di arah yang berseberangan Anjani sedang bercermin.


Bayu memperhatikan pantulan bayangan di dalam cermin. Anjani masih memperhatikan cermin belum menoleh kearah Bayu.


Bayu perlahan - lahan mendekati Anjani dari belakang. Setelah dekat, jarak satu langkah di belakang Anjani. Bayu berhenti karena dari jaraknya berdiri, dia sudah bisa melihat jelas wajah ayu wanita di dalam cermin.


" Cantik. " Bayu berbicara pelan. Anjani melihat Bayu di belakangnya, kemudian memutar tubuhnya.


Tampan. Gumam Anjani.


" Apa? " Bayu melihat bibir Anjani bergerak tapi tidak bersuara. " Ehm, tidak apa - apa. " Anjani masih memperhatikan wajah Bayu.


Anjani dan Bayu sama - sama saling memperhatikan satu sama lain. Dari ujung rambut hingga ke ujung kaki, kemudian pandangan mereka naik lagi ke atas.


Mereka saling tersenyum, Bayu mendekat. " Kamu cantik. " Anjani diam dan hampir mengalihkan pandangannya karena malu.


Bayu dapat membacanya karena pipi Anjani berubah merah. " Kenapa? Kamu malu? " Anjani menggeleng, " Tidak. Bukan begitu. Maksudku terimakasih sudah memuji. "


Anjani segera memanggil pelayan hendak melepas gaunnya. Gaun polos berwarna hijau muda di tangan desainer yang berpengalaman berubah menjadi gaun polos yang anggun. Sedangkan Bayu mengenakan jas dengan warna serupa.


Bayu menahan Anjani, dan mengambil beberapa gambar. Bayu meminta salah seorang pegawai untuk mengambil gambarnya.


Setelah mendapatkan beberapa foto, Bayu melepas Anjani untuk pergi mengganti gaunnya. Bayu masih ingin mengambil beberapa foto dirinya saat sendirian.


Hallo Readers terimakasih atas kesediaannya menunggu 🙏🏼 . Maaf baru sempat update. Ada beberapa hal yang baru saja Author baca dari teman sesama Author.


Ada beberapa plagiat yang mempost cerita beberapa teman Author di aplikasi lain. Hanya mengganti nama dan foto saja. Cerita, alur, semua mirip bahkan sama.

__ADS_1


Semoga para pembaca disini hanya menikmati cerita. Dan menghargai karya orang lain 🙏🏼.


Terimakasih.


__ADS_2