
" Catherine? " Tanya Anjani. " Aku kuliah di kota lain, dan tidak pernah mengajak Catherine untuk bertemu Mama. " Bayu menghabiskan minumannya.
" Apakah masih ada yang ingin kamu ketahui? " Bayu mencondongkan tubuhnya ke arah Anjani.
" Apakah ada yang masih ingin kamu ceritakan lagi? " Anjani menatap Bayu.
" Nanti ada saatnya aku bercerita semuanya. " Bayu bangkit dari duduknya, " Ayo kita pulang. "
" Baiklah. Ayo. " Anjani ikut bangkit, dia akan menunggu saat itu. Saat Bayu mau menceritakan semuanya. Bayu berjalan di belakang Anjani. Mereka masuk kedalam mobil.
Sepanjang perjalanan Anjani tidak banyak berbicara, matanya lurus menatap kedepan. Terlalu banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan. Namun juga enggan untuk mengungkapkan.
Namanya juga perempuan, maunya dimengerti tanpa harus dia bertanya, lelaki harus bercerita dengan sendirinya. Bayu memutar musik untuk mengurangi kesenyapan di dalam mobil.
Lagu Brunno Mars mengalun, Just The Way You Are. Bayu melirik ke arah Anjani dan mengikuti alunan lagunya.
Anjani hanya sesekali melirik ke arah Bayu. Setelah lagu selesai, Anjani membuka suara " Apakah kamu akan menyayikan lagu itu kepada para wanitamu? "
" Maksudmu? " Bayu menautkan kedua alisnya. " Kamu pasti sudah paham maksudku. " Anjani membuang pandangannya ke arah samping.
" Oke, aku paham bahwa saat ini kamu masih marah sehingga masih banyak pikiran berkecamuk di dirimu. " Bayu fokus pada pandangannya kearah depan.
" Oh iya, bukannya kamu mau bertemu Papaku? Hanya sekedar ngobrol atau apalah? " Anjani menghadap Bayu.
" Kan sudah tadi pagi ketika menunggumu mandi. " Bayu menoleh sebentar ke arah Anjani kemudian kembali fokus pada kemudinya.
" Hanya itu? " Anjani masih tidak percaya Bayu hanya menemui ayahnya sebentar saja. " Lalu? " Bayu masih berpura - pura.
" Baiklah. " Anjani menghela nafasnya. " Besok Papamu akan datang kan? Disana nanti aku akan banyak berbicara kepada Papamu. Bagaimana menurutmu? " Anjani menjawab dengan ekspresi datarnya, " Baiklah. "
Mobil telah sampai di depan rumah Anjani. Anjani segera membuka sabuk pengamannya. " Ini bajumu yang basah. Sudah rapi pagi ini." Bayu mengambil baju Anjani yang sudah terlipat rapi di jok belakang.
__ADS_1
Semalam Bayu memesan instan laundry dari apartemennya untuk baju Anjani. Sehingga hari ini dia bisa menjadikan alasan untuk membawanya kerumah Anjani.
" Baiklah, terimakasih. " Anjani hendak membuka pintu mobil. " Tapi tangan Bayu menahannya. " Hanya itu? " Anjani melepaskan tangan Bayu. " Lalu? "
" Sedari tadi kamu hanya menjawab baiklah, baiklah, baiklah. Aku rasa dengan kamu bilang baiklah, bukan berarti baik - baik saja." Bayu memainkan jemarinya di kemudi.
" Jadi kamu mau aku jawab apa? " Anjani mulai kesal dengan Bayu. " Bagaimana kalau begini. " Sebuah kecupan mendarat di pipi Anjani.
Antara malu, tapi juga masih marah. Tanpa menjawab apa - apa Anjani keluar dari mobil. " Sampai jumpa besok. " Anjani menutup kembali pintu mobil. Dan segera berjalan menuju kerumahnya.
Bayu yang memperhatikan Anjani menarik sudut bibirnya. Dan memutar kemudi dan menuju ke apartemennya.
Sampai di lobby, satu panggilan masuk, " Pak Bayu, proses pengerjaan sudah akan dimulai. Izin dari pemerintah dan sebagainya sudah aman. " Bayu menghentikan langkahnya di depan lift. " Baguslah kalau begitu. Lanjutkan, aku percaya padamu. " Bayu menutup teleponnya. Dan menekan tombol naik.
Anjani masuk kedalam rumahnya, langsung berjalan masuk ke kamarnya. Anjani merebahkan dirinya diatas ranjang.
Bayu masuk ke apartemennya, " Melihat kamu tersenyum, Mama sudah mendapat jawabannya. " Mama Joice mendudukan dirinya di sofa. Setelah mengambil teh panas dari dapur.
" Mama sudah makan? " Bayu merebahkan dirinya disamping Mamanya. "Besok Mama harus berdandan secantik mungkin".
" Bukan Mama yang akan menjadi pengantin. Bukan Mama juga yang akan dilamar. Tapi kenapa harus Mama yang dandan secantik mungkin? " Mama Joice menggigit roti danish yang baru saja diambil setelah menyesap teh nya.
" Memang, Mama tidak berdandan besok? " Bayu meledek Mamanya. " Mama berdandan tapi biasa saja, sewajarnya. Tidak perlu secantik mungkin. " Mama Joice memperhatikan Bayu.
" Mama tahu kamu benar - benar sedang bahagia. " Bayu menatap Mamanya dan tersenyum. Lalu Bayu menceritakan kesalah pahaman antara dirinya dan Anjani.
Mama Joice mengangguk tanda mengerti dengan semua yang Bayu ceritakan, " Kalau kamu sudah mantab dengan hatimu. Segerakan niat baikmu. Jangan tunda lagi. "
----
Anjani baru saja keluar dari kamar mandi. Dan hendak mengeringkan rambutnya yang dibalut handuk kecil di kepalanya.
__ADS_1
Panggilan masuk dari Rheia, Anjani segera mengangkatnya. " Anjaniiiii.... " Suara Rheia bersorak membuat Anjani menjauhkan ponsel dari pendengarannya.
" Iya, kenapa Rheia? Teriakanmu mampu memecahkan gendang telingaku. " Rheia terdengar tertawa dengan jawaban Anjani.
" Rasanya aku tidak bisa tidur. Kamu temani aku begadang ya? " Rheia sangat bersemangat malam itu untuk menunggu esok pagi.
" Ou tidak terimakasih. Aku mau segera tidur agar besok wajahku segar di pesta pernikahanmu. " Anjani meloudspeaker suara Rheia dan segera menyalakan hair dryer untuk mengeringkan rambutnya.
" Ya ampun Anjani, berisik sekali disitu. " Anjani mematikan hair dryer sejenak lalu menjawab pertanyaan Rheia. " Aku sedang mengeringkan rambutku. Bersabarlah kalau ingin tetap bicara denganku. Sebentar lagi selesai. " Rheia akhirnya diam dan dengan sabar menunggu.
Anjani tertawa pelan, mau juga Rheia menunggu Anjani yang sebenarnya bisa dia lakukan nanti setelah Rheia selesai menelpon, baru dia keringkan rambutnya.
Anjani mendengar suara gelas dan sendok, " Sedang apa kamu? " Rheia menekan tombol air panasnya di dispenser. " Bikin susu coklat panas. Sambil nunggu kamu. "
Anjani akhirnya selesai mengeringkan rambutnya dan mematikan hair dryer. " Ya sudah, sekarang bicaralah. "
" Aku bahagia sekali Anjani, akhirnya besok aku menikah. " Anjani ikut berbahagia. " Iya, aku turut bahagia. Setidaknya tidak ada lagi yang akan merengek kepadaku, kalau dirumah dia kesepian. " Anjani menahan tawanya.
" Oh, jadi ini alasan sahabatku bahagia ketika aku menikah? " Rheia meminum susu coklat hangat yang telah diaduk.
" Oh iya, terus suka bawel kalau aku telat diajak pergi. " Anjani sudah tidak tahan lagi menahan tawanya, akhirnya tertawa lepas.
" Tertawa saja sepuasmu, nanti kamu akan merindukanku. Lihatlah nanti." Rheia membalas.
" Anjani, terimakasih sudah menjadi sahabat sekaligus kakak untukku. Menemaniku saat aku sendirian dan merasa kesepian. " Ucap Rheia yang tiba - tiba haru.
" Kamu salah minum kali tadi. Kok ngomongnya jadi aneh begini. " Anjani sempat dibuat heran karena Rheia yang suka bercanda dan periang tiba - tiba menjadi serius.
" Rheia, aku juga sama. Berterima kasih kepadamu karena menemaniku di saat - saat tersulit ketika Mamaku meninggal. " Anjani ikut terbawa perasaan.
" Sudahlah, namanya sahabat saling melengkapi jadi kita sama - sama membutuhkan. " Anjani mencoba menghibur Rheia. " Aku ikut bahagia besok kamu menjadi pengantin. Artinya ada yang menemani kesepianmu. Ada yang menemani hari - harimu. " Mata Anjani mulai berkaca - kaca hatinya haru.
__ADS_1