
Masing - masing keluarga, sahabat, dan kerabat dekat menempati kursi yang sudah disiapkan. MC segera memulai acara penyematan tukar cincin antara Andrew dan Rheia.
" Yes, I do. " Andrew bicara layaknya pengantin pria. " Belum sayang, bersabarlah. Ini masih tunangan. " Rheia memegang pelan pipi Andrew.
Setelah kedua cincin terpasang di jari masing - masing. Para hadirin berdiri dan bertepuk tangan. Bahkan Bayu meletakkan kedua jarinya kedalam mulutnya dan bersiul panjang. " Fiuwiiiiiit"...
Mama Joice yang ada di sebelah Bayu memegang lengan Bayu, " Jorok. " Bayu menghentikan siulannya, " Ya sudah sini, Bayu minta tissue basah. " Mama Joice mengambil tissue basah dari dalam tas nya. Anjani yang satu meja dengan mereka hanya tertawa pelan. Bayu mengelap kedua jarinya dengan tissue basah.
Selesai acara tukar cincin dilanjutkan berfoto bersama dari keluarga, rekan, dan sahabat. Yang sudah berfoto boleh mengambil makan siang. Karena suasana mendung siang itu para tamu dengan leluasa berlama - lama di taman. Andrew dan Rheia bak sangat serasi dengan gaun yang mereka pilih.
Mama Joice menggandeng Anjani kemanapun dia pergi dan tidak menghiraukan Bayu. Mereka berada di stand Asian Food " Mama mengambil makanan ini, kamu yang itu ya sayang? Nanti kita sama - sama coba. "
Anjani mengangguk, sejak di meja tadi mereka sibuk bicara berdua. Anjani yang sering datang ke perkampungan kumuh dan Mama Joice yang punya yayasan. Saling bertukar ide, Mama Joice kagum pada Anjani.
Anak seusia dia cantik, berpendidikan tinggi, tidak banyak yang masih perduli dengan orang lain. Mereka kebanyakan menghabiskan waktu di diskotik, ataupun cafe - cafe untuk nongkrong.
Anjani sendiri bilang, kalau dia juga sama seperti pemuda lainnya untuk ke cafe nongkrong sekali - sekali. Hanya saja dia bisa membagi waktunya untuk dirinya, keluarga, teman, juga orang lain.
Mama Joice mengapresiasi kejujuran Anjani. Maka dari itu setelahnya kemanapun Mama Joice berjalan, Anjani dibelakangnya. Anjani yang kehilangan Mamanya merasa nyaman dengan kehadiran Mama Joice.
Mereka duduk kembali ke meja setelah mengambil beberapa makanan yang tersaji. " Mama rindu masakan Indonesia. Hemm,, memang masakan negara kita paling juara. "
" Iya Tante, Asia memang the best nya masakan dan makanan. " Anjani melebarkan lingkup pandangannya. Karena dia penggemar makanan Asian Food.
" Iya Anjani kamu benar. Kamu pernah cobain rujak ala Thailand? Itu seger dan enak menurut Mama. " Mama Joice mulai menyuap daging berbumbu coklat mirip semur. Tadi di stand itu ditulis Rawon Jawa Timur.
__ADS_1
" Ini enak, Mama tambah pake tauge sedikit. Anjani cobain. " Mama Joice menyodorkan sendok yang sudah berisi potongan daging dan sedikit tauge. Anjani melihat Mama Joice, Mama Joice mengangguk. Anjani menerima suapan dari Mama Joice. Matanya mulai berkaca - kaca.
" Kenapa? Kepedesan ya? Padahal Mama ga masukin sambel lho. Ato tersedak, pelan - pelan makanya sayang. " Mama Joice mengelus - elus punggung Anjani.
Aku merindukan Mama ya Tuhan. Gumam Anjani.
Bayu yang sedang mengobrol bersama Rheia dan Andrew mengamati mereka dari jauh meneguk sampagne yang disediakan.
Andrew melihat kearah Bayu menatap, " Sukses ya Bro, aku yakin kamu bisa bersama Anjani." Bayu menoleh ke arah Andrew, " Thank's ya udah kenalin dia ke aku. "
" Aku yang kenalin. Bukan Andrew. " Rheia tidak mau kalah. " Rheia sayang, kan aku yang punya ide. " Andrew tidak mau kalah. " Anjani sahabat siapa? " Rheia kembali bertanya.
Bayu menepuk pundak Andrew, " Woman always right. " Lalu Bayu berlalu pergi meninggalkan Rheia dan Andrew yang masih belum selesai berdebat untuk menghampiri Mamanya dan Anjani.
" Mama makan apa? " Sapaan Bayu menghentikan aktivitas Mama Rose dan Anjani. Keduanya menoleh kepada Bayu. Bayu berdiri di hadapan Anjani karena meja ada di tengah - tengah mereka.
" Bayu ga mau, kalau Anjani yang suapin baru Bayu mau. " Bayu mengerlingkan satu matanya ke arah Anjani. Anjani menatap Bayu antara mau marah ke Bayu tapi juga malu ada Mama Rose. " Apaan sih Bayu? "
" Mama, boleh tidak Anjani menjadi pacar Bayu? " Bayu terang - terangan di depan Mamanya. " Kalau Mama pasti memberimu izin. Karena menurut Mama Anjani anak yang baik, dari kami ngobrol sejak tadi dan juga naluri seorang ibu. Mama setuju." Mama Rose menoleh kearah Anjani.
" Bagaimana Anjani? Mama sudah setuju, sekarang aku cuma perlu jawaban kamu. Karena keputusan ada di tangan kamu. " Bayu menatap Anjani.
" Harus sekarang? " Anjani malu terlihat pipinya memerah. Mama Joice mengangguk, " Jawablah Nak, biar Mama juga tidak sia - sia ikut sampai kemari. " Anjani mengangguk pelan.
" Baiklah, aku setuju. " Anjani masih menundukkan pandangannya. Seharusnya Bayu senang dengan jawaban ini. Namun Bayu ingin sedikit menggoda Anjani, " Jangan deh, Ma. Sepertinya Anjani terpaksa. Aku tidak mau memaksa dia. "
__ADS_1
" Sudahlah Bayu, jangan menggodanya. Kamu tidak lihat itu pipinya sudah semu merah. Mama tahu, kamu cuma ingin menggoda Anjani saja." Mama Joice memeluk Anjani.
" Sini Mama peluk, biarkan saja. Bayu memang suka begitu." Bayu tertawa melihat pemandangan ini. " Pipi Anjani merah mungkin karena blush on nya terlalu tebal." Anjani melotot dengan candaan Bayu. " Sudahlah Bayu. Hentikan. " Mama Joice menghentikan putranya yang terkadang keluar usilnya.
Bayu menarik kursi kosong disamping Anjani. Sejak tadi dia berdiri di seberang meja agar lebih puas melihat ekspresi Anjani di hadapannya berbatas meja.
" Ehm, jadi sekarang kita pacaran? " Bayu menggenggam tangan Anjani. Anjani mengangguk pelan. " Iyes, Andrew aku pacaran. " Bayu berteriak ke arah Andrew.
Andrew hanya mengacungkan jempol dari jauh karena sedang sibuk berbicara dengan kerabatnya yang lain. Rheia tersenyum kearah Anjani. Anjani yang sadar diperhatikan Rheia membalas senyumannya.
" Ehm, Mama mau mengucapkan selamat ke Andrew dan Rheia dulu. Kalian bicaralah berdua dulu. " Mama Joice bangkit dari duduknya. " Ma, tadi kan sudah sewaktu foto. " Bayu sempat menahan pundak Mamanya sebelum berdiri.
Namun usahanya sia - sia karena Mama tetap ingin berdiri, " Ada yang Mama lupa mau sampaikan ke Rheia. Sudahlah, Mama cuma sebentar. "
Anjani akhirnya berkesempatan memukul - mukul lengan Bayu pelan. Sehingga melepaskan tangannya yang digenggam Bayu " Kamu jahat banget sih, ga punya perasaan kalau aku malu karena ada Mama kamu. "
Bayu tertawa lepas, " Ya memang kenapa? Aku gentle donk. Nembak kamu di depan Mama. Artinya aku serius sama kamu. Ga main - main doank kalau Mama sudah tahu begini."
Anjani berpikir sejenak, " Iya sih. Tapi tetap saja aku malu." Bayu mengambil makanan dan menaruhnya ke dalam piring kecil di hadapannya. " Sudahlah jangan malu - malu, aku lapar. "
Bayu menyuap makanannya. " Aku benar - benar tidak bisa mengerti kamu. Kamu hilang selama beberapa hari tanpa kabar dan sekarang tiba - tiba hadir di sini bersama Mama kamu. " Anjani menyandarkan tubuhnya di kursi dan menyilangkan kedua tangannya.
" Kan surprise. Masak gitu aja ga ngerti sih, ngambeg lagi. " Bayu masih sibuk dengan makanannya.
........
__ADS_1
Hallo Readers terimakasih untuk like, komen, juga vote nya 🙏🏼