
Prov Andre
Tlah lama sudah kita tak bertemu tak pernah kudengar berita tentangmu apa kabar kamu sayang apa kabar kamu sayang di sana
Nada dering ponselku sangat begitu nyaring terdengar di telinga, aku hanya melihat sekilas ke layar ponsel yang masih menyala untuk memastikan siapa sang penelpon tersebut, setelah aku memastikan dan mengetahui siapa si penelpon yang sudah mengganggu kesibukanku, aku yang tadinya ingin marah dan mengumpatnya tiba-tiba niat itu aku urungkan dan langsung mengubahnya dengan senyum lebar yang mengembang di wajahku, aku sungguh tidak menyangka klau wanita yang ku anggap gunung es itu barusan menelepon, ternyata dia tau caranya untuk menghubungiku terlebih dahulu.
" Mungkin dia juga sudah merindukanku " pikirku masih dengan senyum yang mereka sambil kegeeran
Namun kali ini aku mengabaikan panggilan itu yang berhenti dengan sendirinya, sebab aku benar-benar sedang di sibukkan dengan menawarkan produk yang aku jual kepada konsumen, aku tidak ingin konsumen yang susah aku dapat lepas dari tangan, sampai pada dering ke tiga kalinya konsumen itu sendiri yang menyuruhku untuk mengangkat panggilan telepon tersebut.
" Angkat ajha dulu mas mungkin ada hal penting yang mau di sampaikan saya juga mau ke belakang sebentar selesai masnya nelpon saya balik lagi" pintanya yang akan berlalu dari hadapanku
" owh iya kak, maaf mengganggu bentar " jawabku sungkan yang di balas anggukan kepala dari mbak konsumen ku.
Aku mengangkat panggilan tersebut yang sudah beberapa kali berdering, aku bahkan tidak pernah sekalipun menerima panggilan darinya jika bukan aku yang memulai lebih dahulu, aku yang baru mendapatkan panggilan tersebut di siang bolong jelas saja aku sedikit terheran, apa yang membuat hati si gunung es itu tiba-tiba meleleh.
__ADS_1
" Siang sayang, tumben jam segini nelpon ? Jangan kan telepon sekedar SMS ajha gak pernah klau bukan aku yang memulai duluan. Ucapku memulai percakapan
" Ndre sepulang kerja kamu mampir ke tempat aku ya, ada yang perlu aku omongin sangat penting, aku pulang jam delapan ingat untuk mampir" Kat si gunung es dari seberang sana
Pikirku es yang membeku selama ini sudah meleleh ternya belum juga, nasib gini amat punya pacar berhati dingin.
" okay siap tuan putri " entah sampai kapan aku akan bisa meluluhkan hati yang beku itu
" ya dah aku lanjut kerja dulu biar gak numpuk nanti " ucapnya lagi selain dingin dia gak se manja mantanku yang banyak maunya
Memikirkannya dengan tatapan yang menghunus sudah membuatku mati kutu, aku tak bisa berbuat apa-apa, dia sangat tegas jangankan dengan ku dengan rekat kerjanya saja dia akan sangat terlihat keras, pernah sekali terjadi partner kerjanya lalai melakukan tugas tanpa segan Dewi langsung memarahinya tanpa ampun, Dewi yang memang seorang perfeksionis dia tidak akan membiarkan dirinya atau rekan kerjanya mengabaikan pekerjaan, Dewi akan selalu mengerjakan sesuai dengan sempurna di bawa instruksi atasannya.
Hari ini kami pulang agak awal dari biasanya, di karenakan yang closing hanya ada aku dan juga salah satu dari rekan kerja yang menjadi sainganku di lapangan dalam mencari konsumen, yang kebetulan masing-masing di dari kami mengeluarkan tiga produk yang harganya lomayan mahal, dan akan di antar malam nanti ke tempat konsumen kami, tentu pengajuannya sudah di ACC secara langsung oleh spv langsung yang turun ke lapangan.
_______
__ADS_1
Sebelum pukul delapan aku sudah berada di halaman basemen tempat pacarku bekerja, masih ada tiga puluh menit lagi untuk si gunung es itu keluar dari pintu basemen yang ada di hadapanku ini, untuk menepis rasa jenuhku aku pun memainkan ponselku sambil menunggu pacar gunung es ku tiba.
Saking asyiknya aku memainkan game yang sedang booming saat ini, sampai aku tidak menyadari kehadirannya yang kini telah berada di sampingku.
" Udah lama kah yang ?" tanyanya singkat pertanyaan apa itu, eh tapi tunggu dulu kata terakhir yang aku dengar barusan gak salah kan ? Itu kata keramat yang jarang sekali di ucapkan olehnya, dan aku pun jarang mendengarkan kata-kata itu, sungguh kata yang keramat terdengar membuat bulu kudukku merinding ngeri.
Aku yang serius dalam permainan sontak saja kaget di buatnya dengan pertanyaan tanpa menyelesaikan game ku terlebih dahulu aku langsung mematikan ponselku.
" Ini pasti ada maunya klau udah pakai kata yang " gumamku di hati, yang membuatnya menatapku tajam.
" u-udah setengah jam yang lalu tapi gapapa " jawabku yang menetralkan ekspresi terkejut kala melihat tatapan maut itu.
" ayok kita ngobrol sambil jalan santai" ajaknya yang langsung melangkah terlebih dahulu
Jika kebanyakan wanita akan terlihat anggun berbeda dengan Dewi yang terlihat dingin tak bisa di sentuh, bagaikan mawar yang di jika pandang sangatlah indah, tapi tak dapat di sentuh karena keberadaan dan ketajaman durinya.
__ADS_1
sepanjang perjalanan menuju kostan nya, dia menceritakan semua kejadian yang di alaminya sewaktu kedatangan mama dan juga ie ie ku mama dari salsa sudah pasti itu, mendengar dari penuturannya saja aku sudah mengetahui jika itu ie ie ku yang di Pasundan, ya memang hanya ie ie itu yang slalu terlihat angkuh kala berhadapan dengan siapa saja tidak seperti saudara mama yang lainnya, aku sungguh kesal mendengar penuturan dari Dewi, aku takut dia akan berubah pikiran dan pergi meninggalkan aku.
Aku kembali menguatkannya mengatakan klau apa yang di katakan oleh mama dan juga ie ie ku itu hanyalah ancaman semata, dan tidak akan pernah ter realisasi, mama gak segampang itu untuk mengeluarkan duit yang dengan susah paya mama mencarinya, dan untuk ie ie pasti dia hanya ingin yang terbaik untuk putrinya yang akan di jodohkan nya dengan ku kelak, aku sudah memutuskan sejak jauh hari akan tinggal di luar aku ingin menjaga Dewi dari ancaman keluargaku aku tidak ingin dia mengalami hal yang buruk dari keluarga besar ku, aku tau itu hanya ancaman tapi bukan tidak mungkin mereka benar akan mencelakai Dewi nantinya, akan aku lakukan apa pun untuk melindungi wanitaku, walaupun kelak harus di buang dari keluarga aku tidak mengapa, bukan aku ingin menjadi anak durhaka tapi untuk meraih ke bahagian ku, aku akan melakukan apa pun itu walau pun melawan kehendak keluarga besar aku tak peduli.