
Prov Andre
Selesai berkeliling di pasar malam berburu bahan masakan tidak lupa pula kami berdua mampir di kedai nasi goreng, kami memesan nasi goreng sembari menunggu pesanan aku bercanda gurau dengan gunung es ku, susah paya aku membuat lelucon agar bisa melihat tawanya tapi emang dasarnya gunung es bukanya tawa malah tatapan datar yang aku terima, beda banget sewaktu kami masih LDR an dia yang selalu terlebih dahulu mengirim pesan dan telpon, entah kemana perginya sosok itu, jika lewat telpon akan terdengar suara gelak tawa bahkan candaan, dan jika lewat pesan singkat akan banyak pertanyaan klau aku belum sempat membalas pesan darinya, perubahan ini terjadi tepatnya di saat kejadian aku ketahuan masih berhubungan dengan mantan ku yang melibatkan dia sebagai pelarian ku, setelah menunggu lama akhirnya nasi goreng pesanan kami sudah selesai di buat dan kini aku tinggal membayarnya saja, aku memberikan uang lembaran lima puluh ribu kepada si pemilik kedai dan mengambil uang kembaliannya, setelahnya kami gegas berlalu meninggalkan kedai tersebut.
Di perjalan pulang tiba-tiba ponselku berdering aku mendapat telpon dari ie ie ku, ku tatap layar ponsel tersebut, ingin rasanya ku abaikan tapi aku berfikir lagi mungkin saja ada hal penting yang akan di sampaikan olehnya, tanpa berfikir lebih lama lagi ku usah layar ponsel yang berlogo hijau tanda aku telah menerima telepon, belum sempat aku berkata dari seberang sana terdengar ie ie ku sedang mencecar ku dengan kata-kata yang menyakitkan di indra pendengaran, bahkan sampai wanitaku pun ikut kena Mak* an nya, sungguh miris perilakunya aku tak habis pikir dia yang mempunyai pendidikan tinggi tidak menjamin berperilaku baik, tanpa menyadari aku telah mengaktifkan loudspeaker sedari tadi perkataan buruk yang di ucapkan oleh ie ie ternyata semua di dengan oleh Yuli dengan sangat jelas, aku melirik ke arahnya dengan perasaan bersalah, nampak sangat jelas terlihat dari wajahnya ada raut kesedihan, aku tidak ingin Yuli mendengar lebih lama lagi akan makian dari ie ie lekas ku matikan panggilan telepon tersebut secara sepihak dan kini suara ie ie tak terdengar lagi, aku menggenggam jemari lentiknya untuk menguatkannya agar dia tidak patah semangat, tidak lupa juga aku mewakili ie ie untuk meminta maaf padanya atas perkataan yang barusan ie ie ucapkan, gunung es ku hanya merespon dengan anggukan kepala.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan pulang kami hanyut dalam pikiran masing-masing, tidak ada dari kami yang berbicara, kini yang terdengar hanya bisingnya suara kendaraan dan dinginnya angin malam, hingga aku mendengar perkataan dari Yuli yang menyuruh ku untuk kembali ke tempat mama, entah jin apa yang sudah menghasutnya sampai dia menyuruhku untuk pulang, apa gunung es itu tidak pernah berpikir klau keberadaan ku saat ini karena dia, apa dia tidak pernah menganggap pengorbananku ? Sikap tulus ku selama ini terhadapnya tidak berarti apa-apa, segitu tidak berartinya aku di hadapannya ( mulai lebay juga aku nih hedeh ) aku rela mengambil resiko sampai sejauh ini, keluar dari rumah hanya untuk menjaganya dari ancaman keluargaku yang mungkin sewaktu-waktu akan membahayakan dirinya, aku hanya diam membisu ingin marah tapi aku masih dalam keadaan sadar, sadar klau sampai aku menghadapinya dengan luapan emosi sudah jelas tidak akan pernah menemukan titik terang dan hanya akan menimbulkan masalah baru, aku menghirup udah yang sangat banyak dari hidung dan menghembusnya perlahan dari mulut, setelah kurasa sudah mulai tenang, barulah aku mengatakan klau aku tidak akan pernah pulang jika harus di paksa pun dan klau pun aku kembali itu karena ada sesuatu milikku yang belum sempat aku ambil, jika sampai dia yang memaksa untuk pergi maka aku akan melakukan segala cara untuk menenangkan pikiran, walau pun dengan menggunakan barang har*m sekalipun aku akan tetap melakukan hal tersebut, Yuli yang mendengar perkataanku barusan terlihat dari raut wajahnya dia sangat kaget, aku bukan ingin mengancam tapi itu yang akan terjadi nantinya.
______
Hari berganti Minggu, aku kembali ke rumah mama bukan tanpa sebab, ada barang milikku yang ingin aku ambil, keluarga mama yang mendengar kepulanganku tak menunggu lama langsung berdatangan menyambangi kediamanku mulai dari Kaka juga adik dari mama tidak ketinggalan Koko dan juga mei mei yang akan di jodohkan denganku pun turut mendatangi rumah ini, sangat malas jika harus berhadapan dengan mereka semua sudah pasti yang akan mereka bahas nanti tentu tentang Yuli pacar ku.
__ADS_1
" D*sar anak gak tau d*ri kamu, demi perempuan misk*n itu kamu mau jadi anak dur**ka Di ? Kalau dia butuh uang tinggal kamu bayar ajha, toh yang namanya pe** c*r gak jauh dari kata duit" cibirnya dengan sinis, aku sungguh tidak terima dengan Koko yang menyebut gunung es ku pe**c*ur, jangankan untuk mengajaknya yang aneh-aneh sekedar ci**an saja aku tidak pernah.
" Koko jangan sembarang ngomong, dan Koko harus ingat wanita yang Koko kenal di luaran sana dengan dia itu beda, dia mungkin miskin harta tapi tidak dengan harga diri, apa jangan-jangan Koko suka pesan p*k ya ko? Tanyaku yang mendapat tatapan tajam dari koko ku itu.
" Napa ko? Benar kan yang aku bilang barusan ?" ucapku lagi yang membuat lelaki berusia kepala tiga tersebut langsung melayangkan pukulan kearah ku, sontak aku menghindar agar tidak terkena bogem mentah darinya, tidak sampai di situ ia kembali ingin menghajar ku, aku terus berusaha menghindar dan memberi perlawanan yang membuat Koko semakin meradang, situasi di ruangan ini semakin tak terkendali mama beserta para saudaranya berteriak histeris, sedangan anak gadis ie ie mencoba menengahi kami yang mendapatkan dorongan dariku, hal itu membuatnya terjatuh kelantai, tak ku pedulikan wanita itu jika yang jatuh Yuli aku akan langsung membantunya berbeda dengan wanita yang kini terduduk di atas lantai tersebut aku hanya membiarkan nya kesakitan dan melanjutkan aksiku yang melawan serangan dari Koko, papa dari Koko datang menghentikan kami dengan menampar Koko dan juga aku, aksi kami terhenti seketika kala mendapatkan lima jari di pipi.
__ADS_1
" Kalian ini apa-apaan hah? Kalian pikir yang kalian lakukan sudah benar, kamu apa kamu gak kasihan sama mama Van ? Dan kamu juga Di kamu sudah buat salsa jatuh kelantai dan kamu gak menolongnya ? Kalian berdua sama saja, hanya bikin malu dan beban keluarga, apa lagi kmu Van yang lebih tua bukan memberi contoh yang baik malah membuat masalah tambah parah.