TERHALANG RESTU HANYA KARENA SEORANG SPG

TERHALANG RESTU HANYA KARENA SEORANG SPG
#8


__ADS_3

Tak butuh waktu lama bagi Andre untuk menemukan kostan putri, berbekal pengalaman sebelumnya kata dia, tempatnya pun sangat strategis berada di jantung kota S, berbatasan langsung dengan hotel mesra businnes, membutuh kan waktu lima belas menit menuju pusat perbelanjaan/mall hanya dengan berjalan kaki.



Selesai membayar dan memastikan kamar yang aku tempati aman dan nyaman ia gegas pulang, sebab dia berpamitan hanya pergi sebentar dan akan segera kembali ke kediamannya untuk mengantikan sang mama menjaga toko, ( dah lah anak mami ) kamar yang berukuran dua kali tiga meter ini tidak luas dengan fasilitas kasur lemari dan kipas, memiliki ruang tamu yang berada di luar kamar untuk menerima tamu dan hanya boleh di siang hari.



Malam menjelang tetesan air jatuh di pohon Toman, hujan turun angin tidak pernah lelah berhembus.


Tepat pukul tujuh malam ternyata Andre sudah berada di bawah sambil menungguku di dalam mobil, hujan yang cukup deras dari sore hari tidak mengurungkan niatnya datang menemui ku, sesuai dengan janji di siang tadi yang kupikir hanya bercanda, malam ini dia mengatakan akan mengajak ku ke restoran langganan nya, padahal makan di kaki lima ajha udah enak loh, tidak perlu membuang banyak waktu gegas aku kebawa menuruni anak tangga satu persatu sampai pada anak tangga terakhir aku urungkan niatku untuk melangkah hujan masih terlihat sangat deras, aku tidak memiliki payung untuk menghalangi derasnya hujan yang sudah siap ingin membasahi, dia yang sedari tadi berada di dalam mobil segera menghampiriku tak lupa menggunakan payung hitamnya bak seorang raja berkuda besi yang sedang menjemput sang putri kesiangan. ( ampun dah ) dia menuntunku ke arah mobil membukakan pintu di sisi kiri pengemudi, aku masuk menjatuhkan bobo tubuh di kursi dengan sempurna, ia pun kembali menutup pintu dengan gerakan cepat syukur tangan ku tidak ikut kejepit klau gak cepat ku singkirkan, Andre berkeliling mengitari mobil masuk kedalam dan langsung mengemudikannya, mobil mulai melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang di ramaikan dengan derasnya hujan.


Sepanjang perjalanan aku tak banyak bicara bingung juga mau ngomong apa, tak punya pembahasan, sesekali ia akan menoleh ke arahku dengan senyuman, entah itu senyuman tulus atau senyuman penuh arti aku jadi ngeri lihatnya, niat ku untuk menemuinya tak lain ingin membuatnya jera dengan memoroti membuatnya jatuh cinta setelahnya pergi meninggalkan dia jahat bukan ? Semua itu hilang begitu saja setelah melihat sikapnya yang peka dengan keadaan dan ada rasa sedikit was-was kala melihat senyumnya takut itu hanya senyum kelicikan.



Kini kami sudah berada di restoran yang di maksud oleh Andre duduk di salah satu meja yang sebenarnya semua sama kosong tapi entah mengapa slalu pilihan tertuju di meja paling pojok selain karena minim penerangan juga bukan tempat pusat perhatian, duduk berhadapan sambil memilih menu yang ada di buku menu, dari sekian banyaknya menu yang ada pilihan jatuh kepada nasi goreng dan air mineral dingin, lidah orang Indonesia asli dan cuman itu yang harganya murah. ( kan malu ya wa baru ketemu udah minta yang mahal-mahal )


__ADS_1


Sambil menunggu pesanan ada beberapa obrolan ringan di antara kami, di perhatiin seperti ini aku benar-benar malu, malu malu meong, tak berselang lama makanan datang wangi aroma nasi goreng sangat menggugah selera, kami makan di iringi dengan lantunan musik rasa canggung memenuhi relung hati, ingin segera ku selesaikan makan malam ini takut di bilang makan udah kaya orang kesetanan pelan-pelan nanti di kira gak enak sabar-sabar, tetap jaga image.



Akhirnya acara makan telah usai aku dan Andre meninggalkan restoran itu, aku memutuskan untuk segerah kembali sudah cukup lama aku berada di luar, peraturan yang di terapkan oleh pemilik kost tidak boleh pulang sampai larut malam jika hal itu terjadi maka bersiaplah untuk menginap di luar.



Sesuai dengan rencana awal selain bertemu dengan Andre aku ke kota S ini ingin bekerja mencoba mengadu nasib di perantauan, pagi ini bermodalkan tekat dan juga KTP aku berjalan kaki mencari pekerjaan, bukan aku tidak mempunyai ijazah aku belum mengerti yang namanya buat lamaran kerja, tak pantang menyerah aku masuk dari satu toko ke toko yang lain tapi nihil tidak ada satupun pemilik toko membuka lowongan, ku langkahkan kaki ini menyusuri jalanan di bawa terik matahari, lapar haus udah pasti sedari pagi aku belum makan, sadar akan uang yang ku punya sudah sangat menipis aku memutuskan untuk menahan rasa lapar untuk meminimalisir pengeluaran, bukan hal gampang hidup di rantau tanpa keluarga apa lagi belum bekerja.



Sudah berapa hari aku sengaja mengabaikan Andre selama itu juga waktuku ku habiskan untuk mencari pekerjaan, jika siang hari aku akan berjalan kaki malam hari aku akan istirahat penuh, tapi tidak dengan hari ini aku memilih untuk berdiam diri di kamar rebahan sambil memainkan ponsel, sayup-sayup terdengar di telinga percakapan antara ibu kost dengan para ibu-ibu yang lain saling bersahutan, aku yang merasa penasaran dan juga suntuk sendiri memutuskan untuk keluar kamar ingin bergabung tapi malu, aku cukup menyimak dari lantai atas saja, ibu kost yang mengetahui kehadiran ku segera memanggilku untuk ikut bergabung dengan mereka di bawah, ku langkahkan kaki mendekati para Bu ibu yang sedang bergosip ria di pagi hari, baru juga ku daratkan b\*kongku di bangku salah satu dari Bu ibu bertanya.



" belum Bu, udah tiga hari jalan kaki dari toko ke toko tapi belum ketrima "


" sabar pasti ada ajha kok klau udah rezekinya " timpal si ibu kost

__ADS_1



" sebenarnya saya punya kenalan di toko sembako kebetulan dia lagi butuh karyawan cewek klau kamu mau besok say antar kamu ketempat nya."


" mau Bu " jawabku antusias


" oke besok pagi kamu ikut saya ya "


" iya Bu terimakasih"


" nah ada hikmahnya kan kamu ngumpul dengan kita hari ini " kata si ibu yang lain ikut nimbrung



Matahari semakin terik para ibu-ibu yang tadi berkumpul kini sudah kembali ke rumah masing-masing, tinggal lah aku sendiri yang sedang meratapi nasib.


"kedepannya aku harus gimana sedangkan uang yang aku punya tinggal tiga ratus ribu, aku belum menemukan pekerjaan besok belum tentu aku ketrima." gumamku tiba-tiba bahuku di tepuk.


" Nih makan singkong gorengnya mumpung masih panas, jangan banyak ngelamun nanti kesurupan " kata si ibu

__ADS_1



tepukan dari ibu kost barusan membuat aku tersadar kembali dari lamunan, aku bersyukur dapat ibu kost yang mengerti keadaan, tak hanya dengan aku anak kost yang lain pun akan di perlakukan dengan sangat baik olehnya.


__ADS_2