Terjebak Cinta Anak Tiri

Terjebak Cinta Anak Tiri
Chapter 10


__ADS_3

Laura dan Daniel duduk di teras belakang rumah, menatap ke langit yang gelap dan bintang-bintang yang berkelip. Mereka senang bisa bersama, meskipun keadaan mereka tidak ideal. Sejak Daniel datang ke dalam hidupnya, dia merasa lebih bersemangat dan lebih hidup.


"Kamu tahu, Daniel," kata Laura sambil menatapnya dengan penuh kasih. "Sudah lama sejak aku merasa begitu nyaman dengan seseorang seperti ini. Kamu membuatku bahagia."


Daniel tersenyum pada Laura. "Kamu juga membuatku bahagia, Laura. Aku merasa sangat beruntung bisa bersamamu."


Laura merasa hangat di hatinya mendengar kata-kata Daniel. Namun, dia juga merasa khawatir tentang bagaimana orang-orang akan merespons hubungan mereka yang belum jelas statusnya. Dia tidak ingin Daniel, menjadi sasaran gosip dan kebencian.


"Daniel, aku khawatir tentang bagaimana orang akan merespons hubungan kita," kata Laura. "Mereka mungkin tidak mengerti atau bahkan menghakimi kita."


Daniel meraih tangan Laura dan menggenggamnya dengan lembut. "Aku tahu itu tidak mudah, Laura. Tapi kita tidak bisa menyembunyikan perasaan kita selamanya. Kita harus memutuskan apakah kita ingin terus bersama atau tidak."


Laura mengangguk setuju, tapi hatinya masih merasa berat. Dia tahu bahwa ada beberapa orang dalam keluarga suaminya yang tidak akan menyetujui hubungan mereka.



Hari-hari berlalu, Laura dan Daniel semakin akrab satu sama lain. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, pergi berlibur, atau sekadar menikmati waktu santai di rumah. Laura merasa bahagia karena Daniel sangat perhatian padanya.


Namun, kekhawatiran Laura tidak hilang begitu saja. Dia masih takut bagaimana keluarga suaminya akan menanggapi hubungannya dengan Daniel. Laura tahu bahwa ada beberapa kerabatnya yang sangat konservatif dan sulit menerima pernikahan campur atau hubungan yang dianggap tidak pantas dalam pandangan mereka.


Suatu malam, Laura dan Daniel menghadiri sebuah pesta keluarga mantan suaminya. Laura merasa tegang ketika melihat beberapa kerabatnya yang paling konservatif di sana. Beberapa dari mereka memperhatikan Laura dan Daniel dengan tatapan sinis dan menunjukkan sikap yang tidak ramah.


Laura dan Daniel merasa seperti mereka sedang berjalan di atas bara api. Mereka berjalan melalui kerumunan orang di pesta keluarga, mencoba untuk menghindari tatapan tajam dan omongan orang-orang yang tidak menghargai hubungan mereka.


"Bagaimana kamu bisa melakukan ini pada keluarga kamu, Laura? Ini sangat tidak pantas!" kata sepupu Laura yang marah.


Daniel merasa geram mendengar kata-kata itu. Dia merasa bahwa sepupu Laura tidak tahu apa-apa tentang hubungan mereka dan hanya berbicara tanpa dasar yang kuat.


"Maafkan saya, tapi keputusan hidup kami bukan urusan Anda atau keluarga anda. Kami mencintai satu sama lain dan itu adalah hak kami untuk memilih," kata Daniel dengan nada yang tegas.


Tapi sepupu Laura masih tidak bisa ditenangkan dan terus mengatakan hal yang sama berulang-ulang.


Laura merasa sangat terluka dengan perlakuan keluarga mantan suaminya. Dia merasa bahwa dia tidak dihargai sebagai individu dan hak-haknya sebagai manusia tidak diakui.


"Aku hanya mencoba mencari kebahagiaanku sendiri. Mengapa kalian tidak bisa membiarkanku hidup seperti yang aku inginkan?" kata Laura dengan suara lemah.


Namun, tidak ada satu pun keluarga mantan suaminya yang merespons dan memberikan dukungan padanya. Semua orang masih merasa bahwa hubungan antara Laura dan Daniel tidak benar dan melanggar norma-norma sosial dan etika.

__ADS_1


Daniel merasa sangat kecewa dengan keluarga ayahnya. Dia merasa bahwa mereka tidak tahu bagaimana memberikan dukungan pada anggota keluarga yang sedang mengalami kesulitan.


"Aku sangat kecewa dengan keluarga ayahku. Mereka seharusnya memberikan dukungan dan membantumu, bukan menghakiminya. Kebahagiaanmu dan aku sangat penting, dan itu adalah hak kita untuk memilih jalur kita sendiri," kata Daniel dengan suara yang penuh kekesalan.


Laura merasa bahwa dia dan Daniel terjebak dalam situasi yang sulit. Dia merasa bahwa tidak ada solusi yang mudah dan mereka harus mempertimbangkan dengan baik setiap langkah yang akan mereka ambil.


"Mungkin kita harus mencari tempat yang aman untuk menenangkan pikiran dan merenungkan keputusan yang kita ambil," kata Laura dengan suara yang lembut.


"Kamu selalu menjadi sosok yang kuat dan tegar, Laura. Aku akan selalu mendukungmu dalam setiap keputusan yang kamu ambil," kata Daniel dengan suara lembut.


Laura tersenyum dan memandang Daniel dengan tatapan penuh cinta.


"Terima kasih, Daniel. Aku tahu kita dapat melewati ini bersama-sama," kata Laura dengan suara yang penuh kasih.


Beberapa saat kemudian, salah satu keluarga mantan suaminya, Ibu Ani datang dan bergabung dengan obrolan mereka. Ibu Ani selalu menjadi orang yang cukup kritis dan selalu menuntut standar yang tinggi dalam kehidupan. Dia melihat Laura dan Daniel dengan pandangan tajam dan kemudian berkata, "Laura, apakah kamu yakin dengan hubunganmu dengan Daniel? Apa yang akan kamu lakukan jika semua masyarakat tahu dan tidak bisa menerima keputusanmu ini?"


Laura merasa tersentak dengan pertanyaan itu. Dia merasa tertekan dan mulai merasa kesulitan menjawabnya dan memilih menjauh dari Ibu Ani.


"Lihat saja itu, ada Laura dan putra tirinya sedang berciuman di sudut sana. Sungguh menjijikkan," ujar sepupu Laura dengan suara yang keras.


Daniel merasa sangat tersinggung dan tidak terima dengan komentar tersebut. Dia merasa tidak dihargai sebagai pria dewasa yang mampu memilih dan bertanggung jawab atas keputusannya.


Laura mengangguk dan mencoba untuk menenangkan Daniel. Dia merasa terluka dengan komentar kerabatnya, tetapi dia tidak ingin menyerah pada hubungannya dengan Daniel.


Beberapa saat kemudian, Laura dan Daniel merencanakan untuk pergi dari pesta keluarga itu. Mereka merasa sangat tidak nyaman dan ingin menghindari situasi yang lebih buruk.


"Tidak apa-apa, sayang. Kita bisa pergi dari sini dan mencari tempat yang lebih menyenangkan," ujar Daniel pada Laura.


Laura mengangguk dan mereka berjalan ke mobil. Namun, di tengah jalan, sepupu Laura tiba-tiba muncul dan menghadang mereka.


"Hei, kalian berdua. Aku ingin bicara denganmu," ujar sepupu Laura dengan suara yang keras.


Laura dan Daniel merasa terkejut dan tidak tahu harus berbuat apa. Mereka merasa sangat tidak nyaman dengan situasi tersebut.


"Apa yang kamu inginkan?" tanya Laura dengan suara yang terdengar cemas.


"Kalian harus berhenti dengan hubungan ini. Ini tidak benar dan melanggar norma sosial. Kalian merusak hubungan keluarga dan membuat semua orang tidak nyaman," ujar sepupu Laura dengan nada yang tegas.

__ADS_1


Daniel merasa sangat tersinggung dan tidak terima dengan kata-kata sepupu Laura.


“Tidak ada yang merusak hubungan keluarga, kami mencintai satu sama lain dan itu adalah hak kami untuk memilih," kata Daniel dengan suara yang tegas.


Namun, sepupu Laura tidak terima dengan argumen Daniel dan tetap memaksakan pendapatnya.


"Tidak, kalian salah besar. Kalian tidak boleh melakukan ini. Kalian membuat ayahmu malu dan membuat semua orang tidak nyaman," ujar sepupu Laura.


Laura merasa sangat sedih dan frustasi dengan situasi ini. Dia merasa bahwa dia dan Daniel tidak memiliki dukungan dari keluarga mereka dan harus menghadapi kecaman dan penghinaan dari kerabat mereka.


"Aku mencintai Daniel dan aku tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang lain. Ini adalah keputusanku dan aku tidak akan menyerahkannya," kata Laura dengan suara yang penuh tekad.


Beberapa kerabat lainnya juga memandang hubungan mereka dengan skeptis dan bahkan mencela Laura karena mengabaikan etika dan moral. Laura merasa terjebak di tengah-tengah konflik keluarga dan merasa sulit untuk menentukan langkah selanjutnya.


"Kamu tahu, Daniel," kata Laura pada Daniel. "Sulit bagiku untuk melihat bagaimana hubungan kita bisa berjalan ke depan dengan konflik keluarga seperti ini."


Daniel memeluk Laura dengan erat. "Aku mengerti, Laura dan aku tidak ingin memaksamu untuk menghadapi konflik keluarga yang mungkin menyakitkankanmu. Tapi aku juga tidak ingin kita menyerah pada tekanan sosial dan norma yang tidak sesuai dengan perasaan kita."


Saat mereka terus berbicara, seorang kerabat mantan suami Laura yang lain mendekat. "Hei, kalian berdua," ucapnya dengan nada sinis. "Apa yang kalian bicarakan?"


Laura dan Daniel saling pandang sejenak, sebelum Laura menjawab, "Kami hanya sedang mengobrol tentang hal-hal biasa, tante. Tidak ada yang istimewa."


"Tentu saja tidak ada yang istimewa," sahut kerabat Laura dengan suara tinggi. "Kamu tahu, Laura, keluarga kita tidak akan pernah menerima hubunganmu dengan anak tiri Tom. Itu melanggar semua norma sosial dan etika. Dan kamu, Daniel, kamu tahu bahwa kamu tidak pantas bersama Laura. Kamu hanyalah anak tiri yang terbuang."


Daniel menatap kerabat Laura dengan tatapan tajam. "Aku tidak peduli apa yang kalian pikirkan tentangku," katanya. "Aku mencintai Laura, dan itu yang penting."


Kerabat Laura itu tertawa cempreng. "Cinta? Apa artinya cinta? Kalian berdua hanya akan membuat diri kalian sendiri malu. Dan jika kamu, Laura, terus bersikeras dengan hubungan ini, kamu akan kehilangan semua dukungan dari keluarga kita."


Laura merasa semakin tertekan dan kebingungan. Dia tahu bahwa apa yang dikatakan kerabatnya benar, bahwa hubungan mereka tidak dapat diterima dalam norma sosial dan etika. Tapi, di sisi lain, dia merasa bahwa dia dan Daniel saling mencintai dan memiliki ikatan yang kuat.


Malam itu, Laura dan Daniel pulang dengan perasaan campur aduk. Mereka merasa kesal karena banyak kerabat mereka yang tidak menghargai dan malah menentang hubungan mereka.


Laura menghela nafas panjang dan menatap ke arah Daniel. "Aku mencintaimu,” ucapnya dengan suara lembut. "Tapi, aku takut dengan semua ini. Aku takut dengan apa yang bisa terjadi jika kita terus melawan keluarga."


Daniel menatap Laura dengan penuh kasih sayang. "Aku mengerti, Laura," katanya. "Tapi, aku tak bisa hidup tanpamu. Aku mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu," jawab Laura dengan lembut. "Tapi, aku takut dengan apa yang bisa terjadi pada kita dan pada keluarga kita."

__ADS_1


Mereka berdua berbicara sejenak lagi, tetapi Laura masih merasa ragu. Dia tahu bahwa keluarga mereka akan sangat marah jika mereka melanjutkan hubungan ini, dan mungkin akan memutuskan hubungan mereka sepenuhnya. Tapi, di sisi lain, dia merasa bahwa dia dan Daniel memiliki ikatan yang kuat dan tidak bisa dipisahkan.


__ADS_2