Terjebak Cinta Anak Tiri

Terjebak Cinta Anak Tiri
Chapter 23


__ADS_3

Laura duduk di bangku pengunjung di ruang persidangan, hatinya penuh kegelisahan. Dia mengenakan pakaian yang hampir menutupi seluruh tubuhnya, mencoba menunjukkan sikap yang tenang dan tidak terlalu menarik perhatian. Ruangan itu penuh dengan orang-orang yang penasaran, menanti persidangan akan investigasi Daniel tentang hubungan dengannya. Mereka menggambarkan hubungan itu sebagai sebuah skandal yang melibatkan antara ibu tiri dan anak tiri yabg merupakan sebuah hubungan terlarang.


Daniel, dengan wajah yang tegang, duduk di meja pengacara pembela. Dia memperhatikan pengunjung seperti mencari seseorang, ia tampak khawatir namun tetap memancarkan ketegasan dalam tatapannya. Hatinya berdebar-debar saat ia menunggu persidangan dimulai.


Hakim memasuki ruangan dan memerintahkan semua orang untuk duduk. "Kasus ini melibatkan tuduhan hubungan terlarang antara ibu tiri dan anak tiri," kata hakim dengan suara keras. "Pihak penuntut, silakan mulai dengan kesaksian anda.”


Pengacara penuntut, seorang pria yang berkepala botak dengan wajah yang serius, berdiri di depan meja pengacara. "Terima kasih, hakim,” katanya, berpaling kearah Daniel. "Saya akan membawa anda pada perjalanan yang mengungkapkan hubungan terlarang yang tidak pantas antara Laura dan Daniel."


Laura merasa hatinya hancur mendengar perkataan itu. Dia merasakan kesedihan lagi. Namun, dia tetap tegar dan siap untuk menghadapi semuanya.


"Pada awalnya, Laura dan Daniel adalah ibu tiri dan anak tiri yang terikat oleh tragedi," lanjut pengacara penuntut. "Namun, seiring waktu, mereka terjerat dalam perasaan terlarang yang melanggar norma-norma etika dan moral kita."


Laura merasa marah. Dia ingin berteriak bahwa cintanya pada Daniel adalah cinta yang murni, tidak peduli seberapa tidak pantas terlihat bagi orang lain. Namun, dia tahu bahwa dia harus menahan diri dan membiarkan hukum berjalan.


Hakim memberikan lampu hijau kepada pengacara pembela untuk memberikan pembelaannya. Pengacara Daniel, seorang wanita berpenampilan tegas dan berpengalaman, bangkit dari kursinya dan berjalan ke depan ruangan.


"Hormatilah keputusan cinta dan hubungan yang terjalin antara dua orang dewasa," kata pengacara pembela dengan tegas. "Laura telah mengalami kehilangan yang mendalam dengan kematian suaminya, dan Daniel juga telah tumbuh tanpa kehadiran ayahnya. Mereka menemukan dukungan dan ketenangan dalam satu sama lain, meskipun dalam konteks yang sulit."

__ADS_1


Pengacara pembela memandang pengacara penuntut dengan penuh percaya diri. "Apakah mungkin hubungan ini terlarang dalam pandangan hukum? Ya, mungkin. Namun, cinta yang ada di antara mereka, meskipun kompleks, adalah sesuatu yang nyata dan bermakna bagi keduanya."


Laura merasa haru mendengar pembelaannya. Dia berterima kasih pada pengacara itu karena telah memahami perasaannya. Daniel juga merasakan kelegaan mendengar pembelaan tersebut, berharap itu akan membantu meyakinkan hakim dan semua orang tentang cinta yang mereka bagi.


“Apakah untuk Daniel ada pembelaan?” Tanya hakim.


Daniel memandang hakim dengan tatapan tulus, mencoba menyampaikan kebenaran yang ada di hatinya.


"Hakim yang terhormat, saya tidak bisa membantah bahwa saya memiliki perasaan istimewa terhadap Laura,” ucap Daniel dengan suara yang bergetar. "Namun, saya ingin menekankan bahwa hubungan kami adalah hasil dari dukungan dan pengertian yang kami berikan satu sama lain. Kehilangan yang kami alami telah mengikat kami bersama dalam cara yang sulit dipahami oleh orang lain."


Laura mengenang saat-saat awal hubungan mereka saat ia mendengar pembelaan Daniel. Ketika dia merasa bersalah dan bingung tentang perasaannya, dia juga merasakan kebahagiaan yang lama hilang dalam hidupnya. Dia merasakan bahwa Daniel adalah seseorang yang dia butuhkan dan sebaliknya.


Sebuah keheningan mengisi ruangan setelah Daniel selesai berbicara. Hakim tampak dalam pemikiran mendalam. Beberapa wajah pengunjung terlihat simpati, sementara yang lain masih terlihat skeptis.



Beberapa minggu berlalu setelah persidangan ditunda, Daniel duduk di ruang rapat kantor, dihadapkan pada situasi yang tidak pernah ia duga. Sebuah surat pemecatan tergeletak di hadapannya, mengumumkan bahwa dia diberhentikan dari pekerjaannya. Pikirannya berkecamuk saat dia mencoba memahami alasan di balik keputusan ini.

__ADS_1


Pintu terbuka, dan manajer sumber daya manusia, Ibu Lisa, memasuki ruangan dengan ekspresi serius di wajahnya. "Daniel, maafkan saya karena harus memberitahumu seperti ini," ucap Ibu Lisa dengan suara yang terdengar lesu. "Namun, perusahaan telah mengambil keputusan untuk memberhentikanmu."


Daniel merasa seperti dunianya runtuh. Dia bekerja keras selama bertahun-tahun di perusahaan itu, memberikan dedikasi dan komitmen yang tinggi. "Mengapa? Apa yang telah saya lakukan?" tanyanya dengan suara yang penuh kebingungan.


Ibu Lisa mengambil nafas dalam-dalam sebelum menjawab, mencoba menjelaskan situasi dengan jelas. "Ada beberapa masalah yang muncul terkait dengan persidangan dan hubungan pribadimu dengan Laura," kata Ibu Lisa dengan hati-hati. "Perusahaan merasa bahwa ini dapat mempengaruhi citra dan reputasi kami. Kami harus mengambil langkah yang dianggap perlu untuk melindungi kepentingan perusahaan."


Daniel merasa marah dan terluka mendengar itu. Baginya, ini adalah hukuman atas keputusan cintanya, yang seharusnya tidak berhubungan dengan pekerjaannya. "Ini tidak adil!" bentaknya dengan suara yang bergetar. "Saya bekerja dengan baik, saya memberikan kontribusi yang berarti kepada perusahaan ini. Bagaimana mereka bisa memperlakukan saya seperti ini?"


Ibu Lisa mengangguk paham, mencoba menenangkan Daniel. "Saya mengerti perasaanmu, Daniel. Namun, ini adalah keputusan yang dibuat oleh manajemen yang lebih tinggi, dan saya hanya menjalankan tugas saya untuk menyampaikan kabar ini. Kami akan memberikanmu paket pemutusan yang adil dan berusaha membantu kamu dalam mencari pekerjaan baru."


Daniel merasa frustrasi dan kecewa. Dia merasa bahwa keputusan ini tidak adil dan menghancurkan masa depannya. Namun, dia juga menyadari bahwa dia harus menghadapi kenyataan dan mencari jalan keluar.



Daniel duduk sendirian di kamarnya yang sunyi. Dia merasa kelelahan secara emosional dan fisik setelah menghadapi serangkaian masalah dalam hidupnya. Kehilangan pekerjaan, persidangan yang melelahkan, dan terutama jarak yang semakin menjauh antara dirinya dan Laura, semuanya terus merayap dalam pikirannya.


Dia merenung tentang hubungannya dengan Laura, cinta yang mereka bagikan, dan kekuatan yang membuat mereka bertahan sejauh ini. Namun, dengan segala tekanan dan hambatan yang dia hadapi, dia merasa pertanyaan-pertanyaan masuk dalam pikirannya. Apakah hubungan mereka sepadan dengan semua pengorbanan dan kesulitan yang dia hadapi? Apakah dia cukup kuat untuk melanjutkan perjuangan ini?

__ADS_1


Pikirannya terhenti saat dia mendengar pintu kamarnya terbuka perlahan. Emilia masuk dengan senyuman lembut di wajahnya. Dia melihat Daniel duduk sendirian di kamarnya.


"Maafkan aku masuk tanpa izin darimu terlebih dahulu, ibumu mengizinkanku masuk ke dalam kamarmu karena khawatir akan keadaanmu yang tidak keluar kamar selama beberapa akhir ini. Daniel, apa yang terjadi?" tanya Emilia dengan khawatir, mendekati Daniel dengan penuh perhatian. "Kamu tampak begitu terbebani. Ceritakan padaku, tolong."


__ADS_2