
Daniel menatap jam tangannya yang menunjukkan pukul 7 malam. Sejak tadi pagi, ia telah menerima banyak tekanan dari orang-orang di sekitarnya mengenai hubungan cintanya dengan Laura, ibu tirinya. Ia merasa frustasi dan marah pada saat yang sama.
Daniel merasa frustrasi karena ia harus menghadapi tekanan dari saudara dan teman-temannya yang tidak bisa menerima hubungan cinta mereka. Mereka berbicara tentang bagaimana hal itu akan merusak hubungan keluarga dan menghancurkan nama baiknya sendiri. Daniel merasa bahwa orang-orang di sekitarnya tidak mengerti perasaannya, dan ia tidak tahu bagaimana cara menghadapinya.
Sementara itu, Laura merasa khawatir. Ia melihat betapa marah dan frustasi Daniel setiap kali ia menerima tekanan dari orang-orang di sekitarnya. Ia mencoba untuk membantu Daniel dan meyakinkannya bahwa mereka memiliki cinta yang kuat dan tidak ada yang bisa merusaknya. Namun, Daniel tetap tidak yakin.
Suatu malam, ketika Daniel dan Laura sedang bersantai di teras, Daniel mulai membuka hatinya. "Laura, aku merasa sangat frustasi dan marah dengan tekanan yang aku terima dari orang-orang di sekitarku," katanya dengan nada yang lemah. "Aku tahu mereka hanya peduli tentang hubungan keluargaku dan nama baik mereka, tapi aku merasa bahwa aku tidak bisa terus menahan tekanan ini."
Laura meraih tangannya dan menatap matanya dengan penuh kasih sayang. "Aku mengerti perasaanmu, Daniel," katanya. "Aku juga merasa sedikit tertekan dengan situasi ini, tapi aku tidak akan membiarkan itu menghancurkan cinta kita. Kita harus bersama-sama dan melewati ini bersama-sama."
"Aku tahu, Laura," kata Daniel. "Tapi bagaimana jika mereka benar-benar benar? Apa yang akan terjadi pada hubungan kita dan dampaknya pada orang-orang di sekitar kita?”
Laura mengambil napas dalam-dalam sebelum menjawab. "Kita tidak bisa memprediksi masa depan, Daniel," katanya. "Tapi yang penting adalah bahwa kita mencintai satu sama lain dan kita harus memperjuangkan cinta kita. Kita tidak boleh membiarkan orang lain mempengaruhi keputusan kita."
Daniel mengangguk. "Aku mengerti, Laura," katanya. "Tapi aku merasa bahwa aku tidak bisa terus berjuang melawan tekanan ini. Aku merasa lelah."
Laura mengelus tangannya. "Aku tahu perasaanmu, Daniel," katanya. "Tapi kita harus tetap bersama dan kuat. Kita harus membuktikan pada orang-orang di sekitar kita bahwa hubungan kita bukan hanya tentang memecah belah keluarga, tapi tentang cinta yang tulus dan saling mendukung. Kita harus memperjuangkan hubungan kita."
Daniel menatap Laura dengan mata yang penuh rasa syukur. "Terima kasih, Laura," katanya. "Aku merasa lebih baik sekarang, karena aku tahu bahwa aku tidak sendirian dalam situasi ini."
Laura tersenyum. "Kita akan selalu bersama-sama, Daniel," katanya. "Kita akan melewati semua ini bersama-sama dan akan lebih kuat karena itu."
Daniel merasa lebih tenang setelah berbicara dengan Laura. Ia merasa bahwa ia tidak sendirian dalam situasi ini dan ada seseorang yang selalu mendukungnya.
—
__ADS_1
Daniel dan Laura menghadiri pernikahan teman Daniel. Di sana, mereka bertemu dengan banyak kerabat dan teman-teman Daniel. Semua orang nampak bahagia dan bersemangat dalam pesta pernikahan itu.
Namun, ketika salah satu teman Daniel bertanya tentang hubungan cinta Daniel dan Laura, Daniel merasa tekanan yang kembali muncul. Orang tersebut mempertanyakan tentang bagaimana hubungan mereka dapat merusak hubungan keluarga dan menghancurkan nama baik Daniel sendiri.
Daniel merasa marah dan frustasi. Ia merasa bahwa semua orang hanya memikirkan diri mereka sendiri dan tidak memperhatikan perasaannya dan Laura. Ia mulai menyalahkan dirinya sendiri atas situasi ini.
Laura melihat kekhawatiran di wajah Daniel. Ia meraih tangannya dan berkata, "Jangan biarkan orang lain merusak perasaan kita, Daniel. Kita harus memperjuangkan hubungan kita dan tidak peduli dengan apa yang orang lain katakan."
Daniel mengangguk, tetapi ia merasa masih tertekan. Ia pun meminta izin untuk menenangkan pikirannya sendiri dan Laura pun mengerti akan hal itu. Daniel duduk sendirian di taman dekat pesta itu. Ia merenungkan semua yang terjadi dalam hidupnya dan hubungan cintanya dengan Laura.
Beberapa saat kemudian, seorang wanita cantik datang mendekatinya. Daniel merasa gugup saat ia menatap wajah Emilia, mantan kekasihnya yang sudah lama tidak bertemu.
Wajah Emilia terlihat cantik seperti dulu, dan Daniel merasa sedikit grogi. Ia merasa tidak yakin apa yang harus ia katakan atau bagaimana ia harus bersikap.
Emilia menghampiri Daniel dengan senyum di wajahnya. "Halo, Daniel," katanya ramah. "Lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?"
Emilia tersenyum dan mengangguk. Mereka duduk di bangku di sudut taman. Selama beberapa saat, suasana menjadi canggung dan hening.
Daniel mencoba untuk memecahkan keheningan dengan mengatakan, "Jadi, apa yang telah kau lakukan selama ini?"
Emilia menatapnya dengan lembut. "Aku pindah ke kota lain untuk bekerja," katanya. "Aku juga baru saja putus dengan pacarku."
Daniel merasa sedikit lega mendengar bahwa Emilia baik-baik saja. Namun, ia merasa tidak yakin tentang bagaimana ia harus merespons. "Oh, maaf mendengar itu," katanya akhirnya.
Emilia mengangguk. "Tidak masalah. Jadi, apa yang terjadi denganmu?"
__ADS_1
Daniel merasa sedikit canggung untuk menjawab. "Aku sekarang bekerja sebagai insinyur," katanya. "Dan aku sedang dalam hubungan cinta dengan seseorang."
Emilia menatapnya dengan penuh perhatian. "Itu bagus untukmu," katanya. "Apa dia orang yang baik?”
Daniel tersenyum. "Ya, dia hebat," katanya. "Dia sangat mendukungku dan penuh kasih sayang."
Emilia mengangguk, tetapi Daniel merasa bahwa ia masih tidak yakin tentang apa yang ia rasakan. Ia merasa sedikit tertekan dan frustrasi oleh situasi ini.
Keheningan terjadi kembali membuat suasana semakin canggung. Setelah beberapa saat, Emilia memutuskan untuk mengambil risiko dan bertanya. "Daniel, aku harus mengakui bahwa aku masih memikirkan hubungan kita yang lalu," katanya.
Daniel menatapnya dengan penuh perhatian. "Apa yang kamu pikirkan?" katanya.
Emilia merasa lega bisa berbicara terus terang dengan Daniel. “Aku merasa bahwa kita berdua telah tumbuh dan berubah sejak kita putus," katanya. "Dan aku merasa bahwa kita belum benar-benar berbicara tentang hubungan kita dan bagaimana kita merasa tentang itu."
Daniel menarik napas panjang. "Aku tahu itu sulit untuk membicarakannya," katanya. "Tapi aku juga merasa bahwa kita perlu menyelesaikannya dengan baik."
Emilia mengangguk dan bertanya, "Bagaimana menurutmu tentang hubungan kita?"
Daniel menatapnya dengan lembut. "Aku merasa bahwa kita memiliki banyak kenangan yang indah bersama," katanya. "Tapi pada akhirnya, kita berdua tidak bisa memberikan yang terbaik satu sama lain."
Emilia merasa sedikit kecewa mendengar itu. Ia tahu bahwa Daniel benar, tetapi masih saja terasa sulit untuk menerima kenyataan itu. "Tapi bagaimana jika kita mencoba lagi?" tanyanya.
Daniel menatapnya dengan sedih. "Emilia, aku tidak yakin itu akan berhasil," katanya. "Kita telah mencoba untuk memperbaikinya, tapi pada akhirnya kita tetap tidak cocok satu sama lain."
Emilia merasa sedikit tersinggung mendengar itu. Ia merasa bahwa Daniel tidak memberinya kesempatan untuk memperbaiki hubungan mereka. "Tapi bagaimana jika kita mencoba lagi?" katanya dengan sedikit keras.
__ADS_1
Daniel menatapnya dengan lembut. "Emilia, aku tahu kamu masih memiliki perasaan padaku," katanya. "Tapi kamu juga harus melihat ke depan dan mencari kebahagiaanmu sendiri."
Emilia merasa sedikit menyesal karena ia tidak bisa meyakinkan Daniel untuk mencoba lagi hubungan mereka. Namun, ia juga merasa lega bahwa mereka akhirnya membicarakan tentang hubungan mereka dengan terbuka. Tanpa mereka ketahui seseorang melihat dan mendengar pembicaraan mereka berdua.