Terjebak Cinta Anak Tiri

Terjebak Cinta Anak Tiri
Chapter 6


__ADS_3

Daniel duduk di atas sofa di ruang tamu, menatap ke arah layar televisi yang sedang menampilkan acara reality show yang sama sekali tidak menarik bagi dirinya. Ia merasa frustrasi dengan situasi hubungannya dengan ibu tirinya, Laura. Sudah hampir tujuh bulan mereka berkencan secara rahasia, namun ia merasa hubungan mereka tidak berjalan dengan baik.


"Apa yang salah dengan hubungan kami?” batin Daniel, merenung dalam-dalam. "Kenapa Laura tidak pernah membicarakan kemungkinan untuk kami berkomitmen satu sama lain? Apakah dia tidak serius dengan hubungan kami?”


Saat itu, Laura sedang sibuk dengan urusan pekerjaannya, jadi Daniel memutuskan untuk mengirim pesan teks padanya.


"Hey, bisa kita bicara sebentar?" tulis Daniel.


Tak lama kemudian, Laura membalas pesan tersebut.


"Tentu saja, ada apa?”


Daniel mengetik dengan hati-hati.


"Aku merasa kita sudah berkencan selama hampir setahun, dan aku ingin hubungan kita menjadi lebih serius. Bagaimana menurutmu?"


Setelah beberapa menit, Laura akhirnya membalas pesannya.


"Maaf, aku pikir kita sudah berbicara tentang ini sebelumnya. Aku belum siap untuk memperkenalkan hubungan kita pada orang-orang terdekat kita atau bahkan orang-orang di sekitar kita. Bagaimana jika kita tetap seperti ini saja?"


Mendengar jawaban itu, Daniel merasa semakin frustrasi. "Kenapa Laura tidak mau berkomitmen? Apa yang harus aku lakukan?" batinnya.


Sementara itu, Laura sedang duduk di meja kerjanya, merenungkan pesan teks dari Daniel. Dia juga merasa tidak nyaman dengan situasi hubungan mereka, tetapi tidak tahu bagaimana caranya untuk mengubahnya.


"Apa yang salah denganku?” batin Laura. "Apakah aku terlalu takut untuk berkomitmen lagi atau terlalu takut dengan kecaman dari orang-orang di sekitarku.”


Laura memutuskan untuk membalas pesan Daniel.


"Maafkan aku, aku sedang sibuk dengan pekerjaan di toko bunga ini. Aku mengerti jika kamu merasa frustasi dengan situasi kita, tetapi aku masih belum siap untuk berkomitmen. Mungkin kita perlu membicarakan tentang hal ini secara langsung."


Daniel merasa lega mendapatkan jawaban dari Laura, tetapi ia merasa khawatir jika membicarakan hal ini secara langsung akan membuat hubungan mereka semakin buruk.


Namun, Laura memastikan bahwa mereka harus membicarakan hal ini secara langsung.


"Bagaimana kalau kita bertemu besok malam?" tanya Laura.


Daniel merasa lega mendengar ajakan dari Laura.


"Baiklah, aku akan menunggu kamu besok malam," jawab Daniel.

__ADS_1


Laura merasa terombang-ambing dalam pikirannya saat ia berusaha menghindari Daniel, anak tirinya. Ia tahu bahwa ada perasaan yang berkembang di dalam dirinya yang ia tidak bisa abaikan lagi, namun ia juga tidak ingin membuat keputusan yang buruk dan merusak reputasinya di mata orang-orang di sekitarnya.



Daniel sedang mengunjungi rumah Laura untuk makan malam bersama sesuai janji mereka sebelumnya. Laura berusaha untuk tetap tenang dan santai di depan anak tirinya, tetapi dalam hatinya ia merasa gugup dan tegang.


"Bagaimana kabarmu, Laura?" tanya Daniel sambil mengambil duduk di meja makan.


"Aku baik-baik saja, Daniel. Bagaimana denganmu?" jawab Laura dengan cemas.


"Aku baik-baik saja. Aku senang bisa makan malam bersama-sama, aku merasa kita tidak menghabiskan banyak waktu bersama belakangan ini."


Laura merasa sedikit terkejut dengan pernyataan itu dari Daniel. Ia tahu bahwa mereka telah menghabiskan waktu bersama dalam beberapa minggu terakhir, tetapi ia juga merasa sedikit lega bahwa Daniel tidak menyadari betapa gugupnya ia saat ini.


"Mungkin aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku akhir-akhir ini," kata Laura, mencoba mencari alasan untuk ketidaknyamanannya.


"Apakah semuanya baik-baik saja? Apa ada yang salah?" tanya Daniel dengan khawatir.


Laura menggelengkan kepala dengan cepat. Ia tahu bahwa jika ia mengungkapkan perasaannya kepada Daniel, semuanya bisa berubah menjadi buruk dan merusak hubungan mereka.


"Tidak, tidak ada yang salah. Aku hanya sedikit lelah," jawab Laura dengan tersenyum palsu.


Makan malam mereka berlanjut dengan suasana canggung. Laura merasa bahwa ia tidak bisa menjadi dirinya yang sebenarnya di depan Daniel, dan ia merasa bersalah karena itu.


"Apa yang kamu pikirkan tentang hubungan kita?" tanya Daniel dengan lembut.


Laura merasa terkejut oleh pertanyaan itu dan ia merasa tidak siap untuk menjawabnya.


"Aku... Aku tidak tahu. Aku merasa seperti ada hal yang menghalangiku untuk maju, dan aku tidak yakin apa itu," jawab Laura dengan jujur.


"Apa itu?" tanya Daniel lagi.


Laura menggelengkan kepala. Ia tidak bisa mengungkapkan perasaannya kepada Daniel, bahkan jika itu adalah anak tirinya sendiri.


"Maaf, Daniel. Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu sekarang. Aku harus memikirkannya lebih lanjut," kata Laura sambil memandang ke bawah.


Daniel merasa sedikit kecewa, tetapi ia mengerti bahwa Laura butuh waktu untuk memikirkan semuanya.


"Tentu saja. Aku mengerti. Kamu tahu bahwa aku selalu di sini untukmu jika kamu butuh bicara," kata Daniel dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


Laura merasa hangat di dalam hatinya mendengar kata-kata itu dari Daniel. Ia tahu bahwa anak tirinya selalu mencintainya dengan tulus, dan ia berharap bisa merespons perasaannya dengan sama tulusnya. Namun, ia juga merasa takut akan konsekuensi dari hubungan mereka yang tidak biasa.


Setelah Daniel pergi, Laura duduk di sofa dan merenung. Ia tahu bahwa ia tidak bisa terus menghindari Daniel dan perasaannya terhadapnya. Ia harus menghadapi kenyataan dan membuat keputusan.


"Bagaimana aku bisa menghindari perasaanku sendiri? Bagaimana aku bisa mengendalikan semuanya?" batin Laura.


Ia merasa kesulitan mengendalikan perasaannya, dan ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia merasa frustasi dan cemas. Ia tahu bahwa ia tidak bisa terus membiarkan situasi ini berlarut-larut, tetapi ia juga tidak tahu bagaimana cara mengatasinya.


"Aku tidak bisa terus seperti ini. Aku harus mengambil tindakan," batin Laura dengan tekad.


Ia mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi jika ia memutuskan untuk mengejar perasaannya terhadap Daniel. Ia tahu bahwa ini adalah keputusan besar dan penting, dan ia harus mempertimbangkan semuanya dengan cermat.


"Bagaimana jika aku mengecewakan orang-orang yang penting bagiku? Bagaimana jika ini merusak reputasiku? Bagaimana jika masa depan Daniel ikut hancur juga karena ini? Apa yang akan terjadi dengan hubungan kami?" batin Laura dengan gelisah.



Pada malam berikutnya, mereka bertemu di sebuah restoran di kota. Daniel dan Laura merasa gugup dan sedikit cemas, namun mereka berusaha untuk tetap tenang.


Setelah memesan makanan, mereka mulai membicarakan tentang situasi hubungan mereka.


“Daniel, ada yang ingin aku bicarakan padamu, aku merasa belum siap berkomitmen pada hubungan kita,” kata Laura yang membuat Daniel sedikit terkejut.


"Jadi, apa yang membuatmu tidak mau berkomitmen pada hubungan kita?" tanya Daniel.


Laura mengambil napas dalam-dalam, lalu ia menjawab.


"Aku masih merasa takut, aku tahu kamu ingin hubungan kita menjadi lebih serius, tetapi saya tidak merasa siap untuk memperkenalkan hubungan kita pada orang-orang di sekitar kita.”


Mendengar jawaban itu, Daniel merasa sedikit kecewa, namun ia mencoba untuk memahami situasi Laura.


"Aku mengerti bagaimana perasaanmu, tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku serius dengan hubungan kita dan aku siap untuk membuka hatiku sepenuhnya untukmu. Apa yang bisa aku lakukan untuk membuatmu merasa lebih nyaman?" Ucap Daniel.


"Terima kasih, Daniel. Aku juga serius dengan hubungan kita, tetapi aku hanya membutuhkan waktu untuk melewati ketakutanku. Mungkin kita bisa mulai dengan menghabiskan lebih banyak waktu bersama-sama, tanpa harus memperkenalkan hubungan kita pada orang lain terlebih dahulu." Ucap Laura.


"Baiklah, kita bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama-sama, mengenal satu sama lain lebih baik, dan melihat bagaimana hubungan kita berkembang dari sana." Ucap Daniel.


Mereka berdua menghabiskan malam itu dengan makan malam dengan sedikit canggung, mereka berdua tahu bahwa mereka belum sepenuhnya menyelesaikan masalah mereka.


Setelah malam itu, Daniel tahu bahwa akan ada tantangan yang harus mereka hadapi, tetapi ia yakin bahwa ia akan bisa mengatasi semuanya bersama Laura. Baginya, Laura adalah wanita yang spesial dan ia merasa beruntung dapat memiliki hubungan dengan wanita seperti itu.

__ADS_1


***


Mohon bantu like dan votenya teman-teman semua. ❤️


__ADS_2