Terjebak Cinta Anak Tiri

Terjebak Cinta Anak Tiri
Chapter 20


__ADS_3

"Kita akan melewati ini bersama, Laura," ucap Daniel dengan penuh keyakinan. "Kita sudah membuktikan kepada semua orang betapa kita saling mencintai dan bahwa hubungan kita adalah sesuatu yang berharga."


Laura tersenyum dan merasakan kehangatan dalam kata-kata Daniel. "Ya, kita tidak boleh menyerah. Kita harus memperjuangkan hak kita untuk bahagia dan bersama."


"Daniel, terima kasih karena telah bersikap tegar dan berada di sisiku sepanjang proses ini. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan tanpamu," ujar Laura dengan penuh kebahagiaan.


Daniel menatap Laura dengan penuh kasih sayang. "Kamu adalah sosok yang kuat, Laura. Kamu telah menghadapi begitu banyak tantangan dalam hidupmu, dan aku hanya ingin memberikanmu cinta dan dukungan yang kamu butuhkan."


Laura menggenggam tangan Daniel erat-erat. "Aku begitu beruntung memiliki mu di sampingku. Kamu adalah pria yang luar biasa, dan aku tidak pernah berpikir bahwa aku bisa menemukan cinta kedua setelah kehilangan Tom."


Daniel tersenyum lembut. "Cinta tidak selalu datang pada waktu yang tepat atau dalam bentuk yang kita harapkan. Tetapi aku yakin bahwa kita ditakdirkan untuk bersama, dan aku akan berjuang untuk itu."


Mereka saling berpelukan, merasakan kehangatan dan kebersamaan di antara mereka.



Akhirnya, hari penentuan tiba, Laura dan Daniel harus hadir di pengadilan untuk mendengarkan putusan dari hakim. Mereka merasa tegang dan tidak sabar untuk mengetahui hasilnya.


Ketika mereka tiba di pengadilan, media sudah menunggu mereka di pintu. Kamera dan mikrofon langsung menyerbu mereka. Laura dan Daniel merasa agak kewalahan, tetapi mereka berusaha untuk tetap tenang.


"Sudahkah kalian siap menghadapi keputusan hakim?" tanya seorang reporter.


"Kami siap," jawab Laura dengan singkat.


"Lalu bagaimana perasaan kalian saat ini?" tanya reporter lainnya.


"Kami merasa tegang, tetapi kami berharap semuanya akan baik-baik saja," jawab Daniel.

__ADS_1


"Laura, bagaimana perasaanmu jika kamu memenangkan kasus ini?" tanya seorang reporter.


"Saya akan sangat senang dan lega, apabila keputusan hakim adalah hasil yang saya harapkan," jawab Laura.


"Dalam pandanganmu, apa yang menjadi alasan utama dari tuntutan keluarga mantan suamimu?" tanya reporter lainnya.


"Saya pikir mereka merasa tidak suka dengan saya dan Daniel menjalin hubungan. Mereka merasa bahwa saya tidak pantas untuk menjadi pasangan hidup Daniel,” jawab Laura.


"Lalu bagaimana hubunganmu dengan Daniel sekarang?" tanya seorang reporter lagi.


"Kami sangat bahagia bersama. Kami saling mencintai dan kami akan terus menjaga hubungan kami," jawab Laura.


"Daniel, apa katamu jika keputusan hakim memihak kepada kalian?” tanya seorang reporter pada Daniel.


"Saya akan merasa senang dan bersyukur. Ini membuktikan bahwa Laura dan saya memang memiliki hak untuk menjalani hubungan yang kami inginkan," jawab Daniel.


"Saya tidak memiliki masalah dengan mereka. Tetapi saya pikir mereka harus menghargai keputusan hakim nanti dan membiarkan kami menjalani hidup kami sendiri," jawab Daniel.


Mereka akhirnya berhasil masuk ke dalam ruang sidang. Laura dan Daniel kembali duduk di ruang sidang, menunggu keputusan hakim. Mereka saling berpegangan tangan, menunjukkan dukungan dan ketenangan satu sama lain.


Persidangan dilanjutkan. Kedua belah pihak menyampaikan argumen terakhir mereka dengan penuh semangat.


Laura dan Daniel duduk tegang di ruang sidang, menunggu putusan hakim. Mereka merasa tegang karena selama persidangan, terasa bahwa hakim tidak sepenuhnya memihak kepada mereka. Terdapat beberapa pernyataan yang terkesan meragukan terhadap hubungan mereka.


Pengacara keluarga mantan suami Laura berdiri untuk memberikan argumennya. "Hakim yang terhormat, kami berpendapat bahwa hubungan antara Laura dan Daniel tidak pantas. Laura adalah ibu tiri Daniel yang seharusnya menghormati keluarga mantan suaminya. Hubungan ini melanggar nilai-nilai keluarga dan menciptakan ketegangan di antara keluarga mereka sendiri.”


Laura dan Daniel saling pandang, merasakan ketidakadilan yang ada. Mereka tahu bahwa mereka mencintai satu sama lain dan telah membuktikan komitmen mereka untuk membangun hubungan yang sehat.

__ADS_1


Pengacara Laura berdiri untuk memberikan tanggapan. "Hakim yang terhormat, hubungan Laura dan Daniel didasari oleh cinta dan saling pengertian. Mereka berdua telah membuktikan bahwa mereka dapat menciptakan lingkungan keluarga yang stabil dan bahagia. Tidak ada yang dapat menghakimi dan mengatur siapa yang boleh atau tidak boleh mereka cintai."


Hakim tampak serius, mencermati argumen yang telah disampaikan. "Saya telah mendengarkan argumen dari kedua belah pihak dan mempertimbangkan semua bukti yang telah disampaikan selama persidangan ini. Keputusan saya tidaklah mudah."


Laura dan Daniel saling berpegangan tangan dengan ketegangan yang tak terhindarkan. Mereka berusaha tetap tenang, menunggu keputusan yang akan menentukan nasib hubungan mereka.


Hakim berbicara dengan suara tegas. "Setelah mempertimbangkan segala hal, saya memutuskan bahwa hubungan Laura dan Daniel harus ditinjau kembali. Saya akan memerintahkan pihak berwenang untuk melakukan investigasi lebih lanjut mengenai hubungan ini sebelum saya mengambil keputusan akhir."


Laura dan Daniel kaget mendengar putusan itu. Mereka merasa kecewa dan tidak adil. Rasanya seperti mereka sedang diuji dan diragukan.


Laura mengangkat suaranya dengan penuh keberanian. "Hakim, apakah saya tidak berhak untuk mencintai dan membangun keluarga dengan seseorang yang saya sayangi? Apakah tidak adil bagi kami untuk dihakimi dan diperiksa hanya karena kami memilih untuk bersama?"


Daniel juga melanjutkan dengan penuh emosi. "Kami telah membuktikan komitmen dan kasih sayang kami satu sama lain. Mengapa kami harus dipaksa menjalani investigasi yang meragukan keputusan kami untuk bersama?"


Hakim melanjutkan, "Saya memahami bahwa hubungan kalian didasarkan pada cinta dan kebahagiaan. Namun, kami harus memastikan bahwa keputusan yang kami ambil berdasarkan pada kepentingan terbaik bagi semua pihak yang terlibat.”


Laura menahan air mata yang hampir jatuh. "Tapi, Hakim, apakah investigasi ini benar-benar diperlukan? Kami telah membuktikan kemampuan kami dalam membentuk hubungan yang stabil.”


Hakim menjawab dengan bijaksana, "Saya memahami kekhawatiran kalian berdua. Namun, perlu diingat bahwa pengadilan memiliki kewajiban untuk melindungi kepentingan setiap orang. Investigasi ini bertujuan untuk memastikan bahwa hubungan kalian tidak memberikan dampak negatif pada masyarakat lain.”


Daniel, yang sepanjang persidangan ini telah berusaha tegar, mulai meluapkan kekecewaannya. "Hakim, saya mengerti bahwa anda ingin melakukan hal itu untuk kepentingan orang bangak. Tapi, saya mencintai Laura. Kami telah membentuk ikatan yang kuat dan membuat kami bahagia. Saya hanya ingin kami diberikan kesempatan untuk hidup bersama sebagai keluarga."


Laura mengusap air matanya dan mengambil nafas dalam-dalam. "Hakim, apakah ada cara lain yang bisa kami lakukan untuk membuktikan bahwa hubungan kami adalah sesuatu yang positif? Kami bersedia melakukan apa pun yang diperlukan untuk membuktikan komitmen kami."


Hakim mengangguk dengan serius, mencermati ekspresi Laura dan Daniel. "Saya mengerti bahwa ini adalah situasi yang sulit bagi kalian berdua. Namun, sebagai hakim, tanggung jawab saya adalah untuk memastikan kepentingan terbaik bagi semua pihak yang terlibat. Keputusan ini dibuat bukan untuk merugikan kalian berdua tetapi untuk semua orang, jadi keputusan ini sudah bulat dan tidak dapat di ganggu gugat.”


Hakimpun mengetuk palu yang menyatakan bahwa putusannya adalah putusan akhir. Mendengar putusan tersebut, media yang hadir dalam ruang sidang kembali menyerbu mereka dengan pertanyaan dan kamera yang melingkari mereka. Tetapi kali ini, Laura dan Daniel hanya bisa diam dan berusaha keluar dari ruang sidang.

__ADS_1


__ADS_2