Terjebak Cinta Anak Tiri

Terjebak Cinta Anak Tiri
Chapter 26


__ADS_3

Laura menatap alamat yang tertera di kertas dengan bingung. Ilham, teman yang baru beberapa akhir ini dekat dengannya memberikan alamat itu padanya dan meminta untuk datang ke sana. Namun, alamat itu ternyata sebuah pondok pesantren. Laura tidak pernah mengira bahwa Ilham akan memberikan alamat sebuah pondok pesantren. Tapi, dia penasaran dan memutuskan untuk pergi dan melihat apa yang akan terjadi.


Dengan hati-hati, Laura melangkahkan kakinya menuju pintu pondok pesantren. Ketika dia tiba, suasana sunyi dan tenteram menyambutnya. Laura melihat seorang pria paruh baya berjenggot duduk di bawah pohon, membaca Al-Quran dengan khidmat. Laura mendekatinya dengan perasaan campur aduk.


"Maaf, pak. Saya mencari Ilham. Apakah beliau berada di sini?" tanya Laura, mencoba menjaga ketenangan.


Pria itu mengangkat kepalanya dan tersenyum lembut. "Oh, Ustad Ilham? Ya Ustad Imham ada disini. Ada yang bisa saya bantu, Nak?"


Laura terkejut mendengar kata-kata itu. Dia tidak pernah membayangkan Ilham menjadi seorang ustad. "Saya Laura, teman Ustaf Ilham. Dia memberikan alamat ini pada saya, tapi saya tidak tahu kalau alamat ini menuju pondok pesantren ini.”


Pak tua itu tertawa pelan. "Ah, Ustad Ilham memang suka menyimpan rahasia. Mari, masuklah saya akan antarkan ke ruangan Ustad Ilham.”


Pak tua itu memiliki penampilan yang bijaksana. Wajahnya dipenuhi dengan keriput, menandakan bahwa ia telah menjalani banyak pengalaman dalam hidupnya.


Pak tua itu memandang Laura dengan senyuman ramah ketika dia melihat keheranan dalam wajah Laura. Dia bisa merasakan rasa ingin tahu Laura tentang rahasia yang dimiliki oleh Ustad Ilham. Dengan tatapan yang penuh kebijaksanaan, dia mengajak Anda untuk mengikuti langkahnya menuju pondok pesantren.


Mereka berjalan melalui jalan setapak yang dilapisi dengan batu-batu kecil, dikelilingi oleh pepohonan yang rindang. Suara burung-burung dan angin berdesir menambah ketenangan dalam perjalanan mereka. Akhirnya, mereka mencapai pondok pesantren yang tersembunyi di balik pepohonan.

__ADS_1


Pondok pesantren itu sederhana namun nyaman, terbuat dari kayu-kayu yang kokoh. Di sekitar pondok terdapat taman kecil yang indah, dengan bunga-bunga yang bermekaran menambah keindahan tempat tersebut. Udara segar dan harum mengalir melalui lingkungan pesantren.


Pak tua perlahan membuka pintu pondok dengan hati-hati, seolah-olah menghormati orang yang ada di dalamnya. Dia membalikkan tubuhnya ke arah Laura dan dengan ramah berkata, "Silakan masuk, ikuti saya." Laura memasuki ruangan itu dengan hati-hati, merasakan atmosfer yang tenang dan damai begitu pintu tertutup di belakang Anda.


Di tengah-tengah ruangan, Ustad Ilham duduk dibalik mejanya dengan postur yang tegak. Wajahnya yang terlihat tampan dan terawat menunjukkan bahwa ia adalah orang yang dihormati di pondok pesantren. Dia memandang Laura dengan penuh perhatian saat Laura menghampiri tempat duduk yang tersedia di dekatnya. Suara gemerisik yang lembut dari angin yang masuk melalui jendela terbuka mengisi ruangan.


Ustad Ilham tersenyum melihat kedatangan Laura dan menyambut Laura dengan penuh keramahan. Dia memiliki aura yang menenangkan dan rasa kebijaksanaan yang terpancar dari wajahnya.


Pak tua itu memberi hormat kepada Ustad Ilham, menunjukkan rasa hormat yang dalam. Pak tua itu memilih untuk berdiri di sudut ruangan, memberi ruang untuk Laura dan Ustad Ilham berbicara lebih leluasa.


Ustad Ilham tersenyum dan dengan lembut berkata, "Selamat datang, Laura. Akhirnya kamu memutuska untuk datang juga ke tempat ini.” Suaranya lembut namun penuh dengan kehangatan dan ketenangan.


Ilham, dengan tatapan bijak yang terpancar dari matanya, melihat Laura dengan penuh pengertian. Dia menyadari bahwa Laura penasaran dengan identitas sebenarnya. Dia tersenyum lembut dan berkata, "Maafkan aku, Laura. Aku memang tidak memberitahukanmu tentang siapa aku sebenarnya."


Laura membalas dengan pandangan yang penuh harap, "Tapi mengapa, Ilham? Aku menjadi penasaran dengan latar belakangmu sekarang.”


Ilham mengangguk dan menjelaskan dengan sabar, "Aku memilih untuk menjaga rahasia tentang diriku agar pesan dan ajaran yang aku sampaikan tidak dipengaruhi oleh pandangan orang terhadap identitasku. Kebijaksanaan dan pengetahuan spiritual tidak tergantung pada penampilan fisik atau latar belakang seseorang, tetapi pada kedalaman hati dan pengalaman yang dimiliki."

__ADS_1


Laura mengangguk mengerti, tetapi keingintahuannya belum sepenuhnya terpuaskan. Dia bertanya, "Apakah ada alasan khusus mengapa kamu memilih untuk membuka diri sekarang.”


Ilham tersenyum dan menjawab dengan penuh kebijaksanaan, "Aku melihat ketulusan dan keinginanmu yang kuat untuk mencari kebenaran dan kebijaksanaan. Aku juga merasa kamu mungkin membutuhkan pertolongan dari seorang teman atau sebuah petunjuk terhadap masalahmu, jadi aku merasa bahwa saat ini adalah waktu yang tepat untuk berbagi denganmu siapa aku sebenarnya."


Laura merasa hatinya berdebar-debar saat Ilham mengatakan hal tersebut.


Ilham melanjutkan, "Namaku sebenarnya adalah Mustafa Ilham bin Abdullah. Aku telah mengabdikan hidupku untuk mempelajari dan mengajar ajaran Islam yang lebih dalam disini. Bukan hanya disini, terkadang aku juga mencari orang-orang yang mungkin membutuhkan bantuan untuk mendapatkan jalan yang benar dalam hidupnya.”


Ilham menyelesaikan penjelasannya dengan kata-kata yang penuh kebaikan, "Laura, aku berbagi pengetahuan dan ajaran-ajaran ini dengan harapan bahwa kamu juga dapat menemukan kedamaian dan kebijaksanaan dalam hidupmu. Teruslah mencari kebenaran, dan selalu berpegang pada nilai-nilai yang diilhami oleh kasih sayang, pengampunan, dan ketulusan."


Laura merasa terharu dan tanpa terasa air matanya sedikit menetes. Dia merasa mungkin inilah jalannya mencari kebenaran dan keputusan yang tepat dari hidupnya. Percakapan ini mungkin akan menjadi awal dari perjalanan baru dalam hidup Laura, dengan Ustad Ilham sebagai pemandunya.


Laura mendengarkan dengan penuh perhatian, menggali lebih dalam. "Bagaimana kamu sampai di sini, di pondok pesantren ini?”


Ilham tersenyum sambil mengingat masa lalunya. "Setelah beberapa tahun belajar agama, aku merasa panggilan untuk menjadi seorang ustad semakin kuat. Aku meninggalkan pekerjaanku dan hidup di sini, di pondok ini, pondok milik ayahku. Tugas ku di sini adalah memberikan pengajaran agama kepada mereka yang mencari kebenaran."


Laura terkagum-kagum dengan keputusan Ilham. "Tapi, mengapa kamu tidak memberitahuku tentang hal ini sebelumnya? Aku pikir kita adalah teman dekat."

__ADS_1


Ilham menatap Laura dengan tulus. "Laura, aku tidak ingin mempengaruhi pilihan hidupmu. Aku tahu kamu memiliki keyakinanmu sendiri. Aku hanya ingin membantu mereka yang ingin menemukan jalan hidup mereka melalui agama. Namun, aku senang kamu datang ke sini. Aku ingin kamu melihat bagaimana perubahan ini telah mempengaruhi diriku."


__ADS_2