
"Daniel, aku merasa khawatir tentang hubungan kita. Aku tidak ingin hidupmu terpengaruh oleh keputusanku." Ucap Laura menatap Daniel penuh kekhawatiran.
Daniel merangkul Laura dan berkata, "Laura, aku mencintaimu dan aku siap menghadapi semua konsekuensi dari hubungan kita. Aku tahu bahwa tidak semua orang menerima hubungan kita, tetapi aku merasa bahwa hubungan kita tidaklah salah dan kita harus terus bersama."
Laura memandang Daniel dengan penuh kasih sayang dan berkata, "Aku juga mencintaimu, Daniel. Namun, aku tidak ingin hidupmu terpengaruh oleh keputusanku. Aku tidak ingin kamu kehilangan apa-apa karena hubungan kita."
Daniel menatap Laura dengan tegas dan berkata, "Laura, aku akan melakukan apa saja untuk menjaga hubungan kita tetap bertahan. Aku yakin kita dapat mengatasi semua rintangan dan tantangan yang kita hadapi."
Laura tersenyum dan berkata, "Terima kasih, Daniel. Aku merasa lebih tenang mendengar kata-katamu. Namun, aku masih khawatir tentang bagaimana keluarga mantan suamiku dan tetangga kita akan menanggapi hubungan kita."
Daniel mengambil tangan Laura dan berkata, "Laura, mereka tidak bisa mengontrol hidup kita. Kita harus hidup untuk diri kita sendiri dan bukan untuk mereka. Kita harus percaya pada cinta kita dan tidak membiarkan orang lain menghakimi kita."
Laura tersenyum dan merasa lega mendengar kata-kata Daniel. Namun, ia masih khawatir tentang masa depan mereka. Laura kemudian berkata, "Aku juga khawatir tentang bagaimana ini akan mempengaruhimu Daniel. Aku tidak ingin kamu menjadi korban dari keputusan yang aku buat."
Daniel tersenyum dan berkata, "Laura, aku adalah pria dewasa dan aku sudah bisa membuat keputusan sendiri. Aku sangat menyukaimu dan aku siap menghadapi konsekuensi dari hubungan kita."
Laura terdiam sejenak dan memandang Daniel dengan penuh kasih sayang. Akhirnya, Laura berkata, "Daniel, aku mencintaimu dan aku siap melangkah maju bersamamu. Aku tahu bahwa tidak semua orang menerima hubungan kita, tetapi aku ingin kita terus bersama."
Daniel tersenyum dan mencium Laura lembut di bibir.
Namun, di balik kebahagiaan itu, Laura masih merasa cemas dan khawatir tentang bagaimana hubungan mereka akan mempengaruhi hidup Daniel. Ia merasa bersalah karena telah membawa Daniel ke dalam situasi yang kontroversial dan kontroversi yang terus mempengaruhi hidup mereka sehari-hari.
__ADS_1
Laura mencoba untuk menekan perasaan khawatirnya, tetapi hal itu tidaklah mudah. Ia merasa bahwa ia harus mempertimbangkan dengan matang konsekuensi dari hubungan mereka, terutama untuk kehidupan Daniel.
Sementara itu Daniel mulai merasa konsekuensi dari hubungannya dengan Laura mulai mempengaruhi pekerjaannya. Dia merasa tidak nyaman di kantor dan merasa bahwa dia tidak lagi dihargai oleh rekan-rekannya. Beberapa orang bahkan mulai menghindari dan mengabaikannya.
—
Suatu hari, ketika sedang makan siang di kantin, salah satu rekan kerjanya mulai mempermalukannya dengan berkata, "Hei Daniel, betapa tidak beretikanya kamu bisa menjalin hubungan dengan ibu tirimu sendiri? Kamu memalukan diri sendiri dan keluargamu. Kamu harus tahu bahwa hubungan seperti itu adalah tabu."
Daniel merasa marah dan kecewa. Ia merasa bahwa ia tidak pantas mendapat perlakuan seperti itu hanya karena ia menjalin hubungan dengan Laura. Ia mencoba untuk tetap tenang dan menjawab, "Saya mengerti bahwa hubungan ini sulit dipahami oleh beberapa orang, tetapi saya merasa sangat bahagia dengan Laura dan kami saling mencintai. Saya tidak merasa bahwa itu salah atau memalukan."
Namun, rekan kerjanya tetap bersikeras dan mengolok-oloknya lagi, "Kamu tidak punya rasa malu, Daniel. Bagaimana mungkin kamu mencintai ibu tirimu sendiri? Kamu harus mengakhiri hubungan ini sebelum kamu semakin memalukan dirimu dan keluargamu."
Daniel merasa sangat tertekan dan tidak tahu harus berbuat apa. Ia tahu bahwa hubungan mereka telah menjadi kontroversial dan menimbulkan banyak perdebatan di antara orang-orang yang mengenal mereka. Namun, ia merasa bahwa ia tidak bisa mengkhianati perasaannya untuk Laura.
Daniel merasa sangat marah dan frustrasi. Ia merasa bahwa ia sudah cukup sabar dan tidak bisa lagi menahan semua kecaman yang ia terima. Ia bangkit dari kursinya dan menatap rekan kerjanya dengan tajam.
"Sudah cukup!" ucap Daniel dengan suara yang menggelegar. "Aku sudah bosan dengan semua komentar pedas dan perlakuan dingin yang aku terima dari kalian. Aku mencintai Laura dan kami saling mencintai. Kami tidak merugikan siapa pun dengan hubungan kami, jadi apa masalah kalian?”
Rekan kerjanya tampak terkejut dengan reaksi Daniel yang keras. Namun, ia masih mempertahankan pendapatnya, "Aku tetap berpendapat bahwa hubungan kalian tidak etis. Kamu bisa saja mengubah pendapatmu sekarang, tapi di masa depan kamu akan menyesalinya."
Daniel tersenyum sinis, "Sudah cukup dengan semua omong kosongmu. Aku tidak akan menyesal karena mencintai seseorang yang aku sayangi. Dan jika itu membuatku menjadi tidak etis di mata orang lain, maka itu adalah masalah mereka, bukan masalahku."
__ADS_1
Setelah itu Daniel pergi meninggalkan rekan-rekan kerjanya dan mulai mengabaikan mereka, tetapi kecaman terus berlanjut. Rekan-rekannya mulai menghindarinya dan memperlakukannya dengan dingin. Beberapa orang bahkan mulai menjelek-jelekkan Laura di belakang punggung Daniel.
Daniel merasa sangat tertekan dan frustasi. Ia merasa bahwa ia tidak bisa melawan semua orang yang memandang rendah hubungan mereka. Namun, ia tahu bahwa ia mencintai Laura dan tidak ingin kehilangan dia.
Ketika Daniel pulang ke rumah, ia tidak menceritakan kejadian tersebut kepada Laura. Daniel hanya tidak ingin membuat Laura lebih khawatir terhadap dampak dari hubungan mereka.
Namun, kecaman dan kebencian tidak berhenti begitu saja. Beberapa tetangga mereka mulai menghindari Laura dan bahkan mengajak anak-anak mereka untuk tidak bermain dan mendekati Laura.
Laura merasa sedih dan kecewa dengan perilaku mereka. Ia merasa bahwa ia tidak pantas mendapatkan perlakuan seperti itu hanya karena ia mencintai seseorang yang tidak seharusnya dicintai menurut pandangan mereka.
Suatu hari, ketika Laura sedang berjalan-jalan di taman dekat rumahnya, seorang tetangga mereka mendekatinya dengan tatapan sinis.
"Tolong jangan dekat-dekat dengan anak saya lagi, Laura. Saya tidak ingin anak saya terpengaruh dengan hubungan yang tidak etis seperti ini," kata tetangga tersebut dengan nada tinggi.
Laura merasa sedih dan kecewa dengan sikap tetangga tersebut. Ia merasa bahwa ia tidak melakukan kesalahan apapun dan tidak pantas diperlakukan seperti itu.
Ia merasa marah dan tidak bisa menahan diri lagi. Ia mendekati tetangga tersebut dengan langkah yang pasti dan berkata, "Tolong jangan menganggap hubungan kami sebagai sesuatu yang tidak etis. Kami mencintai satu sama lain dan tidak merugikan siapa pun dengan hubungan kami. Jadi, tolong hentikan perilaku buruk kalian.”
Tetangga tersebut terlihat terkejut dengan reaksi Laura yang marah. Ia tidak berpikir bahwa Laura akan berbicara dengan cara tersebut. Namun, ia masih mempertahankan pendapatnya.
"Aku tidak peduli dengan hubungan kalian. Yang aku tahu, hubungan kalian tidak etis dan tidak pantas dilakukan. Aku tidak ingin anak-anakku terpengaruh dengan hubungan yang seperti itu," kata tetangga tersebut dengan nada yang tinggi.
__ADS_1
Lura tersenyum sinis, "Maafkan aku, tapi aku tidak akan membiarkan kamu memperlakukan Daniel atau aku dengan cara seperti itu. Kami mencintai satu sama lain dan tidak akan membiarkan orang lain menghentikan hubungan kami."
Setelah kejadian tersebut, Laura kembali ke rumah dengan hati yang berat. Ia merasa bahwa mereka tidak bisa berbuat banyak untuk menghentikan kecaman dan kebencian yang mereka terima dari orang-orang di sekitar mereka. Tetapi Laura tidak membicarakan hal tersebut kepada Daniel karena khawatir akan menambah beban pikiran untuk Daniel.