Terjebak Cinta Anak Tiri

Terjebak Cinta Anak Tiri
Chapter 21


__ADS_3

Laura duduk tegak di kursi pengadilan, hatinya berdebar-debar. Ruangan itu dipenuhi dengan suasana tegang, dengan hakim yang duduk di atas podium dan para pengacara yang memandangnya dengan tajam. Laura tahu bahwa saat ini dia sedang menjalani investigasi yang bisa mengubah hidupnya selamanya.


Pengacara keluarga mantan suaminya berdiri di depan pengadilan dengan buku catatan di tangannya. Dia dengan tegas menatap Laura seolah mencoba menemukan kelemahan dalam tatapannya yang tegar. "Apakah benar bahwa anda sedang menjalin hubungan kekasih dengan Daniel, putra tiri anda sendiri?" tanyanya dengan nada yang menantang.


Laura menelan ludahnya, mencoba menjaga ketenangannya. "Iya, itu benar," jawabnya pelan. "Daniel dan saya memiliki hubungan yang erat sejak beberapa bulan terakhir. Tapi kami mencintai satu sama lain, dan kami telah mencoba menjaga hal ini pribadi."


Pengacara itu mengangguk tajam. "Tapi, ibu Laura, anda menyadari bahwa ini adalah sebuah konflik kepentingan yang serius? Anda adalah ibu tiri dari Daniel. Apa yang membuat anda berpikir bahwa hubungan ini etis?"


Laura menghela nafas dalam-dalam, mencoba menjelaskan situasinya. "Saya memahami adanya konflik disini, tapi saya pikir setiap orang berhak mencari kebahagiaan dalam hidup mereka. Daniel dan saya saling menyayangi, dan kami tidak ingin menyakiti siapa pun. Kami mencoba menjaga hal ini terpisah dari hubungan keluarga kami, tapi cinta itu tidak bisa dipungkiri."


Hakim, seorang pria tua dengan jenggot abu-abu, mengangguk penuh pengertian. "Ibu Laura, saya memahami bahwa cinta bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja. Namun, apakah anda menyadari bahwa ini bisa berdampak pada perasaan orang-orang terdekat anda, termasuk keluarga bahkan teman Daniel sendiri?”


Laura menatap mata hakim dengan penuh harap. "Saya menyadari bahwa ini tidak mudah bagi Daniel, dan kami berdua telah berbicara banyak tentang ini. Kami mencoba menjaga perasaan dan kepentingan semua orang dalam lingkungan kami. Tapi saya tidak bisa menyangkal bahwa Daniel adalah orang yang memberikan saya kebahagiaan setelah kehilangan suami saya. Kami berdua hanya ingin menjadi bahagia."


Pengacara dari keluarga mantan suaminya mengangguk, lalu menggertakkan buku catatannya. "Ibu Laura, saya memahami bahwa anda telah melalui banyak kesulitan dan kehilangan. Tapi, apakah anda tahu bahwa hubungan ini bisa berpotensi menjadi pelanggaran etika? Anda adalah seorang ibu tiri yang seharusnya bertanggung jawab, dan ini bisa merusak kepercayaan yang diberikan pada anda dan juga merusak pandangan orang lain tentang ibu tiri.”


Laura menatap pengacara itu dengan mata penuh ketegasan. "Saya mengerti bahwa ada pertimbangan etika yang perlu dipertimbangkan, tetapi saya tidak bisa mengontrol perasaan saya. Apa yang Daniel dan saya miliki adalah sesuatu yang nyata, dan kami berdua berusaha menjaga agar tidak ada yang terluka. Saya tahu bahwa ini tidak mudah, tapi kami berdua memilih untuk menghadapinya bersama."

__ADS_1


Pandangan pengacara menjadi lebih serius, sedangkan hakim tampak terdiam dalam pemikiran. Setelah beberapa saat, hakim akhirnya mengeluarkan suara. "Ibu Laura, setelah mempertimbangkan semua bukti dan argumen yang diajukan, pengadilan memutuskan bahwa anda harus menjaga hubungan ini terpisah dari hubungan keluarga anda. Anda tidak boleh bertemu dengan Daniel sampai kasus ini selesai."


Laura merasakan sakit mendalam dalam hatinya, tapi dia mengangguk sebagai tanda pengertian. Dia tahu bahwa ini adalah kompromi yang harus dia buat untuk melindungi Daniel dan menjaga etika keluarga dan masyarakat.



Setelah persidangan berakhir, Laura keluar dari ruang pengadilan dengan langkah yang berat. Dia merasakan kekosongan di hatinya, tapi dia juga merasakan tekad yang kuat untuk menjaga hubungannya dengan Daniel. Dia tahu bahwa cinta mereka kuat, dan mereka berdua bersedia berjuang untuk menjaga api itu tetap menyala.


Saat Laura berjalan menuju mobilnya, dia melihat Daniel menunggunya di luar pengadilan. Wajahnya terlihat tegar, tapi juga penuh dengan cinta. Mereka saling menatap dalam diam, mengetahui bahwa saat ini mereka harus menghormati putusan pengadilan.


Laura menatap Daniel dengan penuh keyakinan. "Aku percaya padamu, Daniel. Kita akan melewati ini bersama-sama, dan suatu hari nanti, kita akan bersama tanpa ada hambatan." Mereka berdua saling berpelukan dengan erat, merasakan kehangatan dan cinta yang saling menguatkan.



Laura terduduk di lantai, memeluk lututnya yang gemetar. Dia tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi. Rumahnya yang pernah penuh cinta dan kehangatan sekarang dikepung oleh warga yang bersorak dan marah bahkan membawa alat-alat yang mengerikan. Mereka datang dengan satu tujuan yaitu menghancurkan rumah Laura.


Suasana menjadi begitu berisik dan kacau. Warga sekitar berteriak-teriak, membentak, dan melempar batu ke arah jendela rumah. Laura bisa mendengar suara pecahan kaca yang terpental dan menghantam dinding. Dia merasa ketakutan, terjepit di antara warga yang marah yang ingin menghancurkan rumahnya dan ketidakberdayaannya untuk melindungi apa pun yang tersisa dari kehidupannya yang lalu.

__ADS_1


Tiba-tiba, seorang pria marah berlari mendekat dan mendorong Laura hingga jatuh ke lantai. "Ini semua gara-gara kamu, Laura!" teriaknya dengan nada kasar. "Kamu membiarkan nafsu bejatmu itu mengaburkan pikiranmu dan merusak norma masyarakat kita!"


Laura terduduk di lantai, merasakan sakit fisik dan emosional. Laura meraba-raba tubuhnya yang terasa lemas. Rasa sakit fisik dari dorongan yang keras membuatnya merasa tak berdaya. Tangisnya pecah, bercampur aduk dengan kecaman dan ejekan yang dilayangkan oleh warga sekitar. Dia tidak bisa memahami bagaimana cinta yang dia miliki dengan Daniel bisa memicu kebencian sebesar ini. Dia merasa bersalah, merasa seperti dia yang bertanggung jawab atas semua kerusuhan ini.


Beberapa warga lain mendekat, mengepung Laura dengan tatapan penuh kemarahan. Mereka melambaikan tinju mereka di depan wajahnya dan meneriakkan kata-kata penghinaan. "Pergilah dari sini, Laura!" seru salah satu dari mereka. "Kami tidak ingin melihatmu lagi! Kamu telah menghancurkan kedamaian kami!"


Laura menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, mencoba melindungi diri dari hujan pukulan dan kata-kata yang menusuk hatinya. Dia merasakan kehancuran yang tidak terbayangkan sebelumnya. Dia tahu bahwa hidupnya akan berubah setelah kehilangan suaminya, tapi dia tidak pernah membayangkan bahwa akan menjadi seperti ini.


Tiba-tiba, suara nyaring memecah kebisingan para warga. “Cukup!" teriak seorang pria dari kejauhan. Semua orang berhenti dan menoleh ke arah suara itu. Tampak seorang pria muda dengan pakaian rapi berdiri di tengah kerumunan, menatap mereka dengan tegas.


Pria itu melangkah maju dan menunjuk ke arah Laura. "Kalian semua harus malu! Bagaimana mungkin kita membangun keadilan dan kedamaian dengan kekerasan dan permusuhan?" suaranya memecah keheningan yang mencekam. "Laura adalah tetangga kita, saudara kita! Kita harus saling mendukung dan menemukan jalan damai untuk menyelesaikan masalah ini."


Kerumunan warga itu agak terdiam, beberapa di antaranya tampak merenungkan kata-kata pria muda itu. Laura berterima kasih dalam hati kepada orang asing itu yang telah berdiri untuk membela dirinya. Dia merasa sedikit lega untuk percaya bahwa masih ada harapan untuk kedamaian di tengah kerusuhan ini.


Pria muda itu berjalan mendekat ke arah Laura, membantunya bangkit dari lantai. "Maafkan mereka, Laura," katanya dengan suara lembut. "Mereka hanya takut dengan kondisi yang ada dan membutuhkan seseorang untuk disalahkan. Tetapi itu tidak sepenuhnya salahmu. Kita bisa menyelesaikan ini dengan berbicara dan mencari solusi bersama."


Laura mengangguk, ia mencoba berdiri dibantu oleh pria muda tersebut.

__ADS_1


__ADS_2