
“Mari, Laura. Aku akan mengajakmu meluhat isi di dalam pondok pesantren ini, ada banyak tempat menarik yang belum pernah kamu lihat sebelumnya," kata Ilham sambil tersenyum.
Laura melihat sekelilingnya dengan rasa penasaran. Hutan yang mengelilingi pondok pesantren itu tampak subur dan hijau. Suara gemericik air sungai yang mengalir di dekatnya terdengar jelas. Dia merasa semakin bersemangat untuk menjelajahi tempat ini.
"Baiklah, Ilham. Aku siap mengikuti petualanganmu," jawab Laura dengan senyum yang penuh semangat.
Mereka melewati jalan setapak yang dikelilingi oleh pepohonan tinggi dan lebat. Suasana tenang dan damai segera menyelimuti mereka saat mereka berjalan bersama.
"Mengapa ayahmu memilih membangun pondok pesantren di tengah hutan seperti ini?" tanya Laura.
Ilham tersenyum. "Ayahku percaya bahwa keindahan alam dan ketenangan lingkungan dapat memberikan kedamaian dan ketenangan bagi orang-orang yang datang ke sini untuk belajar agama dan beribadah. Dia ingin menciptakan tempat yang nyaman bagi mereka."
Mereka terus berjalan dan sampai di sebuah danau kecil yang dikelilingi oleh bunga-bunga indah. Air danau terlihat begitu jernih dan mencerminkan langit biru di atasnya.
"Ini danau yang sangat indah, Ilham," kata Laura kagum.
Ilham mengangguk. "Ya, danau ini memiliki legenda menarik. Konon, jika seseorang melemparkan batu ke dalam danau ini dengan niat baik, keinginannya akan menjadi kenyataan."
Laura tersenyum sambil mengambil batu kecil di dekatnya. Dia memegangnya dengan erat dan melemparkannya ke dalam danau dengan penuh harapan.
"Semoga semua keinginan baikmu menjadi kenyataan, Laura," ucap Ilham dengan tulus.
Mereka melanjutkan perjalanan mereka dan tiba di sebuah bangunan tua yang terbuat dari kayu. Itu adalah madrasah tua yang telah berusia ratusan tahun.
"Ini madrasah tua tempat ayahku belajar dulu," cerita Ilham. "Di dalamnya ada banyak pengetahuan dan sejarah yang tersembunyi. Ayo, mari kita masuk dan melihatnya."
Mereka memasuki madrasah tua dan merasakan aura kekunoannya. Di dalam, terdapat banyak buku-buku kuno dan prasasti bersejarah yang dipajang di dinding.
"Wow, ini benar-benar menakjubkan," kata Laura sambil memandangi sekelilingnya.
"Aku senang kamu suka," ujar Ilham. "Ayahku ingin menjaga sejarah dan pengetahuan di sini agar tidak terlupakan. Dia berharap generasi mendatang bisa belajar dari masa lalu."
__ADS_1
Setelah menjelajahi madrasah tua, Ilham dan Laura melanjutkan perjalanan mereka ke sebuah bukit kecil di dekatnya. Dari puncak bukit, mereka bisa melihat pemandangan yang menakjubkan: hutan yang luas dan indah terbentang di bawah mereka, dikelilingi oleh pegunungan yang menjulang tinggi.
"Ini adalah tempat favoritku di sini," kata Ilham. "Saat matahari terbenam, pemandangan dari sini sungguh memukau. Aku sering duduk di sini untuk merenung dan bersyukur atas keindahan ciptaan Allah."
Laura dan Ilham duduk di atas rumput di puncak bukit itu. Angin sepoi-sepoi berhembus lembut, sementara matahari terbenam memberikan sentuhan keemasan pada lanskap sekitar mereka. Mereka saling memandang dengan senyuman, menikmati keindahan alam di sekitar mereka.
Ilham melihat raut wajah Laura yang sedikit lesu. Ilham menghela nafas, “Laura, bolehkah aku bertanya tentang bagaimana perkembangan masalahmu belakangan ini?”
Laura pun menghela nafas panjang dan berkata, “Maksudmu masalahku dengan Daniel?”
Ilham mengangguk.
“Orang-orang di sekitar kami masih merasa bahwa hubungan kami tidaklah tepat, karena status kami sebagai ibu tiri dan anak tiri. Tetapi aku tidak menganggap Daniel sebagai anak tiriku, ia berada di tempat yang spesial di hatiku,” ucap Laura tertunduk lesu.
“Aku bisa memahami mengapa orang-orang mungkin merasa seperti itu. Tapi, apakah kamu dan Daniel bahagia bersama?” Tanya Ilham.
Laura tersenyum lembut. “Ya, sangat bahagia. Daniel adalah orang yang luar biasa dan kami saling mencintai dengan tulus. Tapi, sulit bagi kami untuk melihat orang lain tidak mendukung hubungan kami.”
Laura sedikit ragu untuk mengangguk. “Ya, aku membicarakan hal itu kepada Daniel, tetapi tidak semua hal aku ceritakan, karena Daniel juga merasa terbebani dengan pandangan orang lain, terutama dari keluarga dan teman-teman kami.”
Ilham terdiam tidak mengatakan apa-apa, “kitq balik sekarang?”
Laura pun menganggukkan kepalanya.
—
Ilham dan Laura berjalan menyusuri lorong-lorong pondok pesantren setelah mengagumi keindahan alam di sekitar mereka. Di sepanjang jalan, mereka bertemu dengan beberapa santri yang tengah melintas. Ketika santri-santri itu melihat Ilham, mereka segera menghampirinya dengan rasa hormat.
"Assalamu'alaikum, Ustad Ilham," sapa salah seorang santri dengan suara lembut.
"Wa'alaikum salam," jawab Ilham sambil tersenyum. "Bagaimana kabarmu?"
__ADS_1
"Saya baik, Ustad. Terima kasih atas ilmu dan bimbingan yang Ustadz berikan kepada kami," ujar santri lain sambil melihat Laura dengan rasa penasaran.
Ilham memperkenalkan Laura kepada para santri. "Ini adalah Laura, teman saya. Dia tertarik untuk mengenal lebih dekat tentang pesantren ini."
Santri pertama, bernama Ali, menatap Laura dengan senyum lebar. "Assalamu'alaikum, Kak Laura.”
Laura membalas sapaan dengan sopan, "Wa'alaikum salam, Ali. Terima kasih atas sambutannya.”
Santri kedua, bernama Huda, bergabung dalam percakapan. "Ustad Ilham, kami mendengar kabar bahwa Kak Laura adalah calon istri Ustad. Benarkah?"
Semua santri-santri itu menggoda Ilham yang wajahnya langsung tersipu malu dan berubah merah.
Ilham tersenyum dan berusaha menenangkan suasana. "Hehe, itu hanya lelucon dari teman-temanmu, Huda. Laura adalah teman baik saya.”
Santri ketiga, Farhan, tertawa kecil. "Tapi, Ustad, kami yakin Kak Laura cocok menjadi istri Ustad. Kami bisa melihat kedekatan kalian berdua."
Laura dan Ilham saling pandang, kemudian tertawa kecil. Ilham menjelaskan dengan lembut, "Kalian semua mengambil lelucon ini terlalu serius. Laura dan saya hanya menjalin persahabatan yang baik. Jangan sampai ada salah paham."
Santri keempat, Zahra, berbicara dengan polos, "Tapi, Ustad, jujur saja, apakah Ustad tertarik dengan Kak Laura?"
Laura merasa sedikit malu dengan pertanyaan itu, sementara Ilham hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan dari santri-santri itu.
“Sudah sekarang kalian segera pergi ke masjid, Ustad mau bersiap-siap juga, Assalamu’alaikum,” ucap Ilham berlalu pergi diikuti oleh Laura.
“Wa’alaikumsallam,” jawab santri-santri itu bersamaan dan masih meninggalkan tawa mereka yang berhasil mengerjai Ustad Ilham.
Ilham dan Laura melanjutkan perjalanan mereka menyusuri lorong-lorong pondok pesantren. Di dalam hati, Laura berdoa agar Ilham selalu mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya, sebagaimana dia juga berharap untuk mendapatkan kebahagiaan sendiri.
Di sepanjang jalan, mereka bertemu dengan beberapa guru dan staf pondok pesantren yang juga menyapa Ilham dengan penuh penghormatan.
"Aku sangat terkesan dengan pondok pesantren ini dan keramahn semua orang di sini," kata Laura kepada Ilham. "Mereka juga sangat beruntung memiliki seorang ustad seperti kamu Ilham.”
__ADS_1
Ilham tersenyum dan menjawab, "Ya, aku merasa sangat beruntung dan bersyukur. Pondok pesantren ini bukan hanya tempat tinggal bagiku, tetapi juga merupakan tempat di mana aku dapat belajar dan berkembang bersama dengan santri-santri dan orang-orang disini.”