
Pada suatu pagi yang cerah, Daniel duduk di tepi tempat tidurnya, memandangi langit biru yang mengintip melalui jendela kamarnya. Rambut hitamnya yang kusut mencerminkan kebingungannya yang mendalam. Setelah skandal hubungan terlarang dengan ibu tirinya, Laura, mencuat ke publik, hidupnya berubah menjadi kekacauan. Ia telah mencoba mencari pekerjaan di berbagai tempat, tetapi setiap kali CV-nya diserahkan, kejadian itu terulang kembali di pikiran perekrut. Skandal itu tampaknya menempel pada dirinya seperti bayang-bayang yang menghantui.
Tapi hari ini, Daniel merasa berbeda. Ia memutuskan untuk menghadapi masa lalunya dan mencari pekerjaan dengan tanpa menghiraukan prasangka orang-orang. Setelah mencari-cari lowongan pekerjaan yang sesuai, namanya terjebak di pikirannya: Emilia. Emilia adalah mantan kekasihnya, tetapi ia juga merupakan pemilik perusahaan keluarganya yang terkenal. Daniel merasa ini adalah kesempatan terakhirnya untuk mengubah nasibnya.
Tanpa ragu, Daniel memakai setelan jas yang rapi dan berangkat menuju kantor Emilia. Perusahaan itu berlokasi di sebuah gedung pencakar langit yang megah dan mewah. Ketika Daniel memasuki lobi, ia merasa tegang. Tetapi, dengan sikap penuh keyakinan, ia melangkah maju menuju meja resepsionis.
"Selamat datang di perusahaan Wijaya Tbk. Ada yang bisa saya bantu?" sapa resepsionis dengan ramah.
"Terima kasih. Saya ingin bertemu dengan Emilia," jawab Daniel sambil berusaha menjaga ketenangan.
"Maaf, apakah anda punya janji?" Tanya resepsionis.
"Belum. Tapi saya harap bisa mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengannya." Ucap Daniel tenang.
Resepsionis mengernyitkan kening, “saya coba menghubungi Ibu Emilia dulu ya pak.”
Daniel pun menganggukkan kepalanya.
Resepsionis mengambil telepon dan mulai menekan beberapa nomor, tidak lama setelah itu. “Halo, Ibu Emilia? Ada tamu yang ingin bertemu dengan Anda. Namanya Daniel. Apakah saya bisa mengizinkannya masuk?”
“Daniel? Saya tidak ada janji bertemu dengannya. Apakah dia memberi tahu Anda mengenai tujuannya?” Tanya Emilia.
“Bapak Daniel hanya menyampaikan bahwa beliau ingin bertemu dengan ibu dan membicarakan sesuatu yabg penting,” jawab Resepsionis itu.
Emilia berpikir sejenak. “Baiklah, izinkan dia masuk. Sampaikan padanya untuk menunggu di ruang tunggu saya.”
__ADS_1
Resepsionis tersenyum dan menjawab. “Tentu, Ibu. Saya akan memberitahunya.” Resepsionis mengakhiri panggilan telepon dan melihat ke arah Daniel. “Silakan masuk, Bapak Daniel. Ibu Emilia akan segera menemui anda.”
Resepsionis itu memberikan sebuah kartu akses ke Daniel.
“Terima kasih banyak.” Ucap Daniel.
Resepsionis mengangguk ramah
Daniel menaiki lift menuju lantai eksekutif, hatinya berdegup kencang. Ketika pintu lift terbuka, ia melihat ruangan yang lapang dengan pemandangan kota yang menakjubkan dari jendela. Ruangan itu dipenuhi dengan kegiatan orang-orang yang sedang bekerja.
Daniel melihat Emilia sedang berdiri di ujung ruangan, memperhatikan bawahannya yang sedang bekerja dengan serius. Wanita itu terlihat berpenampilan elegan dan anggun seperti biasanya.
Emilia melihat Daniel memasuki ruangan, dan ekspresi langsung berubah menjadi senang. "Daniel? Apa yang kamu lakukan di sini?" tanyanya dengan senang dan mendekati Daniel.
"Saya ingin berbicara denganmu, Emilia," jawab Daniel, mencoba mengontrol suaranya yang berguncang.
"Baiklah, Daniel. Aku tidak tahu apa yang ingin kamu bicarakan atau apa ada sesuatu yang terjadi padamu atau ibumu?” tanya Emilia khawatir.
Daniel mengambil napas dalam-dalam. "Emilia, kamu tahu tentang masalah yang aku alami akhir-akhir ini tentang hubunganku dengan Laura. Tetapi aku ingin mengubah hidupku. Skandal itu telah menghancurkan peluangku mendapatkan pekerjaan dan menghancurkan kepercayaan diriku. Aku datang ke sini dengan harapan bahwa kamu akan memberiku kesempatan untuk membuktikan diriku."
Emilia mendengarkan dengan perasaan campur aduk. Ia merenung sejenak, kemudian berkata, "Daniel, apa yang telah kamu lakukan sangatlah serius dan terlalu sulit untuk di terima orang banyak. Namun, aku mengenalmu sejak lama, aku tahu kamu orang yang sangat baik. Jika kamu benar-benar ingin mengubah hidupmu, kamu perlu membuktikannya. Aku akan memberimu kesempatan, tetapi kamu harus membuktikan dirimu lebih dulu."
Daniel merasa ada semangat baru yang menggelora di dalam dirinya. Ia tahu bahwa ini adalah kesempatan yang ia tunggu-tunggu. "Terima kasih, Emilia. Aku tidak akan mengecewakanmu."
Tiba-tiba saja pintu ruangan Emilia terbuka secara kasar, disana berdiri seorang pria paruh baya yang memancarkan aura kekuasaan. Dia adalah pemilik dari sebenarnya dari perusahan besar ini sekaligus ayah dari Emilia, Abraham Wijaya.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan di sini, Daniel?" tanya Abraham dengan suara yang penuh amarah.
Daniel menelan ludah dan mencoba menjaga ketenangannya. "Saya ingin meminta bantuan kepada Emilia, Om. Saya datang untuk meminta pekerjaan.”
Abraham menjadi semakin marah dan mendekati Daniel dengan langkah kasar. "Kamu berani mengatakan itu dan meminta bantuan Emilia, setelah apa yang kamu lakukan dengan ibu tirimu? Kamu akan menghancurkan keluarga kami dan merusak nama baik Emilia!"
Emilia mencoba menenangkan ayahnya. “Papa, biarkan aku dan Daniel bicara. Pap harus mendengarkan penjelasan Daniel terlebih dahulu.”
Ayah Emilia melirik putrinya dengan pandangan tajam, tetapi akhirnya mengalah dan duduk di salah satu kursi di ruangan itu, tetapi masih memancarkan ketidaksetujuannya.
Daniel mengambil nafas dalam-dalam dan memulai penjelasannya dengan suara yang sedikit bergetar. “Saya tidak bisa mengatakan hubungan saya dengan Laura adalah sebuah kesalahan. Kami saling mencintai dan saling menyayangi tanpa berniat untuk membuat keributan seperti sekarang ini. Saya datang ke sini dengan niat baik, ingin memperbaiki hidup saya dan membuktikan bahwa saya bisa menjadi orang yang lebih baik."
Ayah Emilia mendengus dengan skeptis. "Kamu pikir penjelasanmu akan menghapus semua berita-berita di luar sana? Kamu telah melakukan sesuatu yang di luar etika, berhubungan dengan ibu tirimu sendiri seperti suami istri dan sekarang kamu datang kesini mencoba untuk menghancurkan nama baik keluarga kami karena berharap kami akan menolongmu? Apa kata orang-ornag nanti.”
Daniel menatap ayah Emilia dengan mata yang penuh ketulusan. "Saya hanya berharap Om dan Emilia dapat memberikan saya kesempatan untuk bekerja disini, saya berjanji akan melakukan yang terbaik.”
Emilia memberikan dukungannya pada Daniel. "Papa, kita semua punya kesalahan. Daniel datang ke sini untuk memperbaiki dirinya. Apakah kita tidak bisa memberinya kesempatan untuk membuktikannya?"
Ayah Emilia terdiam sejenak, matanya beralih antara Daniel dan Emilia. Suasana ruangan menjadi sangt tegang, sedangkan Daniel merasa hatinya berdebar-debar.
"Daniel,” ujar Abraham dengan suara tegas, "jika kamu benar-benar ingin bekerja di perusahaan keluarga kami, kamu harus membuat sebuah keputusan. Kamu harus mengakhiri hubungan dengan Laura, ibu tirimu, segera dan tanpa pengecualian."
Daniel terdiam sejenak, mencoba mengolah kata-kata tersebut. Perasaannya bergolak antara cinta yang masih ia rasakan untuk Laura dan peluang emas yang dihadapinya untuk memperbaiki hidupnya.
Ayah Emilia menatap Daniel dengan tajam, “Daniel, Om tidak ingin melihat Emilia terus menderita akibat skandal ini. Kamu memiliki potensi besar, tetapi kamu juga harus bertanggung jawab atas kesalahanmu. Kamu harus memilih antara hubungan dengan Laura atau kesempatan untuk bekerja di perusahaan kami."
__ADS_1
Daniel menyadari bahwa pilihan ini akan mengubah hidupnya.