
“Dulu, saat aku masih kecil, aku tak pernah menyangka bahwa hidupku akan berubah sedemikian rupa," ucap Daniel dengan suara serak. "Aku selalu merasa bahwa aku hidup dalam keluarga yang bahagia. Tapi semuanya berubah ketika aku mengetahui tentang kebenaran dari keluargaku bahkan saat Tom, ayah kandungku meninggal dalam kecelakaan mobil itu."
Emilia menatap Daniel dengan penuh simpati, memegang tangan Daniel dengan lembut. "Aku tahu betapa beratnya semua hal yang kamu rasakan sekarang, Daniel.”
Daniel menghela nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan, "Setelah mendengar tentang meninggalnya ayah kandungku, aku sempat bingung. Aku hanya ingin datang ke pemakamannya dan melupakannya, tetapi saat itu aku melihat Laura. Aku melihat kesedihannya yang akan hidup sendiri setelah kepergian suaminya, membuat hati kecilku tergerak untuk membantunya dan hubungan kami pun terus berlanjut sampai kami merasa nyaman dan ingin hubungan yang lebih.”
Emilia mendengarnya dengan seksama. “Apa kamu yakin dengan hubungan ini? Ini adalah hubungan yang mungkin akan dianggap oleh sebagian banyak orang adalah hubungan yang tidak etis.”
Daniel menangis, kebingungan dan frustasi menghantui wajahnya. "Aku tahu, Emilia. Aku juga tidak pernah berharap ini terjadi. Tapi cinta itu datang begitu saja, tanpa permisi. Aku mencoba melawan perasaan itu, aku mencoba menjauh, tetapi semakin kuat rasa itu tumbuh di dalam hatiku."
Emilia merasa campur aduk. Dia mencoba mencerna semua yang baru saja dia dengar. "Dan apa yang terjadi setelah itu? Apakah Laura merasakan hal yang sama?"
Daniel menggelengkan kepala sambil menyeka air mata yang mengalir di pipinya. "Laura, dia... dia berusaha menolak perasaannya, Emilia. Tapi aku melihat kegelisahannya, ekspresi yang mengisyaratkan cinta yang sama. Kami merasa terjebak dalam perasaan ini, terjebak dalam cinta terlarang yang kami tidak bisa kendalikan."
Emilia merasa kehilangan kata-kata. Dia mencoba memahami situasi ini, tetapi rasanya begitu rumit dan membingungkan. "Dan apa yang terjadi selanjutnya?"
Daniel mengambil napas panjang, mencoba meredakan ketegangan yang menghantui dirinya. "Ketika orang-orang mulai mencurigai hubungan kami, persidangan dimulai. Aku dituduh menggoda Laura, menghancurkan nama baik keluarga ayah kandungku. Mereka memfitnah kami, Emilia. Mereka tidak mengerti bahwa ini bukanlah sesuatu yang bisa kami kendalikan."
Emilia merasa semakin berat mendengarnya. "Dan bagaimana persidangannya?"
Daniel menghela nafas dalam-dalam, matanya terlihat lelah. "Persidangan itu berjalan dengan buruk, Emilia. Semua bukti dan kesaksian terhadapku begitu menghancurkan. Aku diberhentikan dari pekerjaanku, rekan-rekan dan teman-teman memalingkan wajah, menuduhku sebagai seorang yang tidak bertanggung jawab."
__ADS_1
Emilia merasa marah dan kesal atas ketidakadilan ini. "Tapi, Daniel, bukankah kita bisa membuktikan bahwa cinta kalian bukanlah suatu kejahatan? Bukankah ada cara untuk memperbaiki situasi ini?"
Daniel menatap Emilia dengan ekspresi keputusasaan. "Aku sudah mencoba, Emilia. Aku sudah mencari cara untuk membuktikan bahwa cinta kami tidak salah, tapi sepertinya tidak ada harapan lagi. Semua orang sudah memutuskan bahwa aku adalah pria yang jahat.”
Emilia mencoba memegang erat tangan Daniel. "Daniel, meskipun semua orang tidak mengerti, aku di sini untukmu. Aku tahu bahwa kamu bukanlah pria jahat. Kita harus mencari jalan keluar dari situasi ini, bersama-sama."
Emilia masih melihat Daniel bersedih. Hatinya terasa hancur melihat keadaan Daniel yang begitu rapuh.
Emilia memeluk Daniel erat. "Daniel, aku tahu ini sangat sulit bagimu. Aku tahu betapa besar rasa frustasimu dan semua beban yang kamu pikul saat ini. Tapi, ingatlah bahwa kamu tidak sendirian. Aku ada di sini untukmu, dan kita akan melewati ini bersama-sama."
Daniel menangis di bahu Emilia, membiarkan semua air matanya tumpah. "Aku merasa begitu hancur, Emilia. Aku merasa seperti segalanya runtuh di depanku. Aku kehilangan ayahku, kehilangan pekerjaanku, dan sekarang hidupku dipenuhi dengan skandal dan tuduhan."
Emilia mengelus punggung Daniel dengan lembut. "Sedih dan putus asa adalah perasaan yang wajar dalam situasi seperti ini. Kamu tidak perlu menahan segala rasa sakit itu sendirian. Biarkan aku membantu mengangkat bebanmu."
Emilia menatap Daniel dengan tulus. "Daniel, rasa bersalah itu alami, tapi kamu tidak boleh membiarkannya menghancurkanmu. Setiap orang melakukan kesalahan dalam hidupnya, dan yang terpenting adalah bagaimana kita belajar darinya dan berubah menjadi orang yang yang lebih baik. Kita semua layak mendapatkan kesempatan kedua."
Daniel menatap Emilia dengan tatapan campur aduk. "Tapi, apakah kami pantas mendapatkan kesempatan kedua? Apakah kami pantas mendapatkan kebahagiaan setelah semua yang telah kami lakukan?"
Emilia tersenyum lembut. "Daniel, kita semua manusia. Kita semua berbuat kesalahan. Tapi, kita juga bisa belajar, tumbuh, dan memperbaiki diri. Kita pantas mendapatkan kebahagiaan, asalkan kita bersedia untuk memperbaiki kesalahan kita dan memperjuangkannya dengan baik."
Daniel menghela nafas dalam-dalam. "Tapi bagaimana dengan semua yang orang lain katakan tentang kami? Bagaimana dengan persidangan dan reputasi kami yang hancur?"
__ADS_1
Emilia memegang tangan Daniel dengan erat. "Daniel, kita tidak bisa mengendalikan apa yang orang lain pikirkan atau katakan tentang kita. Mereka mungkin tidak memahami situasi kita sepenuhnya atau tidak memiliki empati. Yang penting adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri. Jika kita tahu dalam hati bahwa kita berusaha menjadi lebih baik, maka itulah yang harus kita pedulikan."
Daniel menatap Emilia dengan penuh harap. "Apakah kamu benar-benar percaya bahwa kami bisa melalui ini dan menemukan kebahagiaan di tengah semua ini?"
Emilia tersenyum penuh keyakinan. "Ya, Daniel. Aku percaya. Aku percaya pada kalian dan pada kekuatan cinta kalian. Bersama-sama, kalian akan menemukan jalan keluar dan membangun masa depan yang lebih baik. Kalian akan menghadapi tantangan ini dengan keberanian dan tekad yang kuat." Mereka berpelukan erat, merasakan kenyamanan satu sama lain.
—
Daniel menatap foto Laura di ponselnya dengan tatapan cinta, kekhawatiran, dan kebingungan. Dia ingin membuka hatinya dan berbagi semua beban yang dia rasakan, tetapi dia juga takut akan dampak yang mungkin terjadi pada hubungan mereka.
Tiba-tiba ponselnya berdering dan menampilkan nama Laura di layarnya. Dengan sedikit gugup Daniel mengangkat panggilan tersebut.
“Halo,” ucap Daniel.
“Daniel, apakah kamu baik-baik saja?” Tanya Laura lembut.
Mendengar pertanyaan Laura membuat Daniel terdiam sejenak, ia tahu bahwa sekarang ia sedang tidak baik-baik saja, tetapi dia tidak ingin membuat Laura merasa terbebani dengan permasalahannya sekarang.
“Aku baik-baik saja, Laura.” Bohong Daniel, dengan sangat terpaksa ia harus berbohong kepada Laura.
Terdengar hembusan napas kasar Laura pada ponsel Daniel.
__ADS_1
“Daniel, aku tahu kamu sedang tidak baik-baik saja. Aku tahu bagaimana persidangan terakhirmu dan tentang pekerjaanmu,” ucap Laura serak mencoba menahan tangis.