Terjebak Cinta Anak Tiri

Terjebak Cinta Anak Tiri
Chapter 28


__ADS_3

Laura duduk di ruang tamu pondok pesantren, menunggu Ilham yang sedang bersiap-siap. Mereka telah menghabiskan siang ini melihat-lihat isi pondok pesantren, dan Ilham merasa saatnya untuk memperkenalkan Laura pada agamanya yang lebih luas. Ilham pun memanggil Laura untuk ikut mendengarkan kajian yang akan dia berikan di masjid pondok pesantren.


"Sudah siap, Laura?" tanya Ilham dengan senyuman.


Laura mengangguk antusias. "Ya, aku siap. Aku sangat penasaran dengan kajianmu. Apa topiknya kali ini?"


Ilham menjelaskan, "Kali ini, kajianku akan membahas tentang mencari ketenangan hidup. Kita akan membahas bagaimana menemukan kedamaian dalam diri sendiri di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang penuh tekanan."


Mereka berdua berjalan tenang di bawah sinar oranye matahari sore menuju masjid pondok pesantren. Laura memakai hijab putih yang menutupi rambutnya, sementara Ilham mengenakan jubah hitam yang menjadikannya terlihat kharismatik.


Saat mereka memasuki masjid, suasana sunyi dan khusyuk menyambut mereka. Udara dalam masjid terasa sejuk, menyegarkan tubuh yang kepanasan di luar. Karpet merah muda yang lembut melapisi lantai masjid, memberikan suasana yang nyaman dan damai. Ornamen-ornamen Islami yang terpajang di dinding mempercantik ruangan, menambah kerahmatannya.


Ilham berjalan tenang menuju mimbar yang terletak di tengah masjid. Dia memanjatkan doa dalam hatinya agar kajiannya mendapatkan ridha Allah dan memberikan manfaat bagi jamaah. Sementara itu, Laura mencari tempat duduk di antara jamaah yang lain. Dia merasa damai melihat para jamaah yang tengah berdoa, seakan-akan mereka sedang berkomunikasi langsung dengan Sang Pencipta.


Setelah doa yang singkat, Ilham memulai kajiannya dengan suara yang tenang namun jelas. "Bismillahirrahmanirrahim," ucapnya seraya membuka mushaf Al-Quran yang ada di hadapannya. "Allah berfirman dalam Al-Quran Surah Ar-Ra'd ayat 28, 'Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.'"

__ADS_1


Para jamaah menyimak dengan penuh perhatian. Suasana semakin hening, dan wajah mereka memancarkan ketenangan yang Ilham bahas dalam kajiannya. Ilham melanjutkan, "Pertanyaan saya untuk kita semua adalah, bagaimana cara kita mencari ketenangan dan kedamaian dalam hidup ini? Apakah kita sudah cukup berusaha untuk mengingat Allah dalam setiap langkah kita?"


Laura duduk dengan hati yang tenang, mencerna pertanyaan Ilham. Dia merasa pertanyaan itu seperti menyentuh hati dan pikirannya secara pribadi. Laura mengamati para jamaah di sekitarnya, melihat bagaimana mereka berusaha merenungkan pertanyaan yang diajukan. Beberapa wajah tampak serius dan berfokus, sedangkan yang lain mengangguk-anggukkan kepala sebagai respon.


Dengan suara yang tenang, Ilham berkata, "Saudara-saudara sekalian, saya ingin berbagi sedikit pemikiran tentang pertanyaan saya tadi.”


Jamaah-jamaah menoleh ke arahnya, tertarik akan kata-katanya. Dengan tenang Ilham melanjutkan, “Mencari ketenangan dan kedamaian dalam hidup ini adalah perjalanan panjang yang tidak pernah berhenti. Memang, mengingat Allah dalam setiap langkah adalah kunci utama untuk mencapainya, namun kita juga harus menyadari bahwa hidup ini penuh dengan ujian dan tantangan."


"Saat kita menghadapi kesulitan, baik itu dalam bentuk cobaan atau godaan, bagaimana kita bereaksi? Apakah kita tetap teguh mengingat Allah dan mempercayai rencana-Nya, ataukah kita merasa putus asa dan menjauh dari-Nya? Ketenangan dan kedamaian bisa ditemukan ketika kita mampu menjaga hati kita tetap tenang dan sabar dalam menghadapi segala cobaan yang diberikan-Nya."


Ilham berhenti sejenak, memberikan waktu bagi jamaah lain untuk merenungkan kata-katanya. Laura merasa hatinya tersentuh oleh kata-kata jamaah tersebut. Dia merenung tentang reaksi-reaksi yang dia tunjukkan saat menghadapi kesulitan dalam hidupnya. Apakah dia selalu mampu menjaga ketenangan dan mengingat Allah, ataukah sering kali dia terbawa arus emosi dan keputusasaan?


Ilham memberikan sebuah pertanyaan kembali. “Apakah kalian pernah merasa hampa dan kehilangan arah dalam hidup? Apakah kalian mencari ketenangan, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana?"


Para jamaah merenung sejenak setelah pertanyaan yang diajukan oleh Ilham. Di antara mereka terdapat seorang wanita muda yang tampak ragu dan penuh keraguan. Ia berdiri dengan perlahan dan mengambil kesempatan untuk berbicara.

__ADS_1


"Dalam beberapa tahun terakhir, saya merasakan kekosongan dan kehilangan arah dalam hidup saya," ucap wanita muda itu dengan suara yang lembut. "Saya mencoba mencari ketenangan dan kedamaian, tetapi terkadang rasanya sulit untuk menemukan langkah pertama."


Wanita itu melanjutkan, "Saya merasa tersesat dan tidak tahu harus mulai dari mana. Namun, kemudian saya menyadari bahwa mencari ketenangan dan kedamaian adalah perjalanan yang membutuhkan kesabaran dan upaya yang terus menerus."


Ilham mengangguk, memahami perasaan wanita itu. Ia memberikan senyuman dan memberi semangat. "Terima kasih telah berbagi, saudari. Anda tidak sendirian dalam perasaan tersebut. Banyak dari kita pernah merasakan hal yang sama. Namun, ingatlah bahwa dalam kehidupan ini, Allah selalu menyediakan jalan keluar untuk setiap kesulitan yang kita hadapi."


Ilham melanjutkan, "Mulailah dengan mengingat Allah dan memperdalam pemahaman tentang agama kita. Dengan membaca dan memahami ayat-ayat suci Al-Quran, kita akan menemukan petunjuk dan hikmah yang diberikan oleh Allah. Selain itu, berusaha untuk menjalankan ibadah secara konsisten dan sungguh-sungguh, seperti shalat, puasa, dan berdzikir, akan membantu kita mendekatkan diri kepada-Nya."


Ilham memandang seluruh jamaah dengan penuh semangat. "Dan yang tidak kalah pentingnya, temukan lingkungan yang mendukung dalam perjalanan kalian mencari ketenangan itu. Cari komunitas atau teman yang dapat memberikan dukungan untuk kalian. Berdiskusi, berbagi pengalaman, dan saling memotivasi akan memberikan kekuatan dan bimbingan dalam mencari ketenangan dan kedamaian."


"Seringkali kita terlalu terpaku pada pencapaian materi, popularitas, atau pencapaian lainnya. Tapi, sesungguhnya, ketenangan yang sejati tidak bisa ditemukan di luar diri kita. Ketenangan itu ada di dalam, dalam hubungan kita dengan Tuhan dan dengan diri kita sendiri," ujar Ilham dengan penuh semangat.


Ilham melanjutkan kajiannya dengan menjelaskan praktik-praktik spiritual yang dapat membantu mencapai ketenangan hidup. Dia berbicara tentang pentingnya beribadah dan mengamalkan nilai-nilai agama.


"Kita harus menciptakan ruang di dalam diri kita untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Ruang yang tenang di mana kita bisa melepaskan beban dan kekhawatiran kita. Di sinilah ketenangan sejati dapat ditemukan," kata Ilham dengan tegas.

__ADS_1


Kajiannya terus berlanjut dengan tanya jawab dan diskusi interaktif antara Ilham dan jamaah. Laura termenung setelah mendengarkan kahian dari Ilham, dia memikirkan kembali akan hubungannya dengan Daniel.


Dengan perlahan Laura berdiri dari duduknya bahkan saat kajian itu belum selesai, ia meninggalkan masjid dengan perasaan yang tidak menentu.


__ADS_2