Terkena Panah Sang Dewi

Terkena Panah Sang Dewi
Bab 10 Menghapus ingatan


__ADS_3

Di saat Ericsson mulai kagum dengan Alexia, tiba-tiba wanita itu mendorongnya hingga terjatuh ke bawah sofa.


"Maaf, kau terlalu berat !" Sembari tersenyum wanita itu seolah tak merasa bersalah.


"Auw…apa kau sudah gila?" Menggosok-gosok punggungnya yang mendarat jatuh terlebih dahulu. Ericsson merasakan sakit pada bagian punggungnya tersebut.


"Ya maaf, aku memang sengaja melakukannya." Kembali senyuman itu muncul di wajahnya dengan satu tangan yang mulai menutup sebagian wajah. Tampak Alexia merasa puas hanya dengan melihat Ericsson saat itu.


Dengan wajah masam Ericsson bangkit dan kembali duduk di lantai. 


"Nampaknya kau cukup senang melakukannya !" Pria itu mengomentari perbuatan Alexia kepada dirinya.


"Tidak, terlalu." Menjawabnya dengan Menahan tawa. Alexia memang sangatlah jahil.


"Ya..ya…terserah lah." Wajah masamnya masih belum pudar sekilas ia melirik Alexia.


Untuk sejenak mereka berdua saling terdiam, sampai akhirnya Alexia mulai menanyakan sesuatu.


"Em…soal semuanya, apa kau sudah menceritakan nya kepada Brian?" Kali ini suasana berubah.


"Ya, aku menceritakan semuanya disaat kau tidak sadarkan diri." Jawab Ericsson dengan jujur tanpa menyembunyikan suatu apapun.


"Sangat sekali kalau begitu ! Karena setelah ini terpaksa aku harus menghapus sebagian ingatannya. Jika tidak maka akan sangat berbahaya bagi dirinya." Sepertinya Alexia tidak bercanda, ia memang serius untuk urusan yang satu ini.


"Apa sampai harus seperti itu?" Ericsson yang juga ikut terbawa dalam mede serius. 


"Yah hanya itu yang bisa menjamin keselamatannya saat ini, karena semua informasi tentang penghuni langit itu adalah terlarang." Menjelaskan dengan ringkas untuk aturan langit, dimana tidak boleh ada seorang manusia tahu tentang keberadaan penghuni langit.


"Jika memang begitu, kenapa kau tidak menghapus ingatanku juga, bukankah aku juga manusia?"  Ericsson balik bertanya, mengapa ia tidak dihapus ingatannya oleh Alexia.


"Dalam kasus mu itu beda, karena dirimu sekarang sudah terikat dengan panah Takdir. Yang mana aku tidak perlu repot lagi menghapus ingatan mu itu." Jelas Alexia tentang alasannya tidak melakukan penghapusan ingatan pada Ericsson.

__ADS_1


Tak berapa lama, terdengar suara pintu yang terbuka.


Click….


"Lihatlah yang sudah ku bawa ini ! aku juga membawakan makanan kesukaanmu Ericsson, sup daging sapi." Datang dengan menenteng beberapa kantong kresek di kedua tangannya. Brian berjalan menghampiri tempat mereka berdua.


"Kenapa wajah kalian nampak serius sekali? Mungkinkah terjadi sesuatu selama aku pergi?" Brian bertanya heran dengan suasana yang tak menyenangkan tersebut. Dimana ia baru saja datang.


"Tidak ada, tapi ada sesuatu yang harus kita bicarakan." Ujar Ericsson memandang Brian yang baru datang tersebut.


Tanpa curiga Brian lebih mendekat, ia duduk dengan tenang di sofa yang berhadapan dengan keduanya.


"Baiklah, hal apa yang ingin kalian bicarakan?" Sambung Brian menatap ke arah Ericsson dan juga Alexia. 


Namun, belum sempat mereka bicara, Alexia sudah terlebih dahulu menjentikan jarinya, yang mana hal tersebut membuat Brian pingsan tak sadarkan diri seketika.


"Apa yang barusan kau lakukan?" Ericsson yang tampak cemas karena adiknya tiba-tiba tidak sadarkan diri.


"Apa dia akan baik-baik saja?" Masih saja khawatir, Ericsson tak melepaskan kepeduliannya kepada Brian.


"Tenanglah nanti juga dia akan kembali sadar, dan tentunya ia akan melupakan semua tentang kejadian kemarin." Penjelasan Alexia cukup untuk membuat Ericsson merasa tenang. Ia pun menyerahkan semuanya kepada Dewi malam tersebut.


****


Keesokan harinya, Alexia dikejutkan dengan kemunculan Brian yang sudah berada disampingnya, sembari menatap dirinya yang baru saja terbangun.


"A-apa yang kau lakukan?" Merasa bingung wanita itu melihat tingkah aneh dari Brian.


Masih dengan menatap Alexia, Ia membalikkan pertanyaan.


"Bukankah aku yang seharusnya bertanya, siapa kau, kenapa wanita cantik sepertimu bisa ada di rumahku?" Brian yang membalikkan pertanyaan merasa aneh dengan keberadaan Alexia di rumahnya.

__ADS_1


"A-aku…." Wanita itu mulai bingung untuk mencari alasan.


"Bukankah sudah kubilang, dia adalah temanku. Dan untuk sementara ia akan tinggal disini." Jelas Ericsson sambil mempersiapkan sarapan.


"Memang sejak kapan kau memiliki teman wanita, apalagi secantik ini?" Masih mengamati wajah Alexsia.


"Yah terserah kau mau percaya atau gak, lagi pula pikiranmu itu juga gak ada pengaruhnya." Berusaha menyakinkan pemikiran Brian yang jauh lebih sulit karena ia tak begitu mempercayai seseorang.


Selesai mereka sarapan, Ericsson berencana untuk mencari pekerjaan lagi. Brian yang tak pernah berada di rumah, saat ini memutuskan untuk menetap, karena ia masih mencium bau kecurigaan terhadap Alexia. Sementara Dewi malam tersebut tidak ingin berada di rumah bersama Brian ia pun memilih untuk mengikuti Ericsson keluar. Dan juga demi tujuan menghindari kejadian seperti kemarin terjadi. 


Sepanjang perjalanan banyak pasang mata yang terus memperhatikan mereka berdua yang sedang lewat, bahkan sampai ada yang terjungkal karena melihat Alexia.


"Hay...lihatlah apakah dia seorang bidadari? Sumpah cantik banget!" Sekilas telinga Ericsson menangkap pembicaraan orang-orang tersebut.


Mereka tak sadar, jika mata mereka dibutakan sesaat karena melihat sosok luar Dewi malam ini


"Kenapa? Apa ada yang salah? Kelihatannya mereka sedang memperhatikan kita." Alexia yang tersadar akan diperhatikan banyaknya pasang mata di sekitarnya.


"Udah, gak usah dipeduliin. Yang harus difokuskan saat ini adalah mendapatkan pekerjaan." Balas Ericsson yang membuat Alexia untuk tidak memperdulikan sekitar.


Beberapa jam berlalu dan ini adalah percobaan yang kelima, terlihat mereka berdua baru saja keluar dari salah satu kedai makan.  Dimana saat itu wajah Ericsson terlihat sangat kecewa bercampur satu dengan lelah yang terasa. Rupanya mereka kembali ditolak bekerja. Kurang apa coba? Ganteng cantik iya, ramah,manis juga menarik. Lalu apa masalahnya mereka selalu ditolak oleh sang pemilik. Sudahlah, semangat Ericsson sedikit memudar. Mereka berdua beristirahat sebentar di sudut teras kedai makan tersebut.


Tak berapa lama, Ericsson berpapasan dengan wanita yang sedikit familiar di matanya. Dan sedetik kemudian, ia baru teringat jika wanita itu merupakan wanita yang ia tolong dari perampok tempo lalu. Namun ia hanya diam dan tidak menyapa, karena dirasa itu pasti akan percuma, karena dirinya bukanlah siapa-siapa, yang pastinya wanita itu juga sudah melupakannya.


Akan tetapi, berbanding terbalik dari pemikiran Ericsson. Perlahan wanita itu mulai berjalan balik dan menghampiri Pria yang baru saja berpapasan dengannya.


"Kamu? Bukankah kamu orang yang tempo lalu menolong saya?" Ucap wanita tersebut yang rupanya masih mengingat Ericsson.


Sekilas, Ericsson melihat wanita tersebut, dan mulai mengangguk pelan.


"Yah, sepertinya kau tidak melupakan nya." Balas Ericsson dengan nada dinginnya.

__ADS_1


Alexia hanya diam dan mengamati mereka berdua. Karena tak ada yang harus ia bicara saat itu.


__ADS_2