
Tiga hari berlalu, dan Alexia masih belum sadarkan diri. Selama itu juga kedua pria masih selalu menjaga dan berada di samping sang Dewi, meski wanita itu masih terbujur lemah di atas tempat tidur.
Namun dalam waktu tersebut juga, digunakan Ericsson untuk menjelaskan segalanya kepada Brian, yang selalu menuntut penjelasan kepada sang kakak. Sampai akhirnya ia mulai bisa mengerti dengan situasi yang terjadi saat ini.
***
Seperti yang sudah dinanti, malam ini merupakan malam dimana bulan purnama akan datang. Ericsson meminta bantuan Brian untuk mempersiapkan segala nya. Mulai dari mereka berdua memindahkan sofa, hingga menghadapkannya pada pintu kaca yang berada di balkon. Dan pada langkah akhirnya, Ericsson berjalan menuju ke kamar, dengan perlahan ia mulai membopong Alexia dengan kedua tangannya. Ketika itu tampak terlihat wajah pucat Alexia yang sangat kontras dengan pakaian yang dikenakan. Sekilas ia menatap Alexia yang berada dalam dekapannya saat itu. Guratan senyuman dan tawanya hilang selama tiga hari, rupanya sedikit memberikan dampak pada Ericsson yang mulai terbiasa dengan kehadiran sang Dewi malam. Ditambah dengan segala kejahilannya yang selalu menggoda Ericsson.
Pria itu, dengan lembut meletakkan tubuh Alexia pada sofa yang sudah diaturnya awal tadi, dan sekarang tirai yang menghalangi perlahan dibuka. Nampak terlihat bulan purnama mentereng dalam hitam pekatnya malam. Dan cahaya kebiru-biruannya mulai masuk, menyebar ke bagian sisi ruang. Seolah seperti menjadi bagian dari Alexia, cahaya rembulan tersebut perlahan membuat butiran-butiran kecil sinar yang mulai mengitari tubuh wanita itu. Pada saat proses tersebut lah tubuh Alexia sedikit demi sedikit mengalami perubahan. Wajah yang awalnya pucat kini mulai pulih dan segar kembali. Bahkan sayap yang sempat menghilang, sudah kembali muncul dan mengembang. Saat ini butiran sinar yang seperti mutiara itu, masih terus melayang mengitari tubuh Alexia. Rasa khawatir perlahan memudar setelah melihat hal tersebut, tergantikan dengan senyuman lega dari wajah kedua pria yang menyaksikan kejadian itu secara langsung.
"Syukurlah akhirnya dirimu kembali pulih, aku hampir saja mati muda, karena mencemaskan dirimu." Binar mata bahagia terlihat dari tatapan Ericsson ketika melihat Alexia yang kembali pulih. Karena sudah hampir 3 hari ini, ia terus menyalahkan diri menjadi penyebab Alexia yang tidak sadarkan diri.
"Benarkah, apa itu artinya kau sudah jatuh cinta padaku?" Baru saja pulih Alexia sudah membual sesuatu yang tak penting.
"Dasar kau ini ! Apakah hanya ada hal itu saja yang bersarang di dalam kepalamu? Kemarilah biar sekalian aku bersihkan !" Ujar Ericsson sembari menyentil kening wanita yang baru saja tersadar tersebut.
Dan Alexia pun hanya tertawa menanggapi ucapan Ericsson.
"Lihatlah ! Apa dengan begini kalian berdua juga akan menikah? Lalu bagaimana dengan nasib ku sekarang?" Mendadak Brian ikut berbicara sambil merengek akan ratapan akhir nasibnya.
"Aish… mulai lagi anak ini! apa yang baru saja kau bicarakan itu !" Tanpa aba-aba Ericsson memukul kepala Brian dengan cukup keras, menggunakan kepalan tangannya.
"Kenapa jadi kau yang memukulku?" Tak terima kakaknya memukulnya begitu saja, ia pun mulai protes.
"Oh… rupanya kau masih ingin dipukul ?" Dengan tatapan mengintimidasi, Ericsson kembali melihat ke arah Brian.
__ADS_1
"Yah, nggak lah !" Reflek Brian menyilangkan kedua tangannya ke atas kepala. Berjaga kalau-kalau datang serangan yang kedua.
Sementara Alexia yang menjadi penonton, tertawa melihat polah tingkah kedua adik kakak tersebut di hadapannya.
"Em.. ngomong-ngomong, apa kalian masih ada stok apel di dalam kulkas?" Mendadak pertanyaan Alexia membuat keduanya terdiam.
"Kalau itu, sepertinya aku sudah memakannya tadi pagi !" Menggaruk kepala yang tak gatal Brian menatap Alexia ragu-ragu.
Manyun seketika, nampaknya Alexia sedang ingin sekali memakan buah apel. Ia pun membuat ekspresi memelas dengan sedikit bumbu kepedihan. Tak lupa ia juga membuat kedua matanya berkaca-kaca, sehingga orang yang melihatnya akan berkata….
Ouh...manisnya! Jadi gak tega.
"Baiklah, aku akan membelikannya untukmu!" Brian merasa harus membelikan wanita lemah itu buah apel, lagi pula ia juga bersalah karena telah memakan apel tersebut.
"Dasar anak bodoh ! kau sudah masuk dalam perangkapnya." Ucap Ericsson lirih yang sebenarnya tau itu hanyalah trik Alexia untuk memperdaya lawan jenisnya.
Saat itu Brian berjalan keluar pintu, menyisakan dua orang yang masih berada di dalam rumah.
"Ericsson, bisakah kau mendekat?" Alexia melihat pria itu yang sedikit jauh dari jangkauannya.
"Hah…. Bukankah kita sudah begitu dekat. Lihatlah, bahkan aku berada disampingmu!" Balasan Ericsson yang sebenarnya duduk di kursi sebelahnya.
"Iya tapi aku masih belum bisa meraihmu." Rengek Alexia seperti anak kecil.
"Yah..yah baiklah." Kali ini pria itu menurut tanpa melakukan protes terlebih dahulu. Dan dalam posisi berdiri, ia melihat Alexia yang masih tiduran di sofa.
__ADS_1
"Menunduklah, aku masih belum bisa menggapaimu." Alexia mengulurkan kedua tangannya, seolah seperti akan memeluk Ericsson.
"Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan?" Ericsson mulai merasakan curiga dengan tingkah Dewi malam tersebut.
"Cepat menundukkan lah!" Kali ini dengan tatapan tajamnya ia memaksa pria itu untuk menurutinya.
Akhirnya dengan ragu-ragu, Ericsson menuruti keinginan Alexia, dan mulai membungkukkan tubuhnya
"Itu masih belum cukup!" Seru Alexia yang mendadak tubuhnya meloncat, dan memeluk tubuh Ericsson.
Dan karena pergerakan yang cukup mendadak itu, membuat satu kaki Ericsson tergelincir. Hingga tubuhnya pun jatuh menimpa Alexia yang saat itu memeluk dirinya.
"Apa yang barusan…." Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Ericsson terpesona akan mata Alexia yang seketika itu terlihat berwarna biru, seperti warna biru pada lautan.
"Sekarang pejamkan matamu!" Perintah Alexia yang juga menatap kedua mata coklat milik Ericsson.
"Tapi apa yang…." Sekali lagi ucapan Ericsson terhenti. Karena kali ini Alexia menempelkan telunjuk jarinya pada bibir pria tersebut hingga membuatnya terdiam.
"Udah, pejamin aja matamu!" Perintah Alexia.
Dalam situasi tersebut, sebenarnya detak jantung Ericsson semakin berdebar. Ia merasakan sebuah sensasi perasaan yang sebelumnya belum pernah ia rasakan. Ia merasa, ada yang salah dengan dirinya saat itu. Tapi ia masih mau menuruti permintaan Alexia. Kedua matanya perlahan mulai dipejamkan. Dan setelah itu ia tak tahu lagi apa yang akan dilakukan wanita tersebut kepada nya.
Dalam kegelapan ia menutup mata, pria itu mulai merasakan sesuatu yang lembut menyentuh keningnya. Dan rupa Nya itu adalah kecupan yang diberikan Alexia, dimana bekas kecupan itu mulai mengeluarkan cahaya. Hingga cahaya itu pun berubah menjadi sebuah tanda bulan sabit.
"Sekarang aku menyimpan separuh kekuatanku padamu. Jadi itu bisa sedikit melindungimu disaat aku tidak berada disisimu." Ucap Alexia dengan suara lembut. Yang mana Ia ingin menjaga pria itu meski disaat dirinya tak ada.
__ADS_1