
Di dalam hotel mewah, di salah satu lantai sedang berlangsung sebuah acara. Entah acara apa? tapi benar ini alamatnya sama dengan apa yang ada dalam undangan. Ericsson mendapatkan undangan tersebut dari Andrian saat pulang bekerja. Kembali sekali lagi pria itu mencocokan alamatnya, dan kali ini dia benar-benar yakin. Untuk sesaat ia melihat penampilan dirinya, dari atas sampai ke bawah, nampaknya ia salah kostum untuk malam ini. Mata Ericsson dan Alexia bertemu mereka saling menatap satu sama lain.
"Haruskah kita mengganti baju? Atau sebaiknya kita batalkan saja untuk datang?" Masih menatap Alexia, Ericsson memberikan pilihan untuk mereka saat itu.
Namun nampaknya, wanita yang datang bersama nya itu tak mengerti dengan situasi yang sedang mereka alami. Jadi Alexia hanya mengerutkan dahi dan mengangkat kedua bahunya. "Kenapa harus dibatalkan?"
Ericsson yang mendengar perkataan dari Alexia hanya bisa menepuk dahinya yang meresa frustasi menghadapi wanita yang satu ini.
"Sudahlah, memang lebih baik kita pulang saja ! " Dengan lemas, berputar balik untuk berjalan pulang. Akan tetapi baru satu langkah kakinya beranjak, panggilan seseorang menghentikan kakinya. Dan secara perlahan memutar kembali lagi tubuhnya, untuk melihat siapa orang tersebut di belakangnya tersebut.
"Ericsson!"
Rupanya itu suara Andrian yang memanggilnya, bersama dengan sosok wanita cantik nan anggun, berjalan beriringan disampingnya. Dan tentu wanita itu, adalah Wulan.
"Kenapa kalian buru-buru pergi? Acaranya kan pun belum dimulai !" Sahut Andrian tersenyum mengejek Ericsson yang menurutnya tak pantas untuk datang.
"Ah…sebenarnya aku melupakan sesuatu jadi, aku pergi untuk mengambilnya?" Itu hanyalah sebuah alasan saja untuk Ericsson menahan rasa malunya.
"Kalian juga ada disini? Kenapa tak memberitahuku sebelumnya. Kita kan jadi bisa datang barengan tadi." Ujar Wulan yang sepertinya tidak tahu jika Ericsson diberikan sebuah undangan oleh Andrian.
"Yah hanya tidak sempat saja, karena Andrian baru memberikan undangan itu pada saat aku pulang kerja tadi." Penjelasan tersebut membuat Wulan memutar matanya ke arah Andrian. Ia seolah meminta penjelasan yang lebih untuk hal tersebut.
Andrian menangkap sinyal dari Wulan, jadi ia buru-buru mengatakan sesuatu untuk menenangkan wanita tersebut.
__ADS_1
"Oh…yah, aku memberikan undangan juga kepada Ericsson. Mengingat jika saat itu kita berencana untuk makan malam bersama. Jadi kenapa tidak sekalian saja kita makan malam ini di sini?" Tuturnya dengan tangan yang mulai di keluarkan dari saku celananya.
"Kenapa kalian lama sekali ngobrolnya, jadi kita jadi masuk gak nih?" Mendadak Alexia memotong obrolan mereka dan memasang semuannya dengan sangat datar.
"Oh Ya, tentu. Mari silahkan masuk ?" Dengan gerakan tangannya ia mempersilahkan semuannya untuk masuk kedalam, dan bergabung ke acara saat itu.
Namun dengan rasa tak nyaman, Ericsson tahu apa maksud dari semua prilaku Andrian saat itu.
Tentu saja saat mereka masuk, banyak sepasang mata yang melirik dan melihat ke arah mereka, seolah mereka mencibir dari bisikan mulut ke orang di sampingnya.
"Ouh...my God! Habislah sudah !" Ericsson hanya bisa berucap dalam batinnya. Melihat pandangan semua orang yang terarah kepadanya dan juga Alexia. Karena sebenarnya dirinya sadar, jika mereka berdua terlihat sangat mencolok dari orang yang datang saat itu.
"Mampus lu ! Sekarang Lu rasain sendiri!" Ucapnya dalam hati. Seakan ada rasa bangga di wajah Andrian yang berhasil mengerjai Ericsson, ia mulai tersenyum tipis.
"Ericsson, Alexia, bisakah kalian ikut aku sebentar?" Dengan suara lirih, Wulan mencondongkan kepalanya ke arah Ericsson dan juga Alexia agar mereka berdua dapat mendengarnya.
Tangan Andrian beraksi, dia menarik lengan Wulan sedikit menjauh.
"Memang kau mau membawa mereka kemana?" Sedikit tak senang, pria itu penasaran dengan apa yang ingin dilakukan Wulan kepada dua orang itu.
"Aku tahu, ini ulahmu bukan?" Memicingkan matanya ke arah Andrian. Seolah wanita itu memiliki firasat tentang kebenaran.
Setelah mengatakan hal tersebut Wulan tak menunggu perkataan dari Andrian dan segera mengarahkan Ericsson dan juga Alexia untuk mengikuti dirinya.
__ADS_1
Pada saat itu mereka diarahkan ke sebuah lorong hotel, dimana Ericsson dan juga Alexia dipisahkan. Mereka memasuki kamar hotel yang berbeda, sedangkan Wulan masih berada di samping Alexia. Wanita cantik nan anggun tersebut memberikan arahan kepada Ericsson untuk mengikuti semua perkataan dari seseorang yang berada di dalam kamar. Begitu juga dengan Alexia.
Namun di saat mereka akan berpisah, Alexia sempat menyeletuk sesuatu yang membuat semua tertawa.
"Mengapa di tempat sebagus ini aku tak melihat ada buah yang bisa dimakan. Sungguh sayang sekali !" Dengan ekspresi wajah lemas nya, Alexia sebenarnya tengah berharap memakan banyak sekali buah. Setelah itu mereka masuk ke dalam kamar masing-masing yang sudah disiapkan.
Perlahan waktu berlalu, sudah hampir setengah jam mereka masih belum keluar. Hingga sedetik kemudian, seorang pria tampan dengan setelan jas hitam dan rambut tertata rapi, keluar dari salah satu kamar. Dan itu adalah Ericsson, penampilannya berubah dengan sangat drastis setelah ia keluar dari kamar. Tak begitu lama, keluar juga Wulan bersama dengan Alexia. Dewi malam itu terlihat sangat cantik, bahkan beribu kali lebih cantik setelah keluar dari kamar. Dress merah maroon sepanjang mata kaki dengan lengan pendek membuat wanita itu cantik elegan. Ekspresi Ericsson tak kuasa untuk tidak kagum dengan kecantikan sang Dewi. Bahkan pria itu tertegun sejenak tanpa berkedip untuk sekedar menatap Alexia di hadapannya tersebut.
"Wow…kau cukup mengagumkan Ericsson !" Pujian keluar dari mulut Wulan saat melihat penampilan Ericsson yang memang sangat menarik hati.
"Terimakasih, tapi kau jauh lebih mengagumkan, Wulan." Memuji balik, untuk sebuah pujian dari wanita.
"Bagaimana dengan Alexia? Bukankah dia sangat luar biasa malam ini?" Wulan mengalihkan pembicaraan.
"Yah, lumayan!" Ericsson malu untuk mengakuinya jadi ia hanya memberikan jawaban yang tak sesuai dengan kenyataannya.
"Apakah harus aku memakai semua ini? Aku merasa sangat tak nyaman." Alexia menggerakkan kakinya yang memakai High heels berwarna senada dengan gaunnya.
"Yah, kau bisa menahannya sebentar bukan? Setelah acara ini, kita akan segera menggantinya." Wulan memberikan pengertian untuk Alexia, agar ia tetap memakai pakaian tersebut di acara nanti.
Setelah percakapan tersebut ketiganya kembali ke ruang acara, dimana saat mereka masuk. Semua mata kembali menatap mereka, tapi kali ini ada yang membedakannya. Karena dari wajah mereka tampak terlihat ada rasa kagum dan terpikat dengan penampilan baru Ericsson dan juga Alexia.
"Jadi ini yang kau lakukan? Kenapa harus kau repot-repot melakukannya?" Sindir Andrian yang merasa biasa saja dengan penampilan mereka yang berubah.
__ADS_1