
Sudah dua hari Alexia masih terbujur lemah tanpa adanya tanda-tanda pemulihan. Ericsson pun kini semakin khawatir. Meski di awal kedatangannya tak diinginkan oleh pria tersebut, tapi ia cukup merasa bersalah karena Alexia mengalami hal tersebut juga karena dirinya. Kini sikapnya pun kian melembut, ia berusaha untuk merawat Alexia disaat kondisinya belum pulih. Meski dalam kondisi lemah tersebut, Alexia masih bisa berbuat kejahilan dan juga selalu menggodanya. Dan yang terpenting nafsu makan buahnya masih tetap sama.
"Wah, meski dalam kondisi lemah seperti ini, nafsu makan buah mu masih tidak berubah." Ujar Ericsson yang sedari tadi mengamati Alexia yang menghabiskan satu kantong apel.
"Tentu saja, karena yang sebenarnya melemah itu hanyalah fisik dan tenagaku, dan untuk hal lainnya aku masih tetap sama dan baik-baik saja." Menjelaskan dengan suara rendahnya yang masih terdengar seperti suara bisikan.
"Tapi ada satu hal yang masih mengganjal ku. Sebanyak itu kau makan, tapi tak pernah sekalipun aku melihatmu pergi ke toilet.! sorry, jika aku terlalu kelewatan. Kau tidak perlu menjawabnya Alex." Tampak menyesal karena akhirnya ia jadi membicarakannya.
"Pertanyaan yang konyol, tapi aku menyukainya. Tentu saja karena aku seorang Dewi, dan kaum kami tidak memiliki tubuh seperti manusia. Yang mana kita tidak memiliki sistem pencernaan, jadi mau makan sebanyak apapun itu, kita tidak perlu mengeluarkannya seperti manusia. Jadi apa rasa penasaranmu sudah terjawab sekarang?" Sambil menjelaskan, terlihat sudut bibir Alexia yang terangkat. Wanita itu sedikit mengubah posisinya. Ia melihat ke arah Ericsson yang tepat berada di sampingnya.
Merasa dipandangi Alexia secara berlebih, pria itu mulai menjadi salah tingkah. Seolah ada sesuatu yang salah kepada dirinya, hingga ia tak berani menatap balik kedua mata Alexia.
"Kenapa kau terus menatapku seperti itu? Apakah ada sesuatu di wajahku?" Sedikit melirik pada Alexia, lalu mengalihkan pandangannya. Pria yang belum memiliki pengalam itu masih bisa dimaafkan karena ketampanannya.
"Tidak, hanya saja aku baru menyadari sesuatu hal. Bahwa kau jauh lebih tampan bila dilihat dari jarak sedekat ini." Sekali lagi Alexia menggoda Ericsson, hingga membuat sosok pria di sampingnya itu terdiam. Namun siapa sangka secara perlahan ia berani untuk mendekat. Dan kini wajah mereka saling berdekatan.
"Benarkah, jika begitu berhentilah mempermainkan ku." Balasan pun diberikan oleh Ericsson.
Hal tersebut membuat Alexia semakin tersenyum lebar.
__ADS_1
"Sudah waktunya untuk berangkat kerja. Dan sepertinya untuk malam ini akan ada tambahan pekerjaan. Kemungkin akan pulang sedikit terlambat. Jadi dengan kondisimu yang seperti sekarang ini, kau harus lebih berhati-hati saat aku tak ada." Pesan sebelum Ericsson pergi bekerja, dimana sebenarnya ia tak enak hati meninggalkan Alexia, namun mau gimana lagi. Ia juga harus bekerja.
Selama dua hari Ericsson tidak ditemani Alexia, sebenarnya ada beberapa kejadian ia melihat hantu-hantu di sekitarnya, tapi sepertinya mereka masih dalam frekuensi aman. Makannya Ericsson akan selalu menghindar ketika ia melihat mereka. Karena jika tidak begitu, nanti ditakutkan mereka bisa berbalik mengincar dirinya.
Satu persatu pelanggan silih berganti, dan kebanyakan dari mereka, adalah kaum mahasiswa yang menghabiskan waktu berbelanja dengan pasangannya. Namun ada satu pasangan yang menarik perhatiannya. Sampai dapat membuatnya tersenyum tipis. Apalagi jika melihat tingkah si wanita, yang seperti mengingatkannya pada seseorang. Iyap benar, orang itu adalah Alexia. Dia selalu bersikap jahil dan menggoda nya, bahkan disaat dia merajuk, hingga membuat hal itu sedikit mengganggunya akhir-akhir ini.
"Sinar bulan purnama ! apa hanya itu yang bisa membuatnya pulih kembali? Jika benar begitu, maka masih ada 4 hari lagi untuk menunggu." Guman Ericsson sembari memikirkan tentang Alexia.
****
Saat ini Ericsson tak bisa pulang begitu saja, ia masih harus membereskan gudang barang. Dimana hari ini gantian menjadi tugas nya. Baru membuka pintu gudang, terlihat lumayan banyak barang-barang yang tak teratur. Bahkan ia membuat nafas panjang saat melihat nya.
Dikumpulkannya kardus-kardus yang sudah kosong menjadi satu, menata ulang barang yang sesuai pada tempatnya, hingga menghitung stok barang yang masih tersisa. Ericsson melakukan semuanya sesuai ketentuan bos yang pernah mengajarinya. Karena sudah terbiasa semuanya menjadi jauh lebih mudah.
"Huh…capeknya !" Keringat mulai bercucuran dari keningnya. Dan untuk sejenak ia duduk untuk melepaskan lelah.
"Tinggal sisi yang satunya, maka aku bisa pulang setelah ini." Ericsson sekali lagi bangkit untuk menyelesaikan pekerjaannya. Tapi kali ini ia menemukan sesuatu yang berbeda.
Saat berjalan ke sisi gudang yang masih belum ia bereskan, dirinya melihat ada bercak merah di lantai. Karena penasaran langkahnya mulai mengikuti darimana asal bercak merah tersebut. Tak disangka ia menemukan hal yang membuat bulu kuduknya merinding seketika. Bayangan hitam dengan dipenuhi puluhan atau bahkan ratusan mata yang menempel di seluruh bagian.
__ADS_1
Dan saat itu Ericsson menyadari jika dirinya dalam bahaya. Jadi dengan perlahan ia melangkah ke belakang, berusaha tidak membuat sosok bayangan itu menyadari kehadirannya. Namun naas, salah satu barang tak sengaja terjatuh, sehingga membuat suara yang menarik perhatian bayangan hitam tersebut. Dan hanya berlari menjadi solusi terakhir bagi Ericsson untuk melarikan diri. Ia berlari dengan cepat menuju pintu keluar.
Cklek…..suara pintu terbuka.
"Ericsson?" Panggil Alexia dengan suara lirihnya.
Sejak Ericsson pergi bekerja, Alexia mulai merasakan sesuatu yang membuat dirinya tak tenang, entah apa itu, tapi ia merasa sangat gelisah. Ia terus memikirkan Ericsson. Mungkinkah jika ia dalam bahayanya?
Alexia mengira jika Ericsson yang pulang saat itu, namun sayang ternyata itu bukan dia. Melainkan Brian adiknya. Itu adalah kali pertama Brian bertemu dengan Alexia. Mata lelaki itu pun seolah sudah jatuh hati kepada sosok wanita yang baru saja ditemuinya tersebut. Dirinya terpesona dengan kecantikan sang Dewi.
"Brian ! Cepat bantu aku. Antarkan aku ke tempat kerja Ericsson sekarang !" Ucap Alexia yang seolah sudah mengenal adik laki-laki itu sebelumnya.
Mendengar namanya dipanggil, bukanya bergegas ia justru terdiam dan bengong. Sebab wanita secantik Alexia tahu akan namanya.
"Hay…kenapa kau malah diam, cepat antarkan aku !" Suara Alexia membuat Brian kembali tersadar.
"O-oh ya, tentu." Dengan cepat ia menyetujuinya. Lagi pula mana bisa Brian menolak permintaan seorang wanita cantik, jadi sudah pasti ia akan melayaninya. Karena itu seperti sudah masuk dalam kamus kehidupannya.
Brian pergi dengan membopong Alexia menuju tempat kerja Ericsson saat itu. Dan untuk mengejar waktu mereka juga menggunakan taksi agar bisa lebih cepat sampai kesana.
__ADS_1