Terkena Panah Sang Dewi

Terkena Panah Sang Dewi
Bab 12 Teman masa kecil


__ADS_3

Alexia yang baru bekerja, tampil memukau dengan balutan seragam yang terlihat sangat cocok dengan dirinya. Banyak sekali pasang mata yang terfokus hanya untuk melihat kecantikan wanita yang baru saja bergabung itu. Hingga baru beberapa menit saja ia bekerja, sudah banyak pelanggan yang berdatangan ke Cafe. Mungkin dalam benak mereka, baru pertama melihat wanita bak secantik bidadari seperti Alexia, bahkan mungkin kecantikan para artis pun lewat olehnya. 


Hingga tak luput, Ericsson juga sempat terpesona saat melihatnya keluar setelah berganti baju. Ia baru menyadari jika ada wanita yang memang secantik Alexia. Namun sadarlah dia bukanlah manusia! Pria itu kembali pada akal sehatnya.


Nona, bisakah kami pesan menu yang ini?


Nona, kamu cantik sekali !


Nona, bisakah kami mendapatkan nomormu?


Apakah nona seorang artis?


Nona, dapatkah aku mengambil fotomu?


Banyak sekali obrolan mereka yang ingin mendekati Alexia, membuat Dewi malam tersebut sempat kebingungan. Ericsson yang melihat hal tersebut segera bertukar tugas dengan Alexia. Ia menyuruh Alexia untuk mengambil piring atau pun gelas kotor untuk di bawa ke belakang.


"Bukankah dia sangat populer?" Ucap Wulan yang tanpa disadari muncul dari belakang Ericsson.


"Yah, sepertinya begitu !" Dengan raut wajah masam Ericsson menjawab singkat.


Wulan tersenyum sembari melihat ke arah pria yang berada di sampingnya tersebut.


"Nampaknya, untuk beberapa hari ke depan Cafe ini akan dibuat sibuk oleh nya." Ucap Wulan yang kemudian berjalan pergi. Dengan sebuah senyuman yang penuh arti.


"Sepertinya, aku terlalu meremehkannya kali ini !" Ericsson yang menyesali akan sesuatu yang telah dilakukannya kepada Alexia.


***

__ADS_1


Di rumah, Brian sedang menunggu kepulangan Ericsson, atau yang sebenarnya yang ia tunggu adalah Alexia. Dimana sejak awal, ia sudah tertarik dengan wanita itu, walau ia juga masih memiliki rasa curiga kepadanya. Tapi hal itu tak memungkiri bahwa rasa ketertarikannya jauh lebih besar. Karena baru pertama kali ini ia melihat wanita secantik Alexia. 


Mungkinkah bisa dibilang sebagai sebuah keajaiban atau mungkin sebuah berkah? Bagaimana tidak, setelah kedua orang tuanya meninggal, Brian jarang sekali menetap di rumah. Dirinya selalu pergi dan bermalam di luar, bahkan hampir jarang sekali pulang. Tapi kali ini berbeda, ia cukup tenang berada di dalam rumah. Ia bahkan terlihat berdandan rapi dari biasanya, tentunya dengan aroma parfum yang hampir menyeruak ke penjuru ruangan.


Click….


Terdengar suara pintu dibuka. Dengan sigap Brian berpura-pura menata meja makan. Yang mana, makan malam telah disiapkan sebelumnya. Meski semua makanan tersebut merupakan makanan yang dibeli dari layanan pesan antar.


"Kau sudah pulang? Baguslah mari kita makan bersama. Aku sudah menyiapkan semuanya." Dengan sedikit bergaya sok keren pria yang satu ini ingin mencoba mencari perhatian wanita bergaun putih.


"Ada angin apa ini ? Kenapa mengejutkan sekali kau melakukan semua ini?" Ericsson yang sedikit kagum dengan hal yang telah dilakukan adiknya.


"Yah, hanya ingin melakukannya saja." Menjaga ekspresinya untuk tetap datar, sebenarnya ada sedikit senyum yang mengembang di ujung bibir yang terangkat.


Tanpa memperpanjang pembicaraan, ketiga nya pun menikmati makanan yang sudah disiapkan Brian. 


***


"Apa menurutmu dia sedang meditasi?" Tanya Brian yang duduk di sebelah Ericsson dengan masih melihat ke arah Alexia di balkon.


"Um… mungkin saja ! Atau dia hanya ingin menikmati suasana di malam ini." Jawaban Ericsson berhasil membuat kedua nya untuk saling menatap.


"Yah, kau benar, pasti begitu." Brian yang menerima alasan yang lebih mungkin untuk presentasi kebenaran nya.


Selang beberapa waktu Brian tertidur, menyisakan Ericsson yang masih terjaga di sampingnya. Kedua mata itu mulai menatap ke arah balkon, yang mana masih didapatinya Alexia yang berada di sana. Wanita itu masih dalam posisi yang sama, duduk bersandar di jendela kaca, dengan memeluk kedua lututnya. Dengan hati-hati tanpa menimbulkan suara, Ericsson mulai beranjak dari tempatnya duduk. Ia berjalan menghampiri wanita yang sejak tadi duduk termenung dalam keheningan malam.


"Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" Tanya Ericsson yang kemudian mengambil duduk di sebelah Alexia.

__ADS_1


"Tidak ada, hanya saja untuk malam ini aku merasa agak sedikit merindukan Bao-bao ! " Wajahnya yang teduh dengan cahaya yang memantul dari kedua matanya, seolah menggambarkan perasaannya sekarang.


"Bao-bao? Apa dia juga seorang Dewi?" Rasa penasaran membuat Ericsson mengajukan sebuah pertanyaan.


"Em...lebih tepatnya, dia seorang Dewa kasih sayang. Dengan wujudnya yang seperti seorang anak kecil." Jelas Alexia dengan masih menatap ke arah bulan.


"Kemari lah ! Sekarang letakkan kepalamu di kedua kakiku." Pinta pria itu kepada Alexia sembari menepuk pelan kakinya.


Mengerti dengan yang di instruksikan padanya, Alexia mulai merebahkan tubuhnya dengan kepala yang ia tumpukan pada kedua kaki Ericsson.


"Sekarang lihatlah bulan itu sampai puas! mungkin saja, saat ini Bao-Bao juga sedang melihatmu." Ericsson yang sedikit ingin menenangkan hati Alexia pada saat itu.


Dan hingga malam yang panjang akhirnya membuat keduanya tertidur di bawah sinar rembulan.


***


Keesokan paginya, mereka berdua berangkat bekerja, dan sesampai di Cafe mereka mendapati Wulan yang datang bersama dengan seorang pria. Dimana nampaknya pria tersebut bukanlah pria biasa. Dilihat dari setelan jas yang dipakainya, tampak sangat rapi, mulai dari kepala hingga ujung kaki.


Wulan memperkenalkannya dengan Ericsson dan juga Alexia.  Dimana ia juga menjelaskan jika Ericsson merupakan seseorang yang sempat menolongnya pada saat ia kerampokan saat itu.


"Kenalkan dia ini Andrian, sahabat sekaligus teman masa kecil ku. Sedangkan yang ini Ericsson dan juga Alexia. Dimana Ericsson inilah yang waktu itu sempat menolongku dari para perampok." Jelas Wulan yang mencoba memperkenalkan mereka satu sama lain.


"Ah rupanya, Ericsson ini yang menolong mu. Jika begitu terima kasih karena sudah menolong Wulan pada saat itu." Ucap Andrian yang juga ikut menyapa keduanya.


"Seharusnya aku yang berterima kasih, karena Wulan sudah mau memperkerjakan ku dan juga Alexia disini. Jadi tak perlu di lebih lebihkan." Ericsson yang masih rendah diri.


Selama beberapa menit pembicaraan mereka terjalin, ada sesuatu yang sedikit menarik. Dimana Andrian mulai merasa tersisihkan, sebab sejak tadi ia melihat bahwa Wulan yang terus terusan berbicara dengan Ericsson ketimbang dengan dirinya. Apalagi senyum lepas yang terus di tunjukkan oleh Wulan. Sepertinya membuat  hal itu sedikit mengganggu Andrian.

__ADS_1


Ekspresi tak suka mulai terlihat dari pria yang menjadi sahabatnya Wulan tersebut. Hingga hal itu mulai disadari oleh Alexia, yang akhirnya membuat Dewi malam itu melakukan kejahilan- kejahilan kepada Andrian.


__ADS_2