Terkena Panah Sang Dewi

Terkena Panah Sang Dewi
Bab 11 Pekerjaan Baru


__ADS_3

Setelah pertemuan kedua nya, Wulan mengajak mereka mengobrol, sambil sekalian untuk makan siang. Tanpa sengaja ia melihat amplop coklat yang dibawa oleh Ericsson saat itu. Ia pun berfikir jika Ericsson sedang mencari pekerjaan. Dengan hati hati dalam bicara, wanita itu mencoba menyinggung hal tersebut.


"Kebetulan sekali kita bisa bertemu lagi, maaf sudah mengajak kalian kemari di sela sela waktu kalian." Ucap Wulan sambil melihat kedua orang yang duduk di depannya.


"Untuk apa minta maaf? lagipula kita juga bukan orang sibuk, jadi ada banyak waktu luang untuk hal ini dan itu." Balas Ericsson yang memang dia pengangguran disaat pagi sampai dengan sore.


"Ah… ya, saat tadi kita bertemu aku perhatikan kau keluar dengan membawa amplop coklat. Apakah kau sedang mencari pekerjaan?" Tanya Wulan dengan suara lembutnya, yang sedikit mulai penasaran.


"Amplop ini? Ya, sebenarnya memang aku sedang mencari pekerjaan, namun rupanya itu tidak semudah yang kupikirkan." Memberi tunjuk amplop coklat yang dari tadi sempat dibawanya diawal.


"Wah.. kebetulan banget, cafe yang baru aja aku buka beberapa Minggu lalu, lagi cari karyawan. Pasti akan sangat menyenangkan jika kau juga ikut bergabung di sana. Itu pun kalau kau setuju untuk bekerja di sana!" Wanita itu menawarkan pekerjaan untuk Ericsson yang pernah menolongnya. Ia merasa harus membalas kebaikan orang yang duduk di depannya tersebut.


Sementara kedua orang itu berbincang, Ericsson dan juga Wulan, di sisi lain Alexia hanya diam sambil menikmati es krim yang dipesankan untuknya. Seolah ia kagum dengan rasa manis dan juga rasa dingin yang diberikan oleh es krim tersebut. Dia pun sudah berada pada dunia nya sendiri. Tidak menghiraukan kedua orang yang ada di dekatnya. 


Untuk sesaat Ericsson menoleh ke arah Alexia. Melihat keanehan perilaku yang tampak dari wanita tersebut. Ericsson merasa pasti akan sangat tidak mudah bekerja, bila ia selalu bersama dengannya. Ia pun tak mau orang yang baru saja memberikan kesempatan untuknya itu, merasa kecewa dengan hasil pekerjaan nya nanti. Jadi ia ingin menolak pekerjaan tersebut.


"Terimakasih karena sudah menawarkan pekerjaan untukku, tapi sepertinya aku tidak bisa menerima pekerjaan tersebut." Ujar Ericsson yang menolak tawaran pekerjaan dari Wulan.


"Bukankah kau mencari pekerjaan? Jadi mengapa kau justru menolaknya? Lagi pula ini pekerjaan tidak terlalu berat. Hanya melayani para pengunjung dan juga sedikit bersih-bersih." Jelas wanita itu yang tak percaya Ericsson aka menolak tawarannya. 


Yah memang ini kesempatan yang bagus, Tapi bagaimana jika semuanya kacau? Apalagi sekarang ini dia terus menempel kepadaku? 

__ADS_1


"Em…yah seperti ini memang kesempatan yang bagus. Tapi….?" 


"Ouh…apakah mungkin soal gaji? Tenang aku selalu memberikan gaji sesuai standar kerja kok. Jadi kau tidak perlu khawatir.


Bukan gaji yang jadi permasalahannya, tapi aku takut akan jadi masalah membawanya bersamaku. Tapi gimana ya? Kesempatan juga tidak akan datang untuk kedua kalinya. Apa aku terima saja tawarannya?


"Ouh…bukan, sebenarnya bukan soal gaji yang menjadi pikiranku, akan tetapi…." Ericsson masih menggantungkan jimatnya, namun kali ini ia sempat melirik ke arah Alexia.


Dengan sengaja, Wulan mengikuti kemana arah mata Ericsson melirik. Dan ia pun memahami sesuatu.


"Ah…aku mengerti sekarang! Tak usah khawatir ia juga boleh bekerja kok, lagi pula suasana juga pasti akan menjadi ramai dan menyenangkan." Terang Wulan yang tidak mempermasalahkan sama sekali.


"Sepertinya kau salah mengerti, tapi jika diperbolehkah, bisakah aku mengajaknya ke tempat kerja?" Ucap Ericsson yang sebenarnya masih ragu-ragu untuk mengatakannya.


"Nampaknya, kau sedikit keberatan mengenai hal itu?" 


"Oh tentu saja tidak, aku hanya sudah cukup memastikannya. Jika kau berubah pikiran dan mau mengambil pekerjaan ini, besok, kau sudah boleh bekerja." Ucap Wulan sambil mengambil kartu dari dompetnya dan memberikannya kepada Ericsson.


"Terimakasih sudah meluangkan waktu kalian, kalau begitu aku pamit untuk pergi. Sampai bertemu lagi di Cafe." Sambung Wulan yang kemudian pergi meninggalkan Ericsson dan juga Alexia.


Setelah kepergian Wulan Ericsson melihat ke arah Alexia, dimana ia masih sangat tertarik dengan es krim tersebut, hingga pria itu hanya bisa mengambil nafas panjang sambil menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi.

__ADS_1


Keesokan harinya, Ericsson benar-benar datang ke Cafe yang tertera di kartu nama milik Wulan kemarin. Ia melihat Cafe tersebut cukup besar dan terlihat bagus. Tidak mengherankan, karena pemilik Cafe tersebut adalah Wulan yang terlahir dari keluarga yang kaya raya. Meski begitu ia terbilang wanita yang mandiri. Dimana ia tidak mengandalkan status ataupun bantuan dari keluarganya untuk mendirikan bisnisnya tersebut.  Di usianya yang terbilang masih muda, ia juga sudah memiliki beberapa cabang dari Cafenya di beberapa tempat. Dan itu sudah menjadi sebuah prestasi yang membanggakan.


Ericsson bekerja sebagai waiters, tentunya dengan Alexia yang masih menempel kepada nya. Tapi kali ini, Dewi malam tersebut cukup mengganggu. Yang mana membuat Ericsson merasa tak enak dengan karyawan lainnya. Jadi terpaksa ia menarik Alexia ke belakang, hingga berusaha berbicara pada wanita tersebut, untuk tetap menunggunya dengan berada di belakang. Namun di saat itu tak sengaja Wulan lewat dan mendengar pembicaraan keduannya. Hingga Wulan pun mendekati Ericsson dan juga Alexia.


"Maafkan aku, bukan maksudku menguping pembicaraan kalian, namun aku tak sengaja lewat dan mendengarnya. Nampaknya ada sesuatu yang kalian berdua debatkan?" Ucap Wulan yang melibatkan diri pada pembicaraan Ericsson dan juga Alexia.


"Bukan begitu, aku hanya meminta Alexia untuk menungguku di belakang. Itu saja!" Jelas Ericsson kepada wanita yang menjadi Bosnya tersebut.


"Em…mengapa dia tak sekalian kerja saja? Bukankah itu akan lebih baik daripada ia harus terus menunggumu di belakang sini? Lagi pula, sejak awal aku juga sudah menerimanya untuk bekerja bukan.


Justru sepertinya hal itu akan bertambah jadi masalah. Bagaimana mungkin seorang Dewi bekerja? dan lagi pula ia tidak tahu caranya bekerja. Ini pasti akan jauh lebih menyulitkan.


"Iya, itu ide yang lebih baik. Tapi masalahnya ia belum pernah bekerja sama sekali, atau bahkan ia tidak akan pernah bisa bekerja. Pasti akan menimbulkan masalah nantinya !"


"Apa barusan kau bilang tadi?" Nampak sepertinya Alexia tak terima dengan ucapan dari Ericsson. 


"Bukankah memang benar kau tak pernah bekerja?" Ericsson semakin menegaskan.


"Tentu saja aku pernah bekerja, bahkan di sebuah tempat yang jauh lebih besar berkali kali lipat daripada tempat ini. Petinggi Lang…" Ucapan Alexia terhenti di saat ia akan keceplosan tentang pekerjaannya di langit.


"Sudahlah kenapa justru kalian jadi bertambah ribut. Kenapa tidak dicoba saja dulu. Alexia juga pasti akan belajar dengan cepat. Iya kan Alexia?" Wulan yang sedang membela Alexia.

__ADS_1


"Yah…tentu saja." Menjawab dengan percaya diri sembari menatap tajam ke arah Ericsson.


Alexia pun diterima menjadi karyawan dan bekerja di hari itu juga.


__ADS_2