Terkena Panah Sang Dewi

Terkena Panah Sang Dewi
Bab 8 Tidak sadarkan diri


__ADS_3

"Pintu sialan."  Ericsson berusaha membuka pintu, namun pintunya tertutup dengan sangat rapat. Seolah pintu tersebut telah dikunci. Sementara makhluk itu kian mendekatinya. Dengan terpaksa ia berlari ke sisi lain, meraih sesuatu untuk melawan. Dimana ia melupakan fakta, bahwa yang di hadapannya tersebut adalah  hantu, yang mana benda yang digunakannya pun juga pasti tak akan mempan. 


"Pergi kau makhluk sialan !" Teriak Ericsson sembari menyerang makhluk tersebut dengan gagang sapu.


Akan tetapi justru gagang sapu tersebut hanya menembus tubuh makhluk itu tanpa melukainya, dan hanya tampak terlihat seperti mengayunkannya ke dalam udara kosong.


Dasar bodoh, apa kau lupa dia itu hantu. Jadi mana mempan kau memukulnya dengan sapu.


Bugk…. 


Tiba-tiba kotak barang melayang menghantam Ericsson. Membuat pria tersebut jatuh tersungkur. 


Wajahnya pun menyerngit menahan sakit, sembari memegang dada yang terkena hantaman barusan.


Tidak berhenti di situ, secara perlahan tubuh Ericsson mulai terangkat. Kini dirinya benar-benar melayang, dengan kaki yang tidak tersentuh lantai. Disaat itulah kemudian tubuhnya dilemparkan ke arah tembok dengan begitu keras.


Seketika tubuh Ericsson bergetar saat itu juga, ia tak mampu untuk melawan. Apalagi sebanyak apapun ia menyerang, hal itu tidak akan berdampak untuk makhluk hitam tersebut.


Hingga sampai di saat kondisi Ericsson terjepit, makhluk tersebut mulai terlihat memanjangkan salah satu  tangannya. Kali ini apalagi yang akan dilakukannya?


Sudah seperti karet, tangan hitam itu memanjang mengarah pada leher pria yang sudah tak memiliki energi itu.


"Uhugk…uhugk…" Tangan makhluk itu mencekik leher Ericsson, sehingga perlahan tubuhnya juga ikut terangkat. Saat ini pun Ericsson sangat kesulitan, bahkan hanya untuk bernafas. Mampukah dirinya untuk selamat?


Dubrakk….

__ADS_1


Mendadak pintu didobrak dengan sangat keras. Terlihat seorang wanita bersama dengan satu pria, masuk dari ambang pintu. 


Alexia!!


Ericsson melihat wanita itu dengan susah payah berdiri. Namun dirinya tahu, kalau wanita keras kepala itu lebih tangguh dari apa yang terlihat. Wajah Ericsson saat itu sudah sangat merah, kemungkinan ia sudah tidak bisa untuk bertahan.


"Dasar makhluk rendahan, berani sekali kau membuat masalah denganku !" Tampak sekali kemarahan dalam wajah Alexia, matanya menatap tajam pada sosok makhluk hitam tersebut. Salah satu tangan seperti sedang menarik sesuatu dari tubuh di bagian belakang nya, dimana tampak seperti cahaya yang menyilaukan. Hingga tak mampu mata untuk terus menatap. 


Mendadak cahaya terang itu berubah menjadi dua pedang yang mengagumkan. Terlihat jelas sekali Alexia yang awalnya dalam kondisi lemah kini, terlihat sangat jauh berbeda. 


Dengan cepat Alexia sudah berada di sisi Ericsson, dan dengan kedua pedangnya. Dewi itu berhasil memotong tangan hitam yang membelenggu Ericsson dengan sangat mudah. Akhirnya pria itu pun bisa kembali bernafas.


"Aaaarg….." Erangan makhluk hitam yang berhasil ditebas tangannya oleh Alexia terdengar menyakitkan.


"Sekarang giliran makhluk sialan itu yang harus kuberikan pelajaran !" Dengan cepat Alexia melesat mendekati makhluk tersebut.


Mengerikan! Bola mata yang sempat melekat pada tubuh makhluk hitam itu mulai menyerang seperti sebuah senapan ke arah Alexia. Namun setiap tembakan tersebut berhasil ditangkis oleh kedua pedangnya. 


Pertarungan masih berlangsung, Ericsson yang mengamati pertarungan itu, melihat tangan Alexia yang mulai gemetar. Sepertinya energinya semakin terkuras. Serangannya juga semakin melemah. Akan gawat jadinya, bila Alexia bisa sampai dikalahkan. 


Mendadak tanpa Alexia sadari, tangan yang terpotong diawal, tadi datang untuk ikut menyerang, membuat Alexia sedikit gelagapan. 


Melihat serangan yang datang dari arah belakang. Mengakibatkan salah satu pedang Alexia terlempar cukup jauh. Kini ia hanya mampu menyerang dan bertahan dengan satu pedang. 


Tak berhenti, makhluk itu terus memberikan serangan, sampai membuat Alexia sedikit kewalahan. Hingga sekali lagi pedang Alexia berhasil direbut, tentu saja hal ini membuat sebuah celah yang dapat menguntungkannya. Ia berhasil mencengkram tubuh Alexia dan memblokir setiap serangan. 

__ADS_1


Tapi ada satu rahasia mengenai pedang sang Dewi. Dimana pedang itu mampu kembali kepada sang pemiliknya.


"Kreses…." Sekali lagi tangan makhluk tersebut terpotong. Dan mengakibatkan teriakan keras dari makhluk itu.


Meski hanya satu pedang yang kembali, setidaknya itu bisa sangat berguna. 


Kedua tangan terputus, si pemilik menjadi semakin murka. Sampai akhirnya makhluk itu mengerahkan seluruh kekuatannya.   Dan kali ini setiap tanganya memiliki kontrolnya sendiri. Mereka menyerang Alexia secara bersamaan, atau bisa dibilang ini tiga lawan satu. Dengan sambil terus menangkis dan menyerang, apalagi musuh menjadi bertambah, membuat Alexia saat ini benar-benar tak bisa mengatasinya. Bahkan darah sempat mencuat dari mulutnya.


Melihat situasi Alexia yang terancam, membuat Ericsson nekat maju untuk membantunya. Namun ada sedikit perbedaan saat itu. Ericsson mengambil pedang Alexia yang di awal tadi sempat terlempar. Anehnya pedang itu sempat mengeluarkan cahaya sebentar, ketika pedang itu dipegang oleh Ericsson. Tapi apapun itu tak menghalangi pria tersebut untuk ikut menyerang makhluk hitam tersebut.


Hasil kerjasama mereka berdua membuahkan hasil tak lama makhluk hitam itu berhasil ditaklukan, meski tubuh utamanya berhasil kabur dan melarikan diri. Namun akhirnya Ericsson terselamatkan.


Bola mata yang tertinggal mendadak berubah menjadi gas dan perlahan membuat sebuah bayangan seperti gambar pada proyektor, setiap mata memiliki cerita dan kisahnya sendiri. Rupanya makhluk hitam mengerikan tadi adalah hantu pemakan mimpi, dimana ia akan mengambil setiap mimpi- mimpi indah dan menjadikannya sebuah mimpi yang mengerikan. 


Mendadak tubuh Alexia tumbang, sepertinya dia sudah sampai pada batasnya. Ericsson pun dengan sigap menangkap tubuh kurusnya tersebut.


"Aku telah memakai seluruh energi ku, dan saat ini aku merasa sangat lelah." Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Alexia akhirnya tidak sadarkan diri.


"Bukankah kita harus segera membawanya ke rumah sakit, kenapa kau justru diam saja. Cepat bawa dia !" Ujar Brian yang terlihat panik setelah melihat Alexia tak sadarkan diri.


"Tidak, kita tidak bisa membawanya ke rumah sakit. Jadi biarkan aku yang mengurusnya. Kau bisa pergi sekarang." Dengan tatapan sedih Ericsson membopong Alexia ke dalam pelukannya.


"Apa kau sudah gila, kalau dia sampai kenapa-kenapa gimana?" Brian yang masih kekeh untuk membawa Alexia ke rumah sakit.


"Apakah kamu tadi tidak melihatnya ?Apa menurutmu kejadian barusan itu hanya sebuah pertunjukan? Tentu ini tidak semudah apa yang kau pikirkan. Jadi lebih baik kau tidak ikut campur." Ujar Ericsson dengan sedikit meninggikan suaranya.

__ADS_1


Brian terdiam dan hanya mengikuti Ericsson dari belakang. Mereka semua akhirnya pulang dengan membawa Alexia yang masih tak sadarkan diri.


__ADS_2