
***
Alexia mengedipkan matanya dan sesaat kemudian salah satu pegawai dengan ceroboh menabrak Wulan, hingga membuat tubuhnya sampai terjatuh. Tentu hal tersebut tak luput dari kekuatan Alexia. Yang mana membuat Ericsson secara reflex menangkap tubuh Wulan yang tak jauh darinya. Melihat kejadian tersebut, membuat tatapan Andrian tampak mulai terbakar saat itu.
Alexia semakin tersenyum melihatnya. Hingga ia pun menambahkan bumbu penyedap dalam aksi pertunjukannya tersebut. Jentikan jari mulai dikeluarkan. Kali ini saat Wulan akan bangun, kakinya tiba-tiba saja terpeleset, dan dirinya kembali jatuh dalam pelukan Ericsson.
"Maaf, tiba-tiba kakiku tergelincir." Ucap Wulan dengan wajah bersemu malu. Membenarkan posisinya untuk kembali berdiri.
"Tidak apa, tapi kau baik-baik saja bukan?" Melihat ke arah Wulan dengan gestur cowok yang ganteng maksimal.
"Seharusnya kau hati-hati." Mendadak Adrian membuka suaranya dalam pembicaraan mereka.
"Yah, seharusnya aku lebih berhati-hati lagi." Membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan. Wulan tak bisa menatap Ericsson karena malu.
"Bukankah kita ada janji dengan Paman, jadi sebaiknya kita pergi sekarang !" Dengan wajah masamnya saat ini, Andrian membuat Wulan untuk segera pergi bersamanya.
"Ah iya baiklah, tapi aku ambil berkasnya dulu di ruangan ku." Balas Wulan yang kemudian beranjak pergi menuju ruangannya.
"Nampaknya kau cukup ahli dalam hal ini ! "
Dengan suara lirih Andrian menunjukkan ucapannya kepada Ericsson. Namun karena mendengarnya secara sama-samar membuat pria itu kembali bertanya.
__ADS_1
"Apa kau tadi mengatakan sesuatu?" Ujar Ericsson sambil melihat ke arah Andrian.
"Tidak ada, katakan saja padanya jika aku menunggunya di mobil !" Andrian pun mengubah ucapannya yang semula. Lalu ia berjalan keluar Cafe.
Disaat itu juga server Alexia baru terhubung, ia menyadari akan perbuatannya barusan.
Tunggu dulu, bukan kah misi ku untuk membuat Ericsson jatuh cinta padaku. Lalu kenapa justru aku mendekatkan mereka. Aish..!! Dasar bodohnya aku. Semuanya gara pria tak menyenangkan itu, aku kan jadi tergoda untuk menjahilinya.
Dewi malam itu mulai menyesali perbuatannya, hingga menggerutu di dalam hati.
***
Malam ini cahaya rembulan masih sangat bersinar. Sambil berjalan kaki untuk pulang, Ericsson dan juga Alexia menatap ke arah luasnya langit. Sang Dewi mulai berbicara akan kehidupannya ketika dirinya berada di langit. Ia menceritakan dirinya yang menjadi seorang Dewi. Dimana hal itu suatu hal yang cukup membosankan, setidaknya begitulah penuturan dari Alexia.
"Begitukah? Aku jadi teringat akan masa pertama ku. Disaat kuncup bunga mulai mekar, disaat kali aku melihat langit, dengan tubuh bercahaya, perlahan aku merasakan pergerakan di belakang tubuhku. Dan itu adalah dua sayap putih yang mengembang. Bahagianya aku saat itu, dan itu kesan yang paling terindah dan yang ku ingat." Jelas Alexia, dengan memperlihatkan raut wajahnya yang begitu tenang dan damai saat itu.
"Sepertinya kau cukup senang menjadi seorang Dewi?" Ericsson yang sedikit mengamati Alexia.
"Yah, mau dibilang apa ya? Sebenarnya pekerjaan Dewi sangatlah membosankan. Bagaimana tidak, kita terus melakukan pekerjaan yang sama secara terus menerus, bahkan sampai dengan saat ini aku yang sudah berumur 200 tahun. Hah…." Membuang nafas, Alexia kembali tampak lesu, mengingat masa yang dilaluinya hingga sampai saat ini.
"Benarkah?" Ericsson yang sedikit mempercayainya, karena dilihat selama ini Alexia selalu bersenang-senang sesuka hati dengan kekuatannya.
__ADS_1
Sesaat salah satu kaki Ericsson menendang kerikil kecil di hadapannya saat melangkah. Ia mulai mendengar kembali Alexia yang bicara
"Itu juga penyebab, kenapa aku begitu senang, ketika bisa datang ke bumi. Karena ini merupakan hal baru untukku. Jadi aku ingin melakukannya dengan sangat baik. Dan membuatmu jatuh cinta kepadaku." Penjelasan Alexia seketika membuat pria disebelahnya terdiam membeku, wajahnya pun memanas bak seperti tomat yang baru saja matang. Melihat respon Ericsson yang seperti itu, tentu saja membuat Alexia jadi tersenyum. Dia melangkah mendahuluinya, dengan sesekali menoleh kebelakang. Dan senyuman itu masih belum menghilang.
***
Seperti biasanya Ericsson melakukan dua pekerjaan, dimana saat pagi sampai sore ia akan bekerja di Cafe milik Wulan sedang sore sampai malam ia akan bekerja di minimarket. Mungkin, hari ini hari yang sangat baik, dimana semuanya berjalan dengan sangat lancar, bahkan Ericsson tak menerima gangguan apapun dari makhluk hantu ataupun siluman seperti sebelumnya. Semuanya terasa sangat mudah. Hanya tinggal penat yang bertumpu pada pundak dan seluruh bagian tubuh yang cukup terasa. Dan seperti pada malam sebelumnya, Ericsson pulang berjalan kaki bersama dengan Alexia. Untuk saat ini wanita itu hanya bercerita mengenai para pelanggan yang berusaha merayunya, namun ia memberikan sedikit pelajaran terhadap mereka. Hingga akhirnya mereka pergi dengan sendirinya.
Tapi di tengah pembicaraannya dengan Ericsson, Alexia merasakan ada sesuatu yang aneh dengan rembulan. Dimana cahayanya tidak tampak seperti biasanya. Mata Alexia pun menangkap adanya aura yang cukup berbahaya menyelimuti. Energi ini sangat kuat hingga bisa hampir menyelimuti sebagian rembulan.
Dengan hati-hati, Alexia mulai waspada akan sekitarnya, terutama di sekitar Ericsson.
"Ada apa?" Tanya Ericsson yang melihat gelagat aneh Alexia kembali muncul.
"Tetaplah di dekatku, aku merasakan akan sesuatu yang cukup berbahaya !" Seru Alexia yang menjelaskan sedikit akan situasi saat itu.
Bak seperti induk ayam yang menjaga telurnya, wanita itu sangatlah waspada. Bahkan daun jatuh bisa saja dicurigai nya.
"Tapi sepertinya aku tidak melihat apa pun?" Ucap Ericsson yang memang tidak melihat keberadaan hantu ataupun siluman di sekitarannya.
"Iya, karena kau hanya bisa mengandalkan penglihatan, dan bukan kepekaan rasa mu. Turuti saja apa yang ku katakan, agar aku bisa melindungi mu dengan baik." Balas Alexia dengan mata yang masih terus menelisik.
__ADS_1
"Ya,ya baiklah !" Situasi Lah yang membuatnya patuh menuruti ucapan Alexia.
Mendadak, secara mengejutkan, seekor siluman datang menghadang mereka. Dan tentu saja kedua mata Ericsson membulat setelah melihat kehadiran siluman tersebut di hadapannya. Siluman tersebut adalah siluman rubah, yang merupakan pemimpin kaum siluman rubah. Tentu saja siluman tersebut memiliki frekuensi energi yang sangat kuat dan juga berbahaya.