
"Cincin? Untuk apa ini?" Tanya Ericsson yang tak tahu maksud Alexia memberikan cincin tersebut.
"Ada hal yang mendesak dan aku harus kembali ke istana langit. Karena itulah aku tidak bisa melindungimu untuk sementara waktu. Jadi aku berikan cincin ini sebagai pengganti. Ku harap kau terus memakainya, dan jangan sampai melepaskannya. Karena sekali cincin ini kau lepaskan, maka pengaruhnya akan menghilang. Secepatnya aku akan berusaha untuk kembali. Jadi jagalah dirimu baik-baik." Setelah mengatakan hal tersebut, wanita itu menghilang tanpa mendengarkan kata-kata yang akan diucapkan Ericsson.
"Dasar wanita yang seenaknya sendiri. Jika begitu, kenapa tak memberikan aku kekuatan saja, ketimbang cincin ini. Bukankah aku akan bisa melawan mereka." Gerutu Ericsson setelah kepergian Alexia yang begitu saja.
Pekerjaan di Cafe hari ini sudah terselesaikan dengan baik, Ericsson yang memang bekerja paruh waktu, pamit untuk pulang. Namun belum sempat ia keluar dari cafe ia berpapasan dengan Wulan. Tentu saja bos muda itu menghentikan langkah Ericsson.
"Sudah mau pulang?" Tanya Wulan yang sekedar berbasa basi.
"Yah, jam kerjaku sudah selesai untuk hari ini." Balas Ericsson khas dengan wajah datar nya.
"Lalu kenapa kau hanya sendiri? Dimana Alexia?" Wanita itu merasa ada sesuatu yang kurang dari Ericsson dan rupa nya itu adalah Alexia yang sedang tidak bersamanya. Mengapa bisa begitu? Yah karena mereka selalu melekat seperti permen karet, meski terkadang ada perdebatan di antara keduannya. Tapi mereka seperti sepasang sepatu yang kemana-kemana selalu berdua.
"Em...dia sudah pulang duluan, ada sesuatu yang mendesak katanya tadi !" Ujar Ericsson sembari memberikan senyuman singkat. Tentu itu kali pertama Ericsson terlihat tersenyum di depan Wulan. Meski hanya singkat, tapi itu cukup baik.
"Ouh…begitu !" Alexia yang baru paham akan situasinya.
Beberapa saat, Andrian terlihat baru saja masuk, ia menghampiri kedua orang tersebut.
"Nampak nya kau sudah selesai bekerja hari ini?" Andrian yang bertanya dengan ekspresi wajah kakunya.
"Yah begitulah, aku pamit pulang dulu. Sampai bertemu besok." Ujar Ericsson yang akhirnya ingin berpamitan pulang.
"Eric, tunggu sebentar !" Wulan menghentikan langkah Ericsson. Tampak tangan wanita itu yang sedang berusaha mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kecilnya. Dua buah amplop putih.
__ADS_1
"Ini buat mu, dan berikan satu nya lagi kepada Alexia. Katakan padanya jika itu bonus dariku?" Ujar wanita itu penuh senyum di wajahnya.
"Apa ini tidak terlalu berlebihan?" Ericsson yang merasa tak enak hati menerima amplop putih tersebut.
"Tentu saja tidak, karena berkat kalian berdua Cafe akhir-akhir ini sangat ramai. Jadi ku berikan bonus untuk kalian." Penjelasan Wulan sedikit bisa diterima untuk Ericsson jadi, ia pun menerima kebaikan bos mudanya tersebut.
"Kalau begitu terimakasih. Sampai bertemu lagi besok !" Pria itu tampaknya cukup senang dengan bonus yang diterima nya hari ini, hingga ia segera pamit meninggalkan Cafe setelahnya.
Wulan mengamati kepergian Ericsson saat itu, dengan masih adanya senyum yang tertinggal di wajahnya.
Tampaknya kejadian tersebut semakin membuat Andrian geram. Ia merasakan perhatian Wulan mulai tertuju kepada pria bernama Ericsson tersebut.
"Sepertinya kau cukup perhatian dengannya?" Singgung Andrian dengan wajah yang masam.
"Ericsson? Yah karena dia pernah menolongku !" Setelah mengatakan hal tersebut Wulan pergi menuju ruangannya.
Andrian berjalan, menyusul Alexia yang pergi lebih dulu meninggalkannya.
****
Di sebuah rumah mewah nan megah, Andrian sedang berendam di dalam bathtub berisikan dengan air hangat. Lilin lilin aromaterapi menemani ritual mandinya saat itu, ditambah dengan segelas anggur berkualitas tinggi memper perlihatkan betapa baiknya kehidupannya selama ini.
Untuk sesaat, ia memikirkan beberapa kejadian yang terus mengganggu pikirannya. Dimana pria waiters itu tampaknya akan menjadi peran yang serius jika tidak disingkirkan dengan segera. Ia tidak mau jika ada rumput liar yang mengganggu hubungannya dengan Wulan, sudah lama sekali rasanya ia menginginkan wanita yang menjadi teman kecilnya tersebut.
Perlahan tangan kanannya meraih sesuatu, dan itu adalah sebuah ponsel. Dimana saat ini sepertinya ia sedang berusaha menghubungi seseorang.
__ADS_1
"Ya hello, bos!" Sahut seseorang dari balik panggilan tersebut dan itu terdengar seperti suara seorang pria.
"Aku ingin kau menyelesaikan sesuatu untuk ku !" Ujar Andrian dengan begitu santainya berbicara dengan seseorang tersebut.
"Baik bos, dengan senang hati saya akan melakukannya !" Jawaban didapatkan dengan cepat tanpa perlu seseorang tersebut berpikir panjang terlebih dahulu. Semuanya terasa mudah sekarang.
"Berikan dia sedikit pelajaran, agar dia tahu ada dimana posisinya sekarang ! Jadi ingatlah hanya sedikit pelajar, jangan sampai berlebihan. Untuk lebih detailnya nanti akan ku kirimkan lewat pesan." Jelas ucapan Andrian barusan memiliki kebencian pada seseorang hingga ia repot-repot menyewa seseorang untuk sebuah kejahatan.
"Siap Bos, akan ku pastikan bos puas dengan hasil kerja saya." Orang di balik telepon dengan percaya diri menyombongkan dirinya sendiri untuk pekerjaan yang belum ia lakukan.
****
Hari yang cukup melelahkan, ditambah dengan Alexia yang tidak masuk hari ini, menjadi pekerjaan ekstra untuk yang lainnya. Tapi bukan Ericsson jika ia menyerah di tengah jalan, karena malamnya dirinya masih harus bekerja di minimarket. Untungnya malam ini tidak terlalu ramai, jadi ia bisa sedikit menarik nafas untuk beristirahat.
Baru sebentar menarik nafas untuk beristirahat, tiba-tiba bos pemilik minimarket datang. Tentu hal itu mengejutkan dan membuat panik pria muda yang mencoba beristirahat tersebut. Dirinya khawatir akan diomeli kembali hanya karena ia dalam posisi yang tak sigap untuk menyambut pelanggan. Karena jika sekali Bos minimarket mengomelinya pasti bisa sampai pagi baru selesai, jadi akan sangat lama sekali.
"Maaf, Bos ! Tadi saya cuma melakukan peregangan sebentar." Ucap Ericsson sebagai sebuah alibi.
"Ah.. iya tak apa." Setelah mengatakan hal itu. Si Bos hanya berdiri terdiam sambil melihat ke arah Ericsson.
Tanpa berbicara lagi, Ericsson segera memperbaiki tingkahnya tadi. Dan saat ini ia sedang tersenyum untuk menyambut pelanggan datang.
Tapi sesuatu yang di rasa aneh, mulai mengganggunya dan memberikan perasaan yang tidak nyaman. Bagaimana tidak, Boss yang biasannya marah-marah kepada nya dengan terus mencari-cari kesalahan dari dirinya. Tiba-tiba saja terdiam berdiri dihadapannya sambil terus menatap dirinya yang tengah berkerja. Jika lama-lama di biarkan bisa bolong tuh wajah Ericsson yang terus di tatap pria dengan perut menggelembung tersebut.
"Em...maaf Bos? tapi apakah ada sesuatu di wajah saya? kenapa dari tadi bos terus menatap saya?" Pertanyaan berurutan terus di keluarkannya.
__ADS_1
"Apakah ada sesuatu yang bisa saya bantu Boss?" Akhirnya Ericsson menanyakan pertanyaan seribu umat.