Terkena Panah Sang Dewi

Terkena Panah Sang Dewi
Bab 20 Peringatan


__ADS_3

Cafe hari ini tak begitu ramai, beberapa pelanggan hanya ingin melihat Alexia yang terkenal akan kecantikannya. Tapi setelah tahu Alexia tidak ada, mereka pun segera pergi. 


Kali ini Ericsson terlihat sedikit waspada, ia tak ingin ketiga hantu semalam menghantuinya sampai kemari, jadi dirinya selalu mengawasi sekeliling. Bahkan untuk berjaga-jaga ia selalu mencari kesempatan berada di sekitar Wulan. Sebab ia tahu jika para hantu itu akan segera menjauh bila ia bersama wanita ini.   


Namun sepertinya Wulan menanggapinya dengan lain. Ia seolah terlihat senang bila berada di dekat Ericsson. Apalagi setelah kejadian semalam, wanita itu pulang cukup larut setelah membuatkan makan malam.


"Apa kau pulang dengan selamat semalam?" Tanya Ericsson yang terlihat merasa tak enak dengan Wulan. Karena sudah membuat wanita itu pulang larut malam.


"Yah, seperti yang kau lihat sekarang ini, aku baik-baik saja !" Sambil tersenyum wanita itu melihat ke arah Ericsson.


" Maaf sudah membuatmu kerepotan semalam. Lain kali aku akan mentraktirku makan, sebagai ucapan terima kasih ku." Masih merasa tak enak, pria itu mencoba untuk meminta maaf.


"It oke, gak apa-apa kok, kalau kau masih merasa sakit. Kau bisa pulang lebih cepat." Wulan sungguh perhatian terhadap pegawainya, atau mungkin karena itu adalah Ericsson? Entahlah, benar atau tidaknya itu hanya Wulan yang tahu.


"Gak perlu kok jika seperti itu justru aku yang jadi gak enak sama yang lainnya!" Balas Ericsson yang menolak kebaikan dari Wulan.


"Ouh…baiklah!" Wulang yang mengerti akan penolakan Ericsson.

__ADS_1


"Kalau begitu, aku lanjut kerja dulu !" Pergi untuk melanjutkan pekerjaannya. Pria itu sudah merasa cukup mengobrol dengan Wulan saat itu.


"Ouh ya, silahkan !" Sambil tersenyum wanita itu membiarkan Ericsson untuk pergi.


Di sisi lain di luar cafe, rupanya Andrian sedang mengamati mereka berdua, dimana kedua nya terlihat mengobrol dengan sangat akrab dan santai. Hal itu memicu rasa kecemburuannya. Dan ia pun pergi meninggalkan Cafe tanpa sempat masuk kedalam terlebih dahulu.


***


Saat ini sudah waktunya, jam pulang untuk Ericsson, ia sudah menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Sebenarnya ia sempat was-was, karena hanya di cafe ia bisa berada di sekitar Wulan. Lalu bagaimana nasibnya sekarang? Ia pasti akan menjadi incaran lagi oleh para hantu gentayangan itu. Tapi mau gimana lagi, ia juga tak bisa terus bergantung. Dengan menarik nafas panjang Ericsson pun meninggalkan Cafe tentu dengan tetap waspada di sekitarnya. 


Sedang dalam perjalanan pulang, dirinya dikejutkan dengan kemunculan Andrian yang mendadak muncul di depannya. 


"Ada waktu? Aku ingin bicara dengan mu!" Ujar Andrian tentu dengan gelagat angkuhnya. Terlihat dari sorot matanya yang seolah memandang rendah Ericsson.


"Tentu, memang apa yang ingin kau bicarakan dengan ku?" Tanya Ericsson yang memang hanya beberapa kali bertemu Andrian jadi untuk urusan apa ia ingin bicara dengannya.


"Sebaiknya kau menjauh dari Wulan, aku lihat kau hanya ingin memanfaatkan nya saja. Jadi lebih baik kau pergi menjauh!" Andrian langsung mengatakan tujuannya secara lugas.

__ADS_1


"Apa kau bilang? Memanfaatkan nya?" Ericsson justru tertawa mendengar perkataan dari Andrian saat itu.


"Memang kau siapa? Dengan seenaknya menyimpulkan semuanya sendiri?" Ericsson yang tak terima dirinya dinilai begitu saja.


"Hah… lucu sekali, bicara dengan orang seperti mu ini lah yang selalu membuatku muak. Asal kau tahu saja, sejak kecil Wulan dan aku selalu bersama, bahkan kedua keluarga sepakat untuk menjodohkan kita. Jadi aku sarankan kau untuk berhenti bekerja. Aku juga akan memberikan kau uang kompensasi jika kau melakukannya. Bukankah ini sangat mudah?" Mendekatkan wajahnya dan menatap kedua mata Ericsson saat itu.


"Tawaran yang cukup menggiurkan. Tapi sorry, aku nggak minat !" Balas Ericsson dengan santainya.


"30 juta apa itu cukup?" Andrian memberikan tawaran yang sebagian orang tidak bisa menolaknya.


"Wah…..kaya sekali rupanya dirimu ! Tapi tetap saja, simpan uangmu itu. Karena aku bukanlah orang yang gampang untuk di beli." Menepuk pelan pundak Andrian yang kemudian berlalu pergi. Meninggalkan pria itu sendiri dengan segala keangkuhannya.


"Dasar brengsek !!" Gerutu Andrian yang menahan emosi dengan tangan yang terkepal.


Ericsson kembali membalikkan badannya dan mengatakan sesuatu.


"Ouh ya, satu lagi. Asal kau tahu saja, aku tidak ada niatan untuk mendekati ataupun memanfaatkan Wulan, karena semuanya terjadi begitu saja. Jadi jangan salahkan aku, tapi yang harus kau salahkan adalah takdir karena wanita itu tidak memandang mu." Perkataan menohok Ericsson seakan menambah kebencian Andrian kepada nya.

__ADS_1


"Kau tunggu saja, sebentar lagi kau akan mendapatkan pelajaran yang tak bisa kau lupakan." Sekali lagi Andrian menggerutu tapi kali ini ada senyuman kecil yang muncul dari sudut bibirnya. Dan pria itu pun pergi dari tempat tersebut.


__ADS_2