Terkena Panah Sang Dewi

Terkena Panah Sang Dewi
Bab 15 Kisah siluman rubah


__ADS_3

Ratusan tahun yang lalu sebelum hutan menghilang, siluman rubah dipertemukan dengan Clora, dimana saat itu Clora si rubah betina tengah terluka. Nampaknya salah satu kakinya terkena perangkap, hingga membuatnya berjalan dengan pincang. Dibawah sinar rembulan kedua mata Clora pun seolah menyala bersinar indah, dan disaat itulah rubah jantan mulai terpesona dibuatnya. 


Rubah jantan menolong Clora dan dimulailah kisah cinta mereka berdua. Berganti hari, kedua nya sering bertemu, mereka mulai dekat dan akhirnya tumbuhlah cinta di kedua nya. Sampai sebuah musibah datang. Para penduduk setempat memburu mereka, dengan dalih anak mereka telah di makan oleh para rubah tersebut. Namun kemarahan telah memuncak membuat semua orang berperilaku brutal. Mereka membakar tempat siluman rubah yang waktu itu, rubah jantan sedang keluar untuk mencari makanan. Dari kejauhan terlihat asap yang membumbung tinggi, dan sepertinya rubah jantan memiliki firasat buruk setelah melihatnya. Segeralah dengan cepat ia berlari ke gua tempat ia tinggal. Namun terlambat api telah melahap semuanya. Samar-samar ia mendengar suara rubah betina dari dalam gua, tanpa berpikir panjang si rubah jantan berlari masuk menerjang panasnya nyala api. Dan dengan kekuatannya ia berusaha menyelamatkan Clora.  


Berhasil membawa Clora keluar, rubah jantan meratap sedih. Ia melihat tubuh Clora yang bersimbah darah. Dan di sisa kesadarannya Clora mulai mengatakan sesuatu.


"Jangan salahkan mereka, aku lah yang bersalah karena sudah membunuh anak-anak itu. Sekarang aku sangat menyesalinya. Karena hal itu aku juga kehilangannya. Maafkan aku karena tak bisa menjaganya. Aku juga sudah membohongimu tentang hal ini. Sekali lagi maafkan aku." Setelah mengatakan hal tersebut Clora pun tak sadarkan lagi.  Ia mengalami luka yang sangat parah, bahkan bayi rubah yang di kandungannya pun meninggal.


Amarah nampak jelas dari kedua mata rubah jantan. Ia segera mencari siluman penguasa hutan untuk meminta pertolongan padanya agar menyelamatkan Clora.  Namun setelah menemuinya ia hanya memberikan satu cara untuk menyelamatkan kekasihnya tersebut, yaitu dengan memindahkan energinya kepada tubuh Clora. Tentu hal itu tidaklah mudah, karena rubah jantan harus memotong ekornya dan diberikan kepada Clora.


Tanpa ragu ataupun bimbang, rubah jantan memotong satu ekornya dan diberikannya kepada Clora agar ia bisa memakan energinya. Pelan tapi pasti kedua mata Clora mulai terbuka, bahkan lukanya sudah mulai menghilang. Akan tetapi tubuhnya masih dalam kondisi sangat lemah dan organ dalamnya masih belum sembuh. Namun setidaknya ia masih bisa bernafas lega, bahwa ada kemungkinan untuk Clora bisa pulih. 


Meski begitu bukan berarti kemarahan dalam diri rubah jantan telah padam. Justru ia semakin berkobar untuk menuntut balas. Malam purnama ia berencana untuk menyerang desa tersebut. Ia ingin menghabisi semua manusia itu, dan mencincang habis daging mereka. 


Sampailah pada saat nya, rubah itu serius menyerang dan menghabisi penduduk desa, bahkan tak ada manusia yang tersisa. Mereka semua mati di bawah sinar terang sang rembulan. Dengan bermandikan darah rubah jantan menyebrangi sungai untuk menghilangkan noda tersebut dan barulah ia kembali ke gua. 


Saat kembali, keadaan Clora kembali memburuk, dengan cepat rubah jantan memotong lagi satu ekornya dan memberikannya pada Clora. Nampaknya masih belum berakhir, ia akan kembali memotong ekornya. Namun baru akan menebas ekornya, sebuah cahaya terang hadir di antara mereka.

__ADS_1


Samar-samar ia seperti melihat sosok anak manusia dalam cahaya tersebut. Dan mengatakan.


"Berhentilah dan terima takdirmu !" Seketika air mata tumpah, rubah jantan menangis akan takdir yang diberikan padanya.


Clora pun sudah tidak lagi bernafas, ia pergi meninggalkan rubah jantan sendirian. Demi untuk menjaga jasadnya, rubah jantan terpaksa memasukkan Clora pada sebuah gelembung buatan yang akan menjaga tubuhnya tetap abadi. 


Waktu terus berlalu, rubah jantan masih setia berada di sisi Clora. Ia terus menjaganya sepanjang waktu. Sampai ia mendapat sebuah berita jika energi murni seorang manusia terpilih dapat membuat setiap makhluk berkemungkinan untuk bereingkarnasi. Dari situlah ia terbawa untuk bisa mendapatkan energi murni tersebut.


"Bunuhlah aku, aku sudah menerima jalan yang di takdirkan. Meski tak bisa melihatnya lagi, setidaknya aku pernah bersama dengannya. Itu sudah lebih dari cukup untuk selalu mengingat dirinya." Sembari memejamkan mata siluman rubah sudah pasrah akan dirinya dengan membiarkannya untuk di bunuh. Namun suara ledakan besar terdengar, membuat siluman rubah kembali membuka mata nya dan melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Gelembung besar yang menampung tubuh Clora pecah, wanita itu berhasil memecahkannya. Seberkas cahaya keluar dari satu tangan Alexia, dan ia pun menyentuh tubuh Clora dengan cahaya tersebut.


"Clora !" Panggil siluman rubah lirih. Matanya mulai membulat seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat saat itu.


Arwah Clora melayang mendekati siluman rubah jantan. Ia memeluk tubuh yang tampak lemah itu. Dan dapat dirasakan detak jantung milik rubah jantan.dengan rasa dingin tubuh milik Clora.


"Benarkah ini kau, Clora?" Ucap rubah jantan dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

__ADS_1


"Ya ini aku, dan selama ini aku selalu disisi mu tanpa pergi kemanapun." Ucap arwah Clora yang juga tampak kesedihan darinya.


"Benarkah itu?" Tangisannya pun tumpah, tak lagi sanggup menahan bendungan air mata.


"Iya, terimakasih karena kamu terus menjagaku selama ini." Ucap Arwah Clora dengan sangat tulus.


"Maafkan aku Clora, jika saja waktu itu aku cepat menolong mu, kau pasti tak akan….." Ucapan rubah jantan ditahan oleh Clora.


"Ssstt… Tak ada yang perlu di sesali, semuanya memang seharusnya terjadi. Jadi kali ini biarkan aku pergi. Aku percaya suatu masa kita pasti akan bisa bertemu kembali. Terimakasih untuk semuanya, aku sangat senang saat itu aku bisa bertemu denganmu. Selamat tinggal Foxs." Setelah mengatakan kata perpisahan arwah Clora pun menghilang bersama dengan cahaya.


"Tidak, Clora !!" Teriakan kesedihan terdengar memilukan. Tangisan siluman rubah pun semakin histeris. Meski tubuhnya lemah namun air matanya masih sanggup untuk mengalir.


Alexia yang tak memiliki empati tak begitu bisa merasakan apa sebenarnya dirasakan oleh siluman rubah, jadi dia hanya berdiri dan menonton. Tak lama Ericsson mulai tersadar. Mata pria itu melihat kesegaran arah, seolah sedang memastikan akan sesuatu. Mendengar suara tangisan Ericsson segera melihat ke sumber suara, dan itu adalah siluman yang ingin membunuhnya tadi.


Mengapa dia menangis? Apa karena tak berhasil membunuhku menjadi penyebabnya?


"Hay…kau sudah sadar?" Tanya Alexia yang tiba-tiba sudah berada melayang di atasnya.

__ADS_1


"Selama aku pingsan, sebenarnya apa yang sudah terjadi? Dan kenapa siluman itu…." Tanpa melanjutkan ucapannya Alexia sudah menggendong tubuh pria tersebut.


__ADS_2