Terkena Panah Sang Dewi

Terkena Panah Sang Dewi
Bab 19 Keberuntungan


__ADS_3

Dalam perjalan pulang, Ericsson merasa ada seseorang yang mengikutinya dari belakang, namun setelah ia menoleh tak ada siapapun di sana. Langkahnya pun berlanjut, ia melewati tikungan tempat ia bertemu dengan Alexia saat itu. Lampu jalan mendadak berkedip beberapa kali. Tak seperti biasanya, Ericsson tak begitu menanggapinya dan terus melanjutkan perjalanan nya pulang, hingga perlu melewati beberapa blok lagi. 


Saat itu mendadak suara aneh terdengar oleh Ericsson. Seperti langkah kaki yang berat menuju ke arah nya. Semilir angin makin kencang bertiup. Dan perasaan tak enak mulai dirasakannya. Samar-samar di hadapan pria itu muncul beberapa bayangan yang semakin mendekat. Setelah beberapa kali mengucek mata, bayangan itu semakin tampak jelas. Tiga sosok hantu dengan penampilan ketiga nya yang memang cukup mengerikan. Mata mereka menyala merah, saat ini mereka sedang menatap ke arahnya.


"Ais…kenapa harus ketemu hantu lagi! Sial banget hari ini." Seru Ericsson yang merasakan kengerian saat melihat para hantu tersebut.


Pada detik  itu, Ericsson teringat jika saat tadi bekerja, ia sempat melepaskan cincin pemberian Alexia, makanya para hantu jadi lebih berani mengganggu Ericsson.


Terdengar para hantu mengatakan sesuatu. Tapi hanya terdengar samar-samar di telinga Ericsson.


"Berikan kami energi mu !" Begitulah yang mereka katakan.


Karena sudah tak memiliki perlindungan, terpaksa ia harus kabur menghindari para hantu tersebut. Dirinya pun membalikkan badan dan berlari berlawanan arah untuk menjauhi tiga hantu.   


Tapi tampaknya hantu kali ini sedikit tak bisa diajak bekerja sama, dimana saat mengambil tikungan, meraka sudah terlebih dahulu muncul di hadapan Ericsson, dan itu terjadi beberapa kali. Jadi seperti ia sedang terperangkap dalam lingkaran sangkar yang mau kemana pun dirinya tetap terkejar.


Nafas pria itu terengah-engah, ia berhenti sejenak untuk mengambil nafas. Namun naas, sepertinya para hantu sudah tak memiliki kesabaran. Ericsson dilemparkan sehingga menabrak tong sampah yang berada di sudut jalan.


"Braakkk.." Ericsson terlempar hingga menimbulkan suara yang cukup keras.


Sekali lagi, dirinya di seret dan dilemparkan kembali ke sisi jalan.


Tak mungkin melawan mereka, ia pun berusaha untuk berlari lagi. Namun kakinya ditahan oleh mereka.


Sampai sebuah sorot mobil menyilaukan matanya. Turun seseorang dari dalam mobil tersebut, dengan langkah kakinya yang menuju ke arahnya.

__ADS_1


"Ericsson, apa yang sedang kau lakukan?" Tanya orang tersebut yang sebenarnya adalah Wulan.


Gawat !! kalau sampai dia ada di sini juga.


 


Batin Ericsson yang melihat kehadiran wanita itu di saat waktu yang tidak tepat.


"Bantu aku berdiri ! kita harus cepat pergi dari sini !" Seru Ericsson yang seperti nya mengalami cedera di kakinya.


"Ya tuhan,apa yang terjadi? Kenapa kau terluka?" Wulan panik, yang melihat luka di tangan dan juga kaki Ericsson.


"Nanti akan ku jelaskan, tapi kita pergi dulu dari sini." Dengan wajah serius Ericsson berharap mereka cepat pergi dari tempat itu.


Wulan segera membawa Ericsson kedalam mobilnya, ia hendak pergi ke rumah sakit. Namun hal itu ditolak oleh Ericsson, dan meminta wanita itu untuk mengantarkannya pulang. Di Rumah tidak ada orang, kebetulan Brian sedang keluar. Suasana pun cukup canggung saat itu.


"Kau ada kotak obat?" Tanya Wulan sembari membantu pria itu bersandar di sofa.


"Ada di atas lemari itu !" Sembari menunjuk ke arah lemari di sudut ruang.


Wulan pun beranjak mengambil kotak obat tersebut, akan tetapi rupanya lemari itu melebihi tingginya, hingga membuatnya kesulitan untuk mengambil kotak obat di atasnya.


Wanita itu tampak masih berusaha hingga akhirnya membuat Ericsson juga ikut tergerak bangkit.


Tanpa disadari dari belakang, tangan Ericsson sudah mencapai kotak obat tersebut. Tapi karena Wulan yang mendadak berbalik membuat keduanya jadi saling terkejut. Kotak obat pun terjatuh dan mata mereka saling bertemu. 

__ADS_1


Berada dalam posisi tersebut, jantung Wulan berdetak kencang. Bahkan wajahnya sampai bersemu merah.


"Kau tak apa?" Tanya Ericsson yang sepertinya tampak biasa saja dengan situasi itu.


"Ah…ya aku baik-baik saja!" Ujar Wulan yang kemudian segera merapikan kotak obat yang terjatuh tersebut.


Dengan hati-hati Wulan mengobati Ericsson, di sela-sela kegitanya itu pula, Wulan mulai menanyakan kembali sebenarnya apa yang telah terjadi pada pria itu, hingga membuatnya terluka seperti ini.


Sebelum Ericsson menceritakannya, pria itu memberikan sebuah pertanyaan terhadap Wulan. 


"Apa kau percaya akan hantu?" Ekspresi Ericsson berubah datar, sambil melihat ke dua manik mata milik Wulan.


"Em… mungkin saja !" Jawaban nya terdengar ambigu, dimana terpaksa Ericsson tak ingin memberitahukan nya situasi yang sebenarnya terjadi. Ia mulai mencari alasan sebagai alibi. Jadi ia terpaksa bicara sebuah kebohongan dengan wanita itu.


"Tadi hanya ada beberapa preman yang lewat. Karena aku tak memberikan apa yang mereka mau, mereka pun memukulku. Dan waktu itu mereka masih berada di sekitar situ. Jadi aku khawatir jika mereka kembali dan menyerangmu. Makannya aku memintamu untuk segera pergi dari tempat itu." Penjelasan Ericsson tampak menyakinkan, jadi sepertinya wanita itu akan percaya dengan karangan nya tersebut.


Selesai di obati, mereka mengobrol hal lain. Tapi sepertinya, Ericsson yang sedang mempertahankan keberadaan Wulan. Ia selalu mengganti topik untuk membuat wanita itu tetap berada di sana.


Dan suara perut yang lapar mulai terdengar di tengah pembicaraan mereka. Dimana suara itu berasal dari perut Ericsson yang memang belum sempat untuk makan malam.


Dengan senang hati Wulan pun menawarkan diri untuk memasakkan sesuatu buat Ericsson. 


Aroma masakan mulai tercium menyebar ke penjuru arah. Nampaknya wanita satu ini cukup piawai dalam memasak, buktinya ia bisa memasak dengan bahan yang hanya seadanya. Tapi Ericsson tak akan tahu jika ia belum mencicipinya.


Tidak berapa lama, masakannya sudah tersaji di meja makan. Dan sudah saatnya untuk memakannya. Ericsson membuka mulutnya dan mulai menikmati makanan tersebut. Dan nilainya 100, Wulan benar-benar pandai memasak. Makanan tersebut pun ludes dihabiskan olehnya tanpa ada sisa.

__ADS_1


__ADS_2