
"Apa kau sudah mengatakan yang sebenarnya ?" Alexia memicingkan matanya, menatap ke arah Ericsson. Seolah sedang menyelidiki pria tersebut.
"Yah, tentu saja." Senyum tipis tampak jelas dari wajah Ericsson saat itu, yang sedang menutupi sebuah kebenaran.
"Baiklah, lagipula sekarang kau juga sudah baikan, jadi tak kan ada masalah!" Wanita itu lalu duduk di samping Ericsson. Dia mulai menyadari jika cincin pemberiannya sudah tak ada lagi di jari tangan pria itu.
"Kau melepaskan cincinnya?" Ekspresi Alexia nampak tak senang. Tatapannya pun berubah menjadi tajam.
"Sebenarnya tak ada niatan aku untuk melepasnya, tapi tadi…. aku kelupaan hingga akhirnya melepaskan cincin nya. Maafkan aku, aku sungguh tak sengaja. Aku benar-benar menyesal." Menyatukan kedua telapak tangan, berharap wanita itu tak kesal dan bisa memaklumi nya.
"Hah….Dasar ceroboh." Nampaknya Alexia tak jadi marah, dia pun merebahkan tubuhnya di samping Ericsson. Sembari mengucapkan sesuatu yang sedikit sulit dipahami oleh Ericsson.
"Apa mereka akan menyadarinya juga? Tampaknya akan semakin sulit untuk kedepan nantinya." Suara helaan nafas terdengar dari Alexia, nampak seperti ada sebuah beban dipikirannya.
"Sebenarnya apa yang sedang kau bicarakan, kau membuatku tak mengerti sama sekali." Tegur Ericsson tak paham dengan apa yang wanita itu bicarakan.
"Sudahlah, lagipula aku jelaskan pun akan sama saja. Lebih baik kau tidur. Bukankah besok kau masih harus bekerja?" Tak ingin membuang waktu untuk sebuah penjelasan yang sia-sia, wanita itu mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Yah kau benar ! Dan sekarang sebaiknya kau pergi dari kamarku." Ucap Ericsson sambil menggeser tubuh Alexia yang masih merebahkan diri di atas kasurnya.
"Bukankah kau hanya perlu tidur, kenapa harus mengusikku. Lagi pula tempat tidur ini cukup luas !" Sembari protes, Alexia tak ingin meninggalkan tempatnya. Ia masih tetap kekeh untuk tetap di sana.
"Tidak bisa, apa kau lupa kau seorang wanita, dan aku seorang pria. Dan kita tak bisa tidur di satu tempat tidur yang sama. Udah cepetan keluar sana."
"Nggak, aku nggak mau keluar!" Masih tetap pada pendiriannya, Alexia yang keras kepala tak mau meninggalkan kamar Ericsson.
Melihat Alexia yang tak mau pergi, Ericsson bangkit dan segera membopong tubuh wanita itu, lalu membawanya keluar dari pintu.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan. Aku bilang aku gak mau pergi !" Seru Alexia yang memberontak saat di digendong Ericsson.
Brakkk….. pintu segera ditutup, agar wanita itu tak bisa masuk.
"Bagus, begini kan selesai !" Merasa lega karena masalah sudah terselesaikan. Ericsson melangkah kembali ke tempat tidurnya. Namun ia menemukan sesuatu disana. Diman Alexia sudah kembali merebahkan tubuhnya.
"Apa? Kau….!" Perasaan kaget dan kesal bercampur jadi satu. Langkahnya dipercepat mendekati Alexia.
"Kenapa kau masuk lagi, bukankah aku sudah membawamu keluar. Apa kau sengaja ingin membuatku mati muda sekarang !" Ericsson benar-benar sangat kesal sekarang. Namun bukannya mendengarkan Ericsson, Alexia justru mengabaikannya. Sambil menguap seolah merasa mengantuk dengan semua ucapan pria tersebut.
"Kau itu, benar-benar ya ! Ah sudahlah !"
Menyerah menghadapi Alexia, pria itu berjalan keluar kamar, dan memutuskan untuk tidur di sofa.
Beberapa jam berlalu dan Alexia masih tak bisa tidur. Kali ini dengan mengendap-ngendap, wanita itu mulai berjalan keluar. Ia mendekati sofa tempat Ericsson berada. Tampak pria tersebut tengah tertidur pulas. Dengan pelan langkahnya kini berhenti di samping Ericsson. Ia berjongkok untuk melihat wajah pria itu lebih jelas. Sepertinya ia cukup kelelahan hari ini, hingga tidurnya cukup lelap sekali.
Saat itu, tiba-tiba muncul guratan di wajah Ericsson. Sepertinya ia sedang mengalami mimpi buruk. Hingga buliran keringat juga mulai bermunculan membasahi tubuhnya. Terdengar lirih, pria itu juga mengigau sambil mengucapkan sesuatu.
"Tidak…kau…mau kemana?" Tak terlalu jelas pria itu bergumam seperti itu.
"Apa dia mengalami mimpi yang sangat buruk? Mengapa ia sampai mengigau begitu?" Gumam Alexia yang berbicara sendiri sembari masih menatap sosok Ericsson di sampingnya.
"Mengapa aku jadi penasaran? haruskah aku memasukinya !" Alexia masih melanjutkan pembicaraan dengan dirinya sendiri. Mungkin memang terlihat seperti orang gila. Tapi biarlah karena dia Alexia.
"Yah, aku memang harus masuk kedalam." Seketika Alexia berubah menjadi cahaya kecil yang melayang, hingga kemudian cahaya itu mulai menghilang masuk ke dalam kepala Ericsson.
Ketika sudah berada dalam mimpi Ericsson, wanita itu tak bisa melihat apa-apa. Semuanya terlihat gelap, bahkan Alexia hanya bisa tetap diam pada tempatnya saat itu.
__ADS_1
Perlahan seberkas cahaya muncul, sebuah gambaran mulai terbentuk. Dan saat itu ia melihat Ericsson yang sedang memegang tangan seorang wanita, ia berusaha menahan kepergian wanita itu. Bahkan dengan beruraikan air mata, ia masih memegang tangannya. Wajah wanita itu pun tidak dapat terlihat jelas karena ia membelakangi Alexia. Jadi dengan kata lain ia tak tahu wanita tersebut siapa.
"Munkinkah dia kekasihnya?" Alexia yang mulai menebak-nebak.
"Sebaiknya aku membuatkan mimpi indah untuk nya !" Sambung Alexia yang mulai keluar dari mimpi Ericsson, dan meninggalkan serpihan serbuk berkilauan di dalam mimpi tersebut.
Dilihatnya lagi wajah Ericsson, dimana guratan itu sudah menghilang.
"Kau memiliki hutang kepadaku untuk hal ini !" Gumam Alexia setelah berhasil menyingkirkan mimpi buruk tersebut.
Saat hendak kembali ke kamar, mendadak tangan Alexia dipegang oleh Ericsson, pria itu masih berbicara dalam tidurnya.
"Jangan tinggalkan aku ! Aku mohon jangan pergi !" Kali ini Alexia merasa luluh. Ia menggenggam kembali tangan pria itu, sembari membisikkan sesuatu di dekat telinganya.
"Aku tidak akan pergi, karena aku akan selalu di sisimu !" Setelah mengatakannya, Alexia kembali mengamati wajah tersebut yang masih dalam keadaan tertidur. Ia merasa malam ini cukup tenang. Ia pun perlahan memejamkan matanya dan tertidur dengan posisi duduk di lantai, di samping Ericsson sembari masih berpegangan tangan.
***
Pagi-pagi sekali, suara keras membuat Alexia dan juga Ericsson terbangun. Tapi hal mengejutkan justru lebih membuat jantung Ericsson bangun lebih cepat. Dimana pria itu kaget mendapati Alexia yang sudah berada di sampingnya, apalagi dengan kedua tangan mereka yang saling bertautan.
"Alexia !!" Seru Ericsson yang segera melepaskan genggaman tangan mereka.
"Bukankah aku sudah mengatakannya, kalau aku sudah tak lagi bisa bersama kalian !" Suara keras Brian dari luar, membuyarkan Ericsson yang tadi sempat fokus dengan Alexia saat itu.
"Kamu tidak bisa berbuat begitu, kamu tahu kan kita awalnya sangat dekat. Lalu bagaimana bisa mendadak berubah sampai seperti ini?" Terdengar suara perempuan yang sepertinya sedang berdebat dengan Brian di depan rumah.
Ericsson dan Alexis saling pandang setelah mendengarkan suara ribut di luar.
__ADS_1