Terkena Panah Sang Dewi

Terkena Panah Sang Dewi
Bab 16 Kabar buruk


__ADS_3

"Gila kau ya! Cepat turunkan aku!" Ericsson yang merasa malu digendong oleh Alexia yang seorang wanita. Ia pun meminta untuk diturunkan.


"Setelah turun, memang kau bisa keluar dari sini?" Ujar Alexia yang menamparnya akan kenyataan tentang ada dimana mereka sekarang. Di dalam sebuah gua yang memang cukup terjal bila di lewati hanya dengan kaki manusia. 


"Sepertinya kau harus menurunkanku di tempat yang lebih aman." Merasa malu setelah mengatakannya, pria itu kemudian terdiam. Karena nyatanya ia tak bisa tanpa bantuan Alexia.


Sementara Alexia hanya tersenyum, melihat tingkah Ericsson saat itu.


Sampailah di luar baru Alexia menurunkan Ericsson. Dimana saat itu perhatian Ericsson mengarah pada pemandangan yang sangat jauh berbeda dengan gua yang ia masuki tadi. Bagaimana tidak, ia tidak melihat adanya gua, justru melainkan hanya sebuah lubang yang berada di antara akar pohon besar.  Lantas gua yang ia lihat tadi apa? Mungkinkah itu sebuah ilusi? Kepala Ericsson sudah mulai berputar untuk memikirkan hal semacam itu.


Alexia yang menyadari tentang apa yang ada di dalam pikiran Ericsson, mulai berbicara. 


"Di Bawah pohon ini adalah pintu teleportasi untuk mengelabui manusia. Jadi jangan heran jika tempatnya berubah begitu kau keluar." Jelas Alexia sembari menarik garis lengkung dari ujung bibirnya.


"Ah…begitu rupanya." Kebingungan Ericsson terjawab seketika, tapi masih sulit untuk di percaya. 


"Terus kita sekarang pulangnya gimana?


Sementara aku gak tau kita ada di daerah mana sekarang?" Pria itu tampak asing dengan tempatnya berada saat ini.


Lagi-lagi Alexia menjentikkan jarinya, dan cling …. Seketika mereka sudah berada dirumah saat itu.


"Hah…." Ekspresi Ericsson tampak seperti orang bodoh dengan mulut yang menganga.

__ADS_1


"Apa di dalam kulkas masih ada Apel?" Dengan santainya Alexia bertanya disaat pria itu belum bisa mencerna semuanya. 


"Mungkin..ada." Menjawab masih dengan tampang konyol di wajahnya.


"Rupanya kalian sudah pulang?" Tiba-tiba Brian muncul dengan wajah yang tampak bangun dari tidur. Ia berjalan ke arah dapur.


"Yah…baru saja." Alexia yang mengikuti langkah Brian menuju dapur, dan meninggalkan Ericsson yang masih dalam renungan panjangnya.


"Masih adakah apel di dalam sana?" Tanya Alexia yang melihat Brian membuka pintu kulkas." Berdiri di samping Brian dengan matanya yang melirik ke dalam kulkas.


"Em…tunggu sebentar ! Masih ada nih, dua." Dua apel segera lenyap dari tangan Brian saat itu. 


"Wah… kau ini benar-benar sesuatu ternyata !" Brian memuji Alexia, namun nampak nya tak di perdulikan oleh wanita tersebut.


***


Dari kejauhan Wulan sedang mengawasi kinerja para pegawainya. Ia mulai merasa akan omset bulan ini yang akan naik pesat. Mungkinkah karena adanya pegawai baru yang potensial? atau sebenarnya hanya sebatas keberuntungan untuk sesaat?


Beberapa jam berlalu dan sudah waktunya untuk istirahat makan siang. Nampak semua pegawai yang capek kelelahan. Mereka menyeka keringat, yang terlihat bagai biji jagung yang bertengger di pelipisnya. Akan tetapi hal itu bertentangan dengan Alexia yang masih terlihat biasa-biasa saja. Tentu hal itu nampak aneh untuk mereka. Namun mereka lebih memilih mengacuhkannya, karen Alexia wanita yang cantik.


Di tengah jam makan siang tersebut, Alexia dibuat terkejut dengan kehadiran Bao-bao, anak kecil yang selalu membawa bola kristal di tangannya. Saat itu tampak wajahnya yang gugup seakan ada sesuatu yang terjadi.


"Bao-bao, kenapa kau disini?" Tanya Alexia yang sebelumnya sudah menarik Bao-bao untuk pergi ke tempat yang lebih sepi.  

__ADS_1


"Aku ada kabar buruk untukmu, dari yang aku dengar para petinggi akan mengadakan pertemuan mendadak. Dimana di pertemuan tersebut mereka akan membahas mengenai permasalahan yang disebabkan oleh salah satu Dewi." Penjelasan Bao-bao kepada Alexia yang serius mendengar.


Tentu setelah mendengar kabar buruk tersebut, Alexia merasa panik. Ia takut jika dirinya sudah benar-benar ketahuan. Lalu bagaimana dengan nasibnya nanti. Guratan kekhawatiran tampak jelas di wajah wanita tersebut saat itu.


Mungkinkah aku sudah ketahuan?


Hati Alexia pun semakin tak tenang, ia seperti berhadapan dengan Bom waktu, dimana saat ini sangatlah menegangkan. Ia tak tahu kapan Bon itu akan meledak. 


Bao-bao, si anak kecil pembawa bola kristal, mengajak Alexia untuk kembali ke langit, untuk memastikan kembali tentang kabar tersebut. 


"Kita harus kembali ke langit, kau harus memastikan kabar buruk ini. Jika ini memang benar tentang dirimu, kau bisa dijatuhi hukuman sangat berat karena keberadaanmu di bumi. Maka dari itu kita harus buru-buru kembali." Bao-bao tengah menyakinkan Alexia untuk ikut bersamanya.


"Baiklah, tapi…." Masih ada sesuatu yang membuat wanita itu menggantung keputusan nya.


"Tapi apa? Bukankah kita sudah tidak punya banyak waktu lagi. Ini sudah sangat gawat Alexia." Mengingatkan jika mereka tak segera pergi, pasti akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Pertegas Bao-bao.


"Jika aku pergi Ericsson giman?" Di saat segenting itu si wanita masih mengingat Ericsson.


"Kenapa tidak kau berikan saja perlindungan ganda?" Ujar Bao-bao yang saat itu melihat ke arah Alexia.


"Tapi aku sudah menanamkan sebagian kekuatan bulan kepadanya." Balas Alexia yang menceritakan jika pernah menanamkan energi bulan kepada Ericsson.


"Tak apa ! hal itu tak akan sampai bertentangan. Dimana energi bulan mu hanya untuk melindungi Ericsson, agar energi murninya  bisa tertutup dengan energi rembulan. Dan para hantu atau pun siluman tak akan bisa  melihatnya, terkecuali mereka yang sangat besar tujuan jahatnya maka itu pasti akan bisa di tembus. Kau berikan saja perisai perlindungan. Itu akan lebih baik untuknya." Saran yang diberikan untuk Alexia seperti cukup membantu. 

__ADS_1


Dengan mulai berkonsentrasi, Alexia mulai membuat perisai pelindung, dimana tak beberapa lama muncul sebuah cincin yang melayang tepat di hadapannya. Dan sepertinya rencananya akan berhasil hari ini. 


Alexia kembali untuk mencari Ericsson, ia ingin memberikan cincin tersebut untuknya. Tanpa penjelasan wanita itu pun menglandang begitu saja tangan Ericsson ke sudut tempat. Dan ia meminta pria itu untuk memakai cincin yang dia berikan.


__ADS_2