Terkena Panah Sang Dewi

Terkena Panah Sang Dewi
Bab 14 Merebut energi murni


__ADS_3

Cakar panjang siluman rubah mengincar Ericsson, namun hal tersebut berhasil digagalkan  Alexia. Wanita itu memukul mundur si rubah, hingga memberikan jarak diantara mereka.


"Dasar siluman rubah, kenapa kau tiba-tiba menampakkan diri setelah ratusan tahun bersembunyi. Apakah kau sudah mulai bosan?" Seolah mengejek, nampaknya Alexia ingin tahu alasan rubah itu keluar dari persembunyiannya.


"Itu bukanlah urusanmu ! yang aku inginkan saat ini adalah energi murni milik manusia di sampingmu itu. Jadi sebaiknya kau jangan menghalangi ku." Dengan geram siluman mulai menggertak untuk memperingatkan Alexia agar tak ikut campur dalam masalahnya.


"Enak saja kau ingin mengambilnya, memangnya kau siapa? Berani sekali kau? Hanya siluman rubah tua saja,  begitu sombong !" Ujar Alexia yang secara terang terangan mengejek siluman rubah tersebut, sembari sedikit menjulurkan lidahnya.


"Kurang ajar kau ya !" Kaki rubah meloncat dengan sangat tinggi menuju ke arah Alexia. Pertarungan pun terjadi. 


Ericsson yang tidak memiliki kekuatan apapun, terpaksa hanya bisa mengamati dari jarak yang cukup aman untuknya.


Seperti sebuah kilatan di atas langit mereka bertarung dengan kecepatan yang tak biasa, bahkan saat itu Ericsson hanya mampu melihat dua cahaya yang bersinar saling beradu satu dengan yang satunya. Cahaya merah dimiliki oleh si rubah sedangkan yang putih adalah milik Alexia.


Kelihatannya kekuatan mereka cukup seimbang, apa karena kedua kekuatan mereka memiliki kesamaan dengan menyerap energi bulan. Atau sebenarnya masih ada kekuatan lain dari mereka? Secara bersamaan mereka melepaskan energinya, dimana energi Alexia berhasil mengenai dada si rubah, dan sedangkan energi si rubah meleset mengenai nya. 


Namun terjadi sesuatu dengan energi tersebut, dimana energi itu memantul setelah mengenai cermin lalu lintas. Di saat itu dapat ditebak jika energi tersebut mulai berbalik mengarah kepada Ericsson. Melihat kejadian tersebut dan tak adanya cukup waktu untuk menangkis. terpaksa Alexia menjadikan tubuhnya sebagai tameng untuk melindungi Ericsson.


Keduanya sama-sama mengeluarkan darah dari mulutnya. Tapi mereka masih sanggup untuk bertarung. Sekali lagi mereka beradu kekuatan.

__ADS_1


Kali ini Alexia yang dipukul mundur, siluman itu mulai berubah ke wujud aslinya, rubah berekor tujuh. Sebenarnya Alexia menemukan keanehan dari wujud rubah tersebut. Karena dari beberapa ekornya ia menemukan celah di salah satu sisinya. Ia pun teringat akan cerita yang pernah diceritakan Bao Bao kepadanya. Dimana ia pernah menangani sepasang rubah yang hampir dibutakan oleh cinta. Untuk membuat rubah betina tetap hidup, rubah jantan nekat memotong ekornya untuk berbagi energi yang dimilikinya. Karena hal tersebut menyalahi hukum takdir terpaksa Bao Bao harus turun tangan. Dan akhir  yang cukup tragis untuk kedua nya. Karena perbuatan buruk sang betina, ia pun tak bisa bereinkarnasi.


Sepertinya dia rubah yang diceritakan Bao bao. Apa mungkin ia mengincar energi Ericsson untuk membuat pasangan rubahnya bereinkarnasi? 


"Hai rubah sialan ! apa mungkin kau mau membuat pasangan bodoh mu itu reinkarnasi? Sadarlah, mana mungkin kejahatannya dengan mudah diampuni. Dia harus menanggung semuanya di alam baka. Jadi lebih baik jangan sia-sia kan hidupmu untuk sesuatu yang tak pasti." Perkataan Alexia seketika membuat siluman itu semakin meledak, ia mengerahkan semua kekuatannya untuk menyerang Alexia.


"Tutup mulut busuk mu itu. Kau tak pantas menilainya !" Dengan bola energi berwarna merah di dalam mulutnya, rubah itu mengarahkannya pada Alexia. 


Menghindar dari serangan. "Dasar rubah keras kepala !" Seru Alexia yang kemudian kembali lagi menghindar.


Beberapa saat kemudian, siluman rubah mulai kelelahan. Sejak tadi ia belum berhasil menaklukan Alexia yang terus terusan menghindar. Dirinya juga sudah menghabiskan banyak energi. Jadi ia mulai terpikirkan akan satu rencana. Mata si rubah menelisik ke arah pepohonan. Kebetulan pohon itu berada di dekat Ericsson. Dan dengan kecepatan kilat, ia mengarahkan bola energinya ke salah satu cabang pohon tersebut. Yang mana hal itu membuat cabang pohon jatuh tepat di atas Ericsson 


Si rubah memanfaatkan kesempatan tersebut, dengan membawa Ericsson untuk ikut bersama nya.


Segera bangkit, Alexia pun mengejar mereka dari belakang.


"Rubah jelek ! Kenapa Ericsson kau bawa juga !" Teriak Alexia dengan sangat keras sambil tetap mengejar siluman rubah tersebut.


Sampailah Alexia di sebuah gua yang cukup besar. Ia melihat jejak kaki rubah yang masuk kedalam.

__ADS_1


Dan dengan hati-hati wanita itu terbang masuk kedalam. Dan ketika berada di sana, udara  mulai terasa begitu lembab. Hidungnya juga mencium bau sesuatu yang tak mengenakkan. Dan disaat itu, kedua matanya terpaku akan sebuah gelembung besar yang dilihatnya. Di dalam gelembung tersebut, terdapat pasangan dari siluman rubah. Tampaknya ia berusaha menjaga tubuh pasangannya dalam gelembung tersebut. 


"Hay…rubah sialan ! Bersembunyi kemana lagi kau?" Alexia berteriak teriak untuk mencari rubah tersebut.


Beberapa saat rubah itu keluar, bersama dengan Ericsson yang tak sadarkan diri.


"Rubah brengsek apa yang baru saja kau lakukan padanya?" Sorot mata Alexia terlihat marah melihat Ericsson yang tak sadarkan diri.


"Aku memberikan ramuan ku padanya, dimana tubuhnya akan menolak energi murni miliknya dan hal itu akan menghasilkan sari energi murni. Dimana sari itu nantinya yang akan kuberikan kepada Clora." Tertawa senang seolah tujuannya akan berhasil.


"Jangan harap itu akan terjadi." Seru Alexia yang kemudian terbang menghampiri si rubah. Sekali lagi pertempuran terjadi. Tapi yang membedakan nya kali ini Alexia sedang dalam mode amarah. Ia terus menerus menyerang rubah, tanpa memberikan kesempatan si rubah menyerang baik.


Saat ini energi Rubah sudah mulai sampai batas nya. Ia mendapatkan beberapa luka dari serangan brutal Alexia. Sampai akhirnya dirinya pun terpojok. Dan luka yang di milikinya semakin serius. Si rubah akhirnya terjatuh dengan tubuh yang melemah. Disaat-saat itu dirinya mulai teringat akan kisah-kisah nya bersama Clora.


Melihat mata sendu dan wajahnya yang sudah tak berdaya, Alexia berhenti menyerangnya. Ia beralih menghampiri Ericsson yang masih tak sadarkan diri.


"Tenanglah ! aku belum sempat memberikan ramuan ku kepadanya. Dia hanya pingsan setelah aku pukul. Jadi seharusnya dia akan baik-baik saja dan kembali sadar." Penjelasan itu tiba-tiba muncul dari mulut si rubah. melihat baru beberapa menit lalu ia penuh dengan kekuatan untuk membunuhnya.


"Lalu kenapa kau berbohong padaku dengan mengatakan itu?" Tanya Alexia kepada si rubah yang sudah sangat lemah tersebut.

__ADS_1


"Tidak ada alasan khusus, aku hanya ingin melihat respon mu setelah aku mengatakannya. Dan sepertinya itu sudah cukup." Menoleh ke arah Alexia, si rubah mengatakan alasan kenapa melakukannya.


__ADS_2