Terkena Panah Sang Dewi

Terkena Panah Sang Dewi
Bab 23 Bersikap aneh


__ADS_3

Mendengar keributan tersebut, kedua nya pun keluar dari rumah. Di sana sudah berada Brian bersama beberapa wanita di sekitar lingkungan mereka tinggal.  Tampak suasana yang tidak menyenangkan. Begitu Alexia keluar, pandangan semua wanita itu pun seketika mengarah padanya. Raut wajah tak senang dapat dilihat saat itu. Dan salah satu wanita itu mulai berbicara dengan menunjuk ke arah Alexia.


"Ouh...rupanya kau memiliki yang baru, pantas saja kau melakukan semua ini?" Tanya nya sambil menunjuk Alexia dengan tak senang.


Tanpa izin ataupun persetujuan dari Alexia, Brian tiba-tiba saja menarik tubuh sang Dewi ke dalam pelukannya.


"Yah, jadi sebaiknya kalian menyerah ! Karena tak ada gunanya juga jika semuanya dilanjutkan." Dengan penuh kepercayaan pria muda itu tak memikirkan apa yang baru saja dibuat saat itu.


"Dasar brengsek kau ya !" Satu wanita mulai memukul Brian, yang kemudian diikuti dengan beberapa wanita lainnya.


"Hai…..apa yang kalian lakukan? ini bisa menjadi kasus penganiayaan. Jadi sebaiknya kalian hentikan !" Brian melindungi dirinya dengan kedua tangannya. Menutupi wajah dari serangan buas para wanita tersebut.


Satu jam kemudian masalah tersebut baru bisa diselesaikan. Ericsson dan Alexia berangkat bekerja, sedangkan Brian terkapar tak berdaya di rumah setelah dikeroyok para wanita muda. Sepanjang perjalanan tak seperti biasa nya, mereka berdua hanya diam tanpa ada perbincangan di antara keduanya. Sampai di Cafe, senyuman hangat diberikan Wulan saat mereka berdua datang. Wanita itu menggenggam tangan Alexia dan bertanya bagaimana kabarnya. Wulan hanya tau jika Alexia sakit beberapa hari ini. Makannya ia tak masuk kerja. Meninggalkan mereka berdua Ericsson bersiap untuk bekerja, akan tetapi ada satu hal yang mengganjal hatinya. Namun hal ini hanya bisa dijawab oleh Alexia. 


Di saat mereka berdua, itulah kesempatan Ericsson untuk menanyakannya.

__ADS_1


"Alexia, ada sesuatu yang ingin kutanyakan. Apa kau merasakan ada sesuatu dengan Wulan?" Sengaja sedikit melirihkan suara nya, agar tak ada orang yang mendengarnya.


"Wulan? Memang ada ya, yang aneh dari wanita secantik itu! Apa kau sedang bergurau?" Wanita itu tersenyum kecil mendengar ucapan dari Ericsson.


"Aku serius, aku sedang tidak bercanda. Kau tahu selama kau tidak ada, aku terus melihat hantu. Tapi ketika aku berdekatan dengan Wulan, entah mengapa semua hantu itu seolah tak berani untuk mendekat. Bukankah itu ada yang tidak beres dengan nya? Lagi pula aku juga pernah sesaat melihat cahaya yang keluar dari dirinya!." Terang Ericsson yang menceritakan pengalaman ya beberapa hari ini.


"Kau yakin, kau tidak salah lihat?" Balik bertanya dengan menatap kedua manik mata pria di depannya tersebut.


"Tentu saja tidak." Dengan tegas Ericsson membantahnya.


Dewi malam tersebut menjadi ikut penasaran, ia pun melihat dengan kedua mata ajaibnya. Dimana saat itu ia juga kaget dengan kondisi yang dialami oleh Wulan.


Mendengar Alexia, rasa penasaran dan mengganjal hati akhirnya berakhir. Kini mereka mesti bekerja kembali, melihat para pelanggan yang semakin banyak. Membuat semua nya bekerja lebih cepat. Saat hendak mengantarkan pesanan, Alexia tak sengaja hampir terpeleset, untuk ada Ericsson yang dengan respon cepat menangkap tubuhnya. Untuk sesaat kedua mata mereka bertemu, dan seketika Ericsson teringat akan kejadian semalam, ia pun segera menghindar dengan beralasan melayani pelanggan. Rupanya kejadian itu dilihat oleh Wulan, wajahnya yang tampak senang sebelum nya dengan perlahan memudar. Tampaknya ada perasaan tak nyaman saat melihat kedekatan keduanya. Meski Wulan termasuk orang baru dalam kehidupan pria tersebut, tetap saja ia merasa kurang senang.


Jam istirahat, Wulan mengajak Ericsson untuk makan malam berdua, bukannya menerima nya, ia hanya beralasan untuk terus menghindar. Di saat Alexia lewat, manik mata pria itu perlahan menatap mengikuti wanita tersebut. Sepertinya Wulan tak berhasil mengajak sosok Ericsson untuk makan malam bersama nya. Tak berapa lama, dari arah belakang seseorang datang dan meraih pundaknya.

__ADS_1


"Kenapa tak kau coba saja makan malam bersama kami? pasti akan jauh menyenangkan, kau bisa mengajak Alexia sekalian. Aku jamin kalian tak akan melupakan hari yang spesial ini." Tampak senyuman yang seolah mengejek Ericsson, tentu dengan sorot mata yang sangat menusuk. 


Ericsson yang melihatnya, merasa seolah ia sedang diremehkan oleh pria yang baru saja datang tersebut, tanpa merasa curiga dan karena sudah terpancing. Pria itu akhirnya menerima acara makan malam tersebut dengan senang hati, dan senyuman getir, tak lupa dikeluarkannya juga untuk Andrian.


Sementara Wulan yang juga berada disana merasa aneh dengan sikap keduanya. Seolah ada percikan listrik yang memancar dari keduanya. Tapi ia tak mengambil pusing mengenai hal itu, Wulan kemudian menarik Andrian untuk pergi dari sana. 


Dan sesampainya di ruangan Wulan, Wanita itu bertanya apa yang sebenarnya terjadi dengan pria yang barusan bersikap aneh itu.


"Ada apa denganmu?" Tanya Wulan sembari menatap kedua manik mata Andrian.


"Seperti yang kau dengar, aku hanya mengajak pria itu untuk makan malam bersama. Bukankah kau juga berada disana? Kenapa harus menanyakan ini kembali?" Wajah kesal tampak dari Andrian saat itu, ketika wanita yang disukainya menakan hal itu.


"Tentu aku mendengarnya, tapi yang aku tanyakan sekarang adalah ada apa denganmu? Tak seperti biasanya, sikapmu saat ini bukankah sedikit kasar? Dan itu sangat aneh untukku!" Wulan mengutarakan sejujurnya apa isi hatinya kepada sosok pria yang saat ini masih berdiri jelas di hadapannya.


"Aku sedang tak mau membahas hal ini, aku hanya datang untuk memberitahukan mu bahwa paman memintaku kemari dan memberikan ini padamu. Acara pembukaannya nanti malam, jangan sampai kau melupakannya." Mengulurkan sebuah undangan kepada Wulan yang kemudian setelahnya pergi tanpa mengatakan sesuatu lagi. Wulan yang melihat itu hanya membuang nafas panjang.

__ADS_1


"Tampak jika dia sedang marah saat ini, tapi ada apa dengan sikapnya itu? Hah…sudahlah !" Gumam Wulan setelah kepergian sosok Andre dari ruangan nya tersebut.


Di satu sisi, Alexia nampak sibuk sekali melayani para pelanggan, yang memang sejak kemarin mencari dirinya. Senyuman pun selalu diberikan wanita itu. Sebagai tugasnya melayani pelanggan. Satu persatu pesanan itu pun diantarkan dengan sangat baik. Bahkan banyak pelanggan yang tampak puas dengan pelayanan yang diberikan Alexia.


__ADS_2