
"Kita harus berbicara di tempat lain !" Ucap Bos yang kemudian disetujui oleh Ericsson. Maka mereka berdua berjalan keluar dari minimarket dengan Bos yang memimpin jalan di depan.
Namun sudah sangat jauh mereka meninggalkan minimarket, bosnya masih belum berbicara suatu apa pun. Bahkan saat ini mereka masih terus berjalan, entah kemana tujuannya. Ericsson hanya terus mengikuti sosok pria setengah baya di depannya tersebut tanpa mengeluh ataupun protes. Sampailah tiba-tiba langkah bos nya berhenti di depan sebuah rumah yang cukup sederhana dengan dikelilingi berbagai macam tanaman hias. Dan saat itu sang bos mulai berbicara kembali.
"Bisakah kau mengambil sesuatu di bawah pot bunga itu?" Ucap sang bos sambil menunjuk ke arah salah satu pot bunga yang berada di sudut teras rumah tersebut.
"Iya Bos." Tanpa membantah dan segera bergerak mendekati pot tersebut. Ericsson mengambil sesuatu di bawah pot seperti yang di diinstruksikan bosnya di awal.
Setelah diambil, rupa nya itu hanya sebuah amplop putih yang sudah menjadi coklat terkena tanah. Nampaknya amplop tersebut sudah cukup lama berada di bawah sana. Ericsson memberikan amplop tersebut kepada bos nya, namun bukannya alih-alih diterima, justru amplop tersebut ditolak oleh pria setengah baya tersebut.
Sikap bos nya itu membuat Ericsson bingung. Mengapa ia disuruh mengambilkannya jika akhirnya amplop tersebut ditolak juga.
Sang Bos kembali memberikan perintah. "Tolong berikan amplop ini kepada seorang ibu-ibu yang selalu datang di jam 9 malam, dan katakan padanya untuk jangan lagi bersedih. Karena dia selalu mengawasinya dari jauh." Saat mengatakan hal tersebut, Ericsson melihat sorot mata Bosnya yang terlihat aneh dan tak seperti biasanya. Meskipun begitu, tak cukup memberikan keberanian pada Ericsson untuk bertanya.
"Baik, bos." Balas Ericsson yang menyanggupi permintaan bos nya, tanpa adanya masalah.
"Terimakasih, kalau begitu kau kembalilah! Aku akan pergi ke suatu tempat terlebih dahulu." Sikap bos nya benar-benar aneh hari ini, tidak seperti biasanya. Dimana belum pernah sekalipun Ericsson mendengar ucapan terima kasih yang keluar dari mulut bos minimarket tersebut. Akan tetapi hari ini, seperti sebuah pengecualian, Ericsson mendengar perkataan tersebut secara langsung.
__ADS_1
Si bos pergi berlawanan arah dengan Ericsson yang akan kembali ke minimarket. Tapi bosnya sudah bilang tadi, bahwa dirinya akan pergi ke suatu tempat, jadi Ericsson tidak terlalu ambil pusing mengenai hal tersebut, toh juga gak ada hubungannya dengan dirinya.
Baru beberapa langkah berjalan, pria tampan itu pun menoleh untuk melihat bosnya. Namun hal mengejutkan terjadi. Belum ada satu menit mereka berpisah, si Boss sudah tidak terlihat lagi. Bagaimana mungkin? Sedangkan lorong atau pun tikungan butuh beberapa menit untuk sampai. Bahkan kiri kanan jalan hanyalah sebuah tembok yang cukup tinggi. Lalu hilang kemana bosnya. Apa dia ingin membuat Ericsson takut?
Dengan langkah cepat Ericsson buru-buru kembali ke minimarket.
"Huh…huh…." Nafas terengah-engah, dengan selamat Ericsson pun kembali. Sambil duduk, dirinya meminum air, untuk sedikit membasahi tenggorokan yang hampir saja kering sebab berlari.
Dilihatnya jam digital milik minimarket yang tampak jelas dari arah manapun. Dan jam itu menunjukkan sudah pukul 9 lebih 15 menit. Tapi masih belum ada tanda-tanda ibu yang ia tunggu akan datang. Tak selang berapa lama, datang seorang ibu yang berbelanja, satu bungkus kue kering dan beberapa minuman dingin. Ericsson paham sekali pelanggan yang satu ini. Setiap hari ia akan selalu membeli kue kering yang sama dengan beberapa barang lainnya.
Dengan ragu-ragu, Ericsson ingin memberikan amplop yang di temukan ya tadi, kepada ibu tersebut. Tapi ia selalu maju mundur seperti kebingungan. Selesai menghitung barang belanjaan, ibu itu pergi. Dan Ericsson belum sampai memberikan amplop tersebut. Pada detik terakhir, Ericsson keluar dan memanggil ibu tersebut.
"Ya, ada apa nak?" Tanya ibu yang berbalik setelah dipanggil.
"Em…begini buk, tadi bos saya menitipkan sesuatu kepada saya. Dan saya diminta untuk memberikannya kepada ibu. Ini sebuah amplop, yang saya tidak tahu isinya apa, yang terpenting tanggung jawab saya sudah gugur untuk memberikannya kepada ibu. Jadi mohon untuk diterima ya Bu." Jelas Ericsson kepada ibunya dengan cukup dimengerti. Sembari ia menyodorkan amplop yang tampak berwarna coklat tersebut.
Ketika amplop itu dibuka, dan dengan perlahan dibaca oleh Ibu tersebut. Baru ketahuan jika amplop itu berisi surat dari anaknya yang telah menghilang satu tahu yang lalu.
Tangisan ibu paruh baya itu pun pecah, dirinya terduduk lemas di atas tanah, sambil menyebut nama anaknya.
__ADS_1
"David…tidak…" Butiran bening membasahi pipinya terus mengalir. Nampak surat itu bagai sebuah pukulan bagi sang ibu yang ditinggal oleh anak nya.
Ericsson yang melihat kejadian itu hanya bisa berada di samping ibu itu, sambil mengucapkan perkataan untuk menguatkannya dan agar ia bisa tetap tegar.
Beberapa menit berlalu, dan kejadian tersebut telah berakhir. Sang ibu pulang dengan menggunakan taksi. Sementara Ericsson melanjutkan kembali pekerjaan nya. Di saat itu juga rupannya sang Bos juga sudah kembali datang. Ericsson memberikan senyum beserta sapaan hangat untuk bosnya tersebut.
"Bos sudah kembali?" Tanya Ericsson yang dengan senyumannya.
"Hah..apa maksud nya?" Bos yang tak paham dengan maksud kata kembali yang di katakan Ericsson barusan. Karena baru sekali itu ia datang. Jadi kenapa harus ditambahkan kembali?
"Ah, bos ini mau bercanda ya? Oh ya bos tadi saya sudah memberikan amplop itu kepada seorang ibu pelanggan yang setiap hari ke sini. Dan amplop itu terlihat sangat berharga sekali untuknya. Bos hebat deh !" Pujian kini keluar dari Ericsson yang memang sedikit menyukai sikap bosnya kali ini.
"Ngomong apa sih? dari tadi udah kayak orang ngelantur. Lagian kapan aku datang kemari. Orang baru juga aku ke sini." Penjelasan Bosnya bagaikan sebuah pukulan baginya, hingga membuat pria itu menyadari akan satu hal, jika yang tadi bukanlah bosnya melainkan makhluk lain.
"Jadi siapa donk orang yang mirip bos tadi?" Ujar Ericsson yang membuat bulu kuduk bosnya jadi ikutan merinding.
Dari luar pintu, Ericsson melihat seorang remaja laki-laki yang melambai kepada nya, dan dari gesture bibirnya, seolah ia mengucapkan sebuah kalimat.
"Terimakasih, karena sudah menolongku !" Nampaknya kurang lebih seperti itu yang remaja itu katakan.
__ADS_1
Jadi sejak pertama yang datang dan pergi itu bukanlah bos, melainkan remaja laki-laki itu yang menyamar. Mungkinkah jika remaja itu anak dari ibu paruh baya yang tadi? Jika benar sungguh menyakitkan apa hati sang ibu sekarang ini.