Terkena Panah Sang Dewi

Terkena Panah Sang Dewi
Bab 21 Babak belur


__ADS_3

Di saat bekerja di minimarket, Ericsson memikirkan kejadian tadi saat ia berbicara dengan Andrian dimana ia melihat kepulan asap hitam yang mulai pekat mengelilingi teman Wulan tersebut. Itu sebabnya, dirinya berusaha untuk cepat pergi. Ia khawatir jika di sekitar Andrian menempel sosok yang mengerikan. Sementara dirinya tak memiliki kemampuan apa pun untuk menghadapi makhluk tersebut. Dan saat ia kembali menoleh ke belakang asap itu semakin membesar dan pekat ia pun buru-buru mempercepat langkahnya.  Dan meski sudah sampai di minimarket tempat kerjanya sekarang, pria satu ini masih belum terlepas dari rasa kekhawatirannya. Karena ia mesti berwaspada kembali di saat bekerja seperti sekarang ini. Takutnya ada makhluk lain di tempatnya berada. Sejak tadi pandangan Ericsson terus mengawasi sekitar. 


"Total semuanya 105.00 ribu, mau pakai kantong plastik?" Ujar Ericsson yang sedang melayani pelanggan.


"Nggak, saya bawa Tote bag sendiri." Pelanggan wanita mulai memasukkan satu persatu barang belanjaannya. Setelah itu pelanggan membayar dan segera pergi.


Bekerja berjam-jam, akhirnya waktunya untuk pulang. Syukurlah tak ada kejadian aneh selama ia bekerja tadi. Ericsson merasa cukup lega kali ini. Ia memeriksa kembali semua pintu dan lain-lainnya, memastikan semua aman, barulah ia pulang. Saat melewati sebuah gang sempit, Ericsson tiba-tiba saja di cegat oleh beberapa orang berwajah garang dengan banyaknya otot yang dimiliki mereka sangatlah ketara dengan begitu jelas. Merasa tak tahu dengan kemauan mereka yang telah menghalangi jalannya, pria itu dengan berani nya mulai membuka mulutnya untuk bertanya.


"Apa yang kalian inginkan?" Berusaha menatap mata mereka untuk sedikit mengintimidasi.


"Kami membawakan beberapa hadiah untukmu.!" Sambil tersenyum mereka langsung mengarahkan kepalan tangan mereka kepada Ericsson. Beruntung pria itu bisa menghindar. Tapi itu tak berlaku untuk seterusnya. Karena pada pukulan yang berikutnya. Ericsson berhasil mendapatkan pukulan keras di perut dan wajahnya. Bercak darah juga terlihat. Ericsson yang sendirian merasa kewalahan. Akhirnya orang asing tersebut berhasil membuat Ericsson terkapar lemah.


"Ingatlah ! ini pelajaran untukmu, lain kali jangan pernah mengambil milik orang lain!" Setelah mengatakan hal itu, dan membuat Ericsson babak belur mereka pergi meninggalkan pria itu sendiri.


Rasa nyeri dan sakit hampir dirasakan Ericsson di sekujur tubuhnya. Ia merebahkan tubuhnya diatas tanah, terlentang, dengan pandangan yang menatap keatas langit malam.


"Bukankah, hari ini bintang tampak sangat sedikit terlihat?" Pria itu mengatakan hal aneh tersebut dengan bercak darah yang masih terlihat jelas di sudut bibirnya.


"Hah...rupanya cukup sakit juga rasanya !" Pria itu menyeringai kesakitan, sambil memegangi sisi perutnya yang terasa sangat menyakitkan.

__ADS_1


Dengan perjuangan yang amat sangat, pria itu berhasil sampai di rumah. Baru saja menyalakan lampu, ia di buat terkejut dengan ke hadiran Alexia yang sudah berdiri di depannya.


"Kejutan !" Setelah Alexia mengatakan hal itu, kedua mata Ericsson membulat, dan 1 2 3 detik kemudian tubuhnya pun tumbang. 


"Ericsson!" Panggil Alexia yang seketika panik.


Meski dalam keadaan mengenaskan, rupa nya pria itu masih dalam keadaan tersadar. 


Alexia melihat wajah pria tersebut yang sudah babak belur, namun kedua matanya masih terbuka.


"Akhirnya kau pulang, kali ini aku sangat tertolong. Selamat datang kembali !" Dengan wajah yang seperti itu, Ericsson masih memaksakan untuk memberikan senyuman.


"Apa ini ulah para hantu dan juga siluman? Kurang ajar sekali mereka, akan kuhabisi mereka sekarang juga !" Sambung Dewi malam yang mulai merasa kesal dan marah.


" Tenanglah! ini bukan ulah mereka. Daripada itu, bisakah kau membantuku saat ini. Aku terlalu lemah untuk pergi ke kamar." Ujar Ericsson yang memang sudah pada batasnya.


Jentik….


Satu jentikan jari Alexia, sudah membawa keduanya berada di dalam kamar.

__ADS_1


"Wah…kau benar-benar menakjubkan !" Kali ini pria itu menyerngit kesakitan.


"Tutuplah matamu !" Perintah Alexia yang ingin mengobati Ericsson.


"Mau ngapain, pakai acara tutup mata segala? Kau pasti ingin….." Belum sempat menyelesaikan ucapannya. Alexia berhasil memotong nya.


"Udah tutup saja, gak usah banyak bicara !" Seru Alexia yang berada di sisinya saat itu.


"Ya.. baiklah!" Patuh mengikuti, Ericsson segera menutup kedua matanya. Saat pandangannya menghitam karena mata yang tertutup. Ericsson merasakan sesuatu yang lembut menyentuh ujung keningnya. Ia merasa akrab dengan perasaan yang baru saja dirinya  rasakan saat itu. Tapi ia masih tak mengerti maksud dari perasaan tersebut.  Secara ajaib nya rasa nyeri serta rasa sakit, yang dirinya rasakan sebelumnya, mendadak menghilang. Kali ini ia hanya merasa rasa hangat menyelimuti tubuhnya.


"Kau bisa membuka mata sekarang!" Suara Alexia kembali terdengar, setelah beberapa detik tadi menghilang dalam diam.


Ketika membuka mata, sekilas Ericsson melihat cahaya bersinar di sekitar tubuh Alexia yang perlahan memudar. Dan yang lebih mengagetkannya, kondisi dirinya saat itu, segala luka sudah sembuh dengan seketika.


"Terima kasih, kau sungguh mengagumkan." Sedikit pujian keluar lagi dari mulut pria yang baru disembuhkan itu.


" Sekarang coba ceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepadamu tadi?" Alexia menuntut penjelasan yang sebenarnya dari kejadian yang di alami Ericsson.


"Aku hanya bertemu beberapa orang mabuk di jalanan tadi, dan habislah aku di situ menjadi bulanan mereka." Penjelasan singkat Ericsson.

__ADS_1


__ADS_2