
Ericsson masih belum menemukan pekerjaan paruh waktu. Ia masih berharap jika cafe tempat sebelumnya bekerja masih mau untuk menerimanya. Tapi sepertinya sangat tidak mungkin setelah masalah yang ditimbulkannya terakhir kali. Ia pun hanya mulai pasrah dan mencari lagi lowongan di koran-koran ataupun majalah.
Pria tampan itu saat ini mulai bersiap bekerja di minimarket, karena saat ini sudah tiba untuk berganti shift. Sebelum pergi Ericsson menyempatkan diri untuk memastikan terlebih dahulu bagaimana keadaan atau pun situasi dari sang Dewi. Tapi hampir seharian ini ia tidak membuat ulah. Dia hanya berdiam diri sambil tiduran di atas sofa. Tidak seperti dirinya yang biasa. Nampaknya dia hanya malas saja untuk keluar.
"Apa ada sesuatu yang kau inginkan?" Ericsson mencoba membuka pembicaraan diantara mereka.
"Apel." Tanpa melihat Ericsson, Alexia hanya berbicara dengan wajah yang terbenam di atas bantal. Itu pun hanya mengatakan satu patah kata Apel.
Sebegitu sukanya kah dia dengan apel? bahkan ia tak melihatku saat bicara. Namun terserah lah aku juga tidak begitu peduli.
Ericsson pergi meninggalkan tempat tinggalnya dan kali ini sepertinya tanpa adanya Alexia. Haruskah ia merasa lega dan bersyukur atau mungkin perasaannya mulai sedikit cemas dan terganggu. Tapi yang jelas ada perasaan tak tenang ketika ia pergi saat itu.
"Terima kasih, selamat berbelanja kembali." Dengan tersenyum ramah, Ericsson melayani pelanggan yang datang berbelanja. Kali ini minimarket cukup ramai. Banyak pelanggan yang berdatangan. Hingga membuat antrian panjang saat di kasir. Namun pemandangan tersebut tak mengherankan, karena sebagian dari mereka merupakan anak SMA yang mengagumi ketampanan dari sosok Ericsson. Lihatlah ! betapa mata mereka penuh dengan bunga bermekaran saat menatap sosok yang mereka kagumi. Setiap akhir pekan mereka selalu berkumpul di minimarket tersebut untuk sekedar melihat Ericsson.
Tak terasa waktu berputar dengan cepat, malam sudah semakin larut, kini waktunya untuk tutup. Namun disaat-saat akan menutup pintu minimarket. Datang seseorang misterius dengan memakai topi yang membuat wajahnya hampir tak terlihat. Hal tersebut mengingatkan Ericsson pada sosok kakek yang pernah ia temui kemarin. Dan tanpa disadari ia sudah mengambil langkah ke belakang sehingga membuat jarak dengan orang tersebut.
"Bisakah aku membeli sebotol air?" Ucap orang tersebut yang masih belum menunjukkan wajahnya.
"Maaf tapi kami sudah tutup." Ericsson tampak seperti tak ingin melayani orang tersebut hingga membuat alasan untuk menolaknya.
"Tapi bukankah kau masih bisa untuk mengambilkannya, lagi pula pintu utama ini masih belum dikunci." Jawab orang misterius itu yang masih ngotot untuk membeli sebotol air.
"Maaf Pak, tapi saya tidak bisa.!" Terlihat sikap hati-hati Ericsson yang masih berwaspada kepada orang tersebut.
__ADS_1
"Ayolah, hanya sebotol air kenapa kau tak bisa mengambilkannya? Aku akan membayarnya untuk 2 kali lipat." Melepaskan topinya seketika, hingga terlihat jelas wajah orang misterius itu.
Hah.. syukurlah kalau ini sih beneran orang.
"Baiklah, akan saya ambilkan. Bapak tunggu disini sebentar." Ericsson kembali masuk untuk mengambilkan sebotol air. Dan setelahnya orang tersebut pergi sesudah mendapatkan apa yang diinginkannya.
Ericsson sekarang dalam perjalanan untuk pulang, dengan membawa satu kantong kresek yang berisi buah apel seperti apa yang diinginkan Alexia. Namun sesampainya di rumah, terlihat Alexia masih belum beranjak dari sofa.
"Alexia, apa kau masih akan merajuk seperti ini?" Pria tampan tersebut sudah hampir tak tahan melihat perempuan tersebut hanya berdiam diri seharian di atas sofa.
"Coba lihatlah! Apa yang sudah aku bawa? sekantong apel seperti yang kamu inginkan." Bujuk Ericsson agar perempuan tersebut melihatnya dan mau beranjak dari posisinya sekarang.
Namun ada sesuatu yang aneh, sejak tadi Ericsson bicara nampak tak ada respon sama sekali dari Alexia. Gak biasanya dia seperti ini. Seperti ada sesuatu yang salah dengan dirinya.
Berhasil! Alexia perlahan mulai bergerak. Tapi terlihat sangat jelas sekali jika tubuhnya begitu lemas, bagai tubuh yang tak memiliki tenaga.
"Kamu sakit?" Tanya Ericsson sembari menempelkan punggung tangannya pada kening perempuan tersebut.
"Nggak panas ! tapi ini justru terasa dingin? Aneh sekali."
Apa seorang Dewi juga bisa jatuh sakit? tapi tubuhnya tidak terasa panas, melainkan sebaliknya.
"Apa saat ini kamu merasa khawatir? Lihatlah wajahmu ! itu terlihat lucu sekali." Dengan suara rendah dan tak bertenaga, masih bisa-bisanya Alexia bercanda seperti itu.
__ADS_1
"Dengan kondisi seperti ini masih bisanya kamu bercanda?" Ujar Ericsson yang sedikit kesal dengan ketidak seriusan Alexia.
"Ini hanya sebuah racun dari siluman kucing yang menyebalkan kemarin. Pastinya tak akan berlangsung lama. Aku akan segera pulih." Jelas Alexia dengan suara rendahnya yang terkadang menghilang.
"Meski begitu, juga tak bisa dibiarkan bukan?" Terlihat sekali jika Ericsson mulai sedikit khawatir. Ia tak tahu apa yang harus dilakukannya, karena Alexia bukanlah manusia, tentu cara penanganannya juga akan sangat berbeda.
Apa aku harus membawanya kerumah sakit? Tapi mana bisa, Alexia kan tidak terlihat oleh mereka. Apa mungkin masih bisa jika membawanya ke paranormal atau dukun? Bukankah mereka ahlinya dalam bidang tak kasat mata? Mungkin saja mereka bisa melihatnya.
"Apakah ada sesuatu yang setidaknya bisa membantu meringankan kondisimu saat ini?" Ericsson pun mencoba menanyakannya terlebih dahulu.
"Ya ada, tapi bisakah kau membawakan energi bulan purnama?" Alexia yang mulai berbicara ngelantur dan terlalu tak masuk akal.
"Permintaan macam apa itu? kau tahu bukan aku seorang manusia dan bagaimana bisa aku melakukan hal yang tak masuk akal seperti itu?" Menatap Alexia yang berada di hadapannya yang terbujur lemas.
Mana bisa manusia seperti Ericsson melakukan hal semacam itu. Lagi pula bulan purnama masih seminggu lagi, jadi itu sangatlah tidak masuk akal. Dan tentunya tidak bisa dilakukan. Dengan masih berada di samping Alexia dirinya menatap perempuan tersebut dengan wajah masam. Terdengar lagi suara dari Alexia.
"Kalau begitu, bisakah kau menciumku?" Kembali lagi mengubah permintaannya dan kali ini semakin membuat Ericsson sedikit menggelengkan kepala.
"Apa kau mulai bercanda lagi?" Respon yang diberikan tak seperti yang diharapkan, tapi memang Alexia hanya mencoba menggoda pria lugu tersebut.
"Jika masih tak bisa, bolehkah aku memegang tanganmu sampai aku merasa lebih baik?" Kali ini wajah Alexia tampak sedikit lebih tulus. Dan dengan melihat kondisinya saat ini, sekaligus permintaannya masih dalam batas normal, Ericsson pun menyetujui permintaan yang sudah tiga kali diubahnya tersebut.
Perlahan mata Alexia terpejam, sepertinya ia cukup nyaman dengan tangan Ericsson yang dipegangnya. Dan itu tampaknya terlihat dari raut wajah Alexia saat itu. Selama di dekat Alexia, Ericsson terus memperhatikannya. Ia baru menyadari jika wajah perempuan di sampingnya tersebut terlihat begitu kecil dan sangat menggemaskan. Tanpa sadar tangannya mulai terulur dan mencoba menyentuh wajah Alexia. Akan tetapi hal tersebut segera disadarinya, dan ia pun mengurungkannya.
__ADS_1