
suasana di istana kembali dingin, Alaric memberanikan diri untuk menjawab sang raja, ia mengatakan bahwa dirinya tidak bisa meninggalkan istana, Raja menanyakan alasan alaric, tentu jawabannya adalah dia ingin selalu dekat dengan Alaya, sontak jawabannya membuat Ratu camilla sangat terkejut, sang ratu beranggapan bahwa alaric peduli kepada alaya lebih dari seorang saudara.
" Maafkan Aku Ayah namun aku tidak bisa pergi ke asrama panglima,"
" Apa alasanmu menolak perintahku??"
" Maafkan Aku Ayah tapi aku hanya ingin dekat dengan alaya dan selalu melindunginya,"
alaya menatap alaric dengan heran, ia mengatakan kepada alaric bahwa dia akan baik-baik saja, alaya mengatakan bahwa alaric harus mematuhi perintah sang raja, dia tidak mau jika ayahnya akan menghukum Alaric karena tidak mematuhinya,
" kenapa kau harus mencemaskanku, aku akan baik-baik saja "
" kau harus pergi alaric, Bukankah perintah seorang raja itu mutlak,"
Mendengar hal itu sang raja tersenyum kepada Alaya, seolah ia tahu cara membujuk alaric untuk pergi ke asrama panglima, Ratu camilla memandang Alaya dengan tatapan tidak suka ia menyindir Alaya dan mengatakan, alaya hanya seorang putri yang tidak tahu apa-apa tentang peraturan kerajaan.
" Sejak kapan kau tahu banyak soal kerajaan,?"
" kau anak yang baru lahir kemarin jadi tidak perlu bersikap naif, "
" lagi pula siapa yang akan mematuhi perkataan mu itu,"
alaya hanya bisa tertunduk saat sang ratu menyinggungnya, raja yang melihat hal itu mengatakan bahwa apa yang dikatakan alaya itu adalah sebuah kebenaran, Iya kembali mengatakan kepada alaric bahwa perintah sang raja itu tidak bisa diubah,
" apa yang dikatakan alaya itu memang benar, keputusan sang raja itu mutlak,"
" kau tidak bisa menolak perintahku, ini semua kulakukan demi kebaikan mu,"
Ratu camilla nampaknya tidak menyukai anaknya itu yang akan dikirim ke asrama panglima,
__ADS_1
" Kenapa dia harus pergi untuk belajar di sana,??"
" ilmu yang dimilikinya sudah lebih dari cukup "
sang raja menjelaskan kepada Ratu yang nampaknya belum mengerti sama sekali, ia mengatakan Alaric harus banyak berlatih untuk menjadi Panglima Besar yang sangat kuat dan tangguh, Ia menjelaskan bahwa semua hal yang manis akan diawali dari hal pahit, begitupun dengan perjuangan alaric sekarang, Iya berusaha untuk berjuang dan mendapatkan gelar Panglima terbaik, bertujuan untuk memperbanyak ilmu yang ia dapatkan dan kemahirannya dalam berlatih pedang semakin lihai.
"dia akan belajar disana, melatih kelihaiyan nya dalam menggunakan pedang "
"dan melatihnya untuk selalu menjadi seorang pelajar sejati, agar mendapatkan gelar panglima"
"bukan hanya persahabatan yang akan kau dapatkan alaric, namun kebersamaan, dan cinta akan kau dapatkan,"
alaric tidak menjawap apapun, ia kembali diam ia tak kuasa jika harus membantah perintah sang raja, alaric pun meminta izin untuk pergi dari hadapan sang raja,
"izinkan hamba meninggalkan tempat ini yang mulia, akan ku fikirkan semuanya, dan jika sudah mantap akan ku beri tahu"
"baiklah aku tidak akan memaksamu, kau bisa memikirkannya dulu sebelum pergi"
"ayah tolonglah, alaric tidak akan mampu belajar disana, dia tidak akan terbiasa di lingkungan baru,"
"anakku dia sudah cukup mampu untuk semua hal itu,
"biarkan dia pergi ke asrama panglima, saat sudah mendapatkan gelar dia juga akan kembali,"
alaya hanya terdiam, ia tidak tahu harus berbuat apa, entah mengapa perasaannya sangat sulit melepaskan alaric pergi, belajar di asrama panglima dan sampai mendapatkan gelar itu bukanlah waktu yang sebentar, ia tahu jika sang raja sebenarnya hanya ingin menjauhkannya dari alaric, yang mana agar dia tidak dapat terus bertemu dengannya.
alaya pun berlalu dari hadapan sang raja, ia berjalan perlahan meninggalkan istana, sang raja tahu jika putrinya tidak merelakan kepergian alaric, namun raja juga tidak dapat membatalkan niatnya itu, hanya untuk menumbuhkan cinta terlarang diantara mereka, ratu camilla yang tidak lain adalah ibu kandung alaric merasa puas dengan keputusan sang raja, ia tersenyum manis dan berkata dalam hatinya, jika sudah sepantasnya anak kesayangannya itu dijauhkan dari alaya.
"kenapa dia tidak mengambil keputusan ini secepatnya, alangkah bagusnya jika alaric bisa menjauh dari alaya"
__ADS_1
"ini adalah kabar yang gembira dan sangat langka terjadi, maka dari itu akan ku rayakan kabar ini dengan bahagya"
sang ratu juga izin pergi dari hadapan sang raja, raja pun mengizinkannya ia berlalu dari hadapan sang raja, hanya tinggal raja dan ratu chyara yang masih di sana, mereka sibuk berfikir dengan fikirannya masing masing.
di sisi lain alaric tengah duduk di sebuah taman istana yang indah, ia belum bisa menerima keputusan sang raja yang sangat sakit baginya entah bagaymana hidupnya jika harus jauh dari alaya, ia tidak akan lagi menerima canda tawa yang selalu ia dapatkan dari alaya seperti biasanya, alaya yang melihat alaric tengah termenung di taman istana lalu iq menghampirinya, ia tersenyum dengan alaric, alaric yang menyadari kehadiran alaya pun membalas senyumnya.
"apa kau tidak suka jika ayah mengirim mu ke asrama panglima??"
"bukan tidak suka, tapi aku tidak mau pergi kesana"(jawap alaric dengan wajah datarnya)
"kenapa???"
"aku tidak terbiasa untuk itu, entahlah bagaymana caraku menolak perintah ayah "
"kau harus pergi alaric, pergilah demi aku dan dapatkan gelar panglima"
"aku yakin ibumu pasti bangga dengan mu jika kau benar benar mendapatkannya "
alaric menatap alaya, gadis itu tersenyum padanya lalu alaric membalas senyumnya seolah dia sedang di berikan nasihat oleh ibunya, ia menatap langit di siang hari itu, ia melihat bahwa ia memang harus mematuhi perintah sang ayah demi alaya, alaric kembali memandang alaya yang tengah sibuk memperhatikan bunga di taman istana membuat alaric tersenyum padanya, lalu mengambilkan satu bunga mawar untuk di berikan pada alaya
" kenapa kau petik??"
"ini untukmu, apa kau menyukainya??"
"ia aku sangat menyukai mawar, bunga ini sangat indah dan harum"
"sejak kapan sang pemain pedang menyukai bunga chh,"
"namun aku suka itu, memang sudah sepantasnya seorang wanita menyukai bunga bukan menyukai pedang,"
__ADS_1
alaya menatap alaric dengan kesal, namun yang dikatakan alaric memang benar, akhir akhir ini sepertinya jiwa putri alaya tumbuh di diri keyna dengan sangat baik, ia sangat mahir bermain pedang yang sebelumya iya tidak bisa melakukanya, alaya menggengam tangan alaric dengan lembut yang membuat alaric tersadar dari lamunanya, ia membalasnya dengan meremas tangan alaya, ia melihat alaya menitikkan air matanya, alaric sesegera mungkin menghapusnya yang membuat alaya tersenyum kepadanya, alaric tau apa yang alaya rasakan ia juga merasakan hal yang sama, ia memeluk alaya dengan lembut dan membelay rambut panjangnya,
membuat alaya terlarut dalam kesedihanya alaric mencoba menenangkan alaya yang sepertinya tengah menangis, ia mencoba meyakinkan alaya bahwa, dia akan baik baik saja jika harus pergi keasrama panglima, alaric memejamkan matanya merasakan kehangatan pelukan yang di berikan alaya padanya, ia juga tidak bisa menahan rasanya pada alaya yang tumbuh semakin kuat di hatinya.