
setelah melalui pemeriksaan, polisi akhirnya menghubungi keluarga korban kecelakaan itu.
dan Bayu menghubungi kedua orangtuanya dan memberi tau tentang Dwi dan merekapun langsung berangkat ke rumah sakit yang dikatakan oleh polisi tersebut.
"Dwi..." teriak mama ana mamanya Bayu sambil menangis ingin masuk keruangan UGD itu, namun bayu dengan cepat menghalangi mamanya.
"ma, mama jangan teriak-teriak gitu ma, kita berdo'a aja ma untuk keselamatan Dwi, dan biar dokter yang menanganinya."
ucap Bayu sambil memeluk mamanya.
"udah ma, mending kita duduk dulu ya."
ucap pak Hardinata papa Bayu menenangkan istrinya itu.
bayu pun juga tidak merasa tenang dan hanya mondar-mandir memikirkan keadaan adik dan adik iparnya itu. dan tiba-tiba terdengar suara dari arah berlawanan yang memanggil Bayu dan menyuruhnya untuk ikut keruangannya.
"apa...? itu tidak mungkin dok."
wajah Bayu berubah menjadi sedih.
"maaf tuan, kami tidak bisa menolongnya karena dia terlalu banyak kehabisan darah."
dengan wajah sedih Bayu keluar dari ruangan dokter tersebut.
belum sempat Bayu memberitahu papa dan mamanya tentang keadaan Aldi,
dan tak lama kemudian, dokter yang menangani Dwi pun keluar.
"maaf, apakah kalian keluarga pasien."
"iya pak, saya kakaknya." ucap Bayu kepada dokter tersebut.
"Dokter, bagaimana keadaan anak saya dok." mama Ana menarik lengan baju dokter tersebut sambil menangis.
dokter itu hanya terdiam.
"udah ma, jangan seperti itu kasian Dwi kalo dia liat mama seperti ini. kita doakan saja dwi dan anaknya supaya selamat ma."
kata pak Hardinata menenangkan mama Ana.
lalu mendekap istrinya itu kedalam pelukannya, tapi mama Ana tetap tak berhenti menangisi keadaan putrinya dan cucunya yang belum lahir itu.
dokter menarik Bayu agak menjauh dari orangtuanya.
"tuan, malam ini juga adik anda harus segera dioperasi , hanya itu caranya agar anak yang ada dalam kandungannya selamat."
"baik dok, dokter lakukan yang terbaik buat adik saya." kata Bayu dengan tegas.
"baik tuan." jawab dokter dan pergi meninggalkan Bayu.
"Bayu, apa yang dikatakan dokter tadi?"
tanya mama Bayu.
Bayu terdiam sejenak.
__ADS_1
"Bay...Bayu..." teriak mamanya dan langsung Bayu terkejut.
"hah... iya ma"
"Dwi akan melahirkan secara secar hari ini ma, pa , dan dia akan segera di operasi.
"terus keadaan Dwi bagaimana, apa dia baik-baik saja?
lagi - lagi Bayu terdiam dan menunduk.
terus ...bagaimana keadaan Aldi ? tanya pak Hardinata kepada Bayu.
Bayu menatap wajah papa dan mamanya sendu, dan mendekati mereka berdua.
"pa, ma, Aldi tidak tertolong lagi ma,"
ucap Bayu melemah.
mereka langsung terkejut.
"apa, " jawab mama dan papa Bayu serentak.
"innalillahi waiinalillahi roji'un."
jawab papa Bayu.
"papa, menantu kita pa...hiiik... hiiik ".
mama Bayu menangis mendengar kabar kalau menantunya itu sudah meninggal.
Tania langsung pergi menuju rumah sakit Xx untuk melihat keadaan ibunya menggunakan ojek online.
kebetulan rumah sakit tersebut sama dengan rumah sakit tempat Dwi dirawat karena mereka yang menabrak bu Wati, ibunya Tania tadi.
dengan tergesa-gesa Tania mendatangi tempat recepsionis untuk mencari tau dimana ruangan ibunya dirawat.
setelah tau ia pun segera berlari mendatangi tempat itu.
dan karena tergesa-gesa dan panik dia menabrak seorang laki-laki didepannya dan Kepala tania menubruk punggung laki-laki itu
"maaf." ucap Tania.
namun tania tidak memperhatikan orang yang ditabraknya itu dan terus berlari mencari ruangan tempat ibunya dirawat.
Bayu menoleh kearah wanita yang menubruk punggungnya itu, dan sekilas dia hanya melihat wanita itu yang terus berlari dan tak menghiraukannya.
suster yang merawat Dwi pun datang mendekati Bayu dan orangtuanya yang sedari tadi menunggu didepan ruangan tempat Dwi dirawat.
"maaf tuan, apakah tuan keluarga pasien?" tanya suster.
"iya, sust." jawab mereka serempak.
"pasien sudah sadar dan ingin bertemu dengan kalian, silahkan masuk."
kata suster tersebut mempersilahkan mereka untuk masuk.
__ADS_1
dengan menggunakan pakaian dari pihak rumah sakit, mereka bertiga diizinkan masuk karena sebelum di operasi dwi meminta izin kepada dokter untuk bertemu keluarganya.
dan mereka bertiga pun masuk kedalam.
"Dwi..." mamanya langsung memeluk Dwi sambil menangis melihat keadaan putrinya itu, dan Dwi pun ikut menangis.
"ma, gimana keadaan mas Aldi ma."
tanya Dwi dengan wajahnya yang lemah sambil menangis.
mamanya hanya terdiam , dan memeluk kembali anaknya itu.
" ma... jawab Dwi ma, mas Aldi gimana ma... "
teriak Dwi sambil memegang kedua bahu mamanya.
mamanya menoleh kearah Bayu dan pak Hardinata suaminya, dia tidak sanggup memberitahu anaknya itu tentang keadaan menantunya.
dan pak Hardinata langsung mendekati anaknya dan duduk dikursi disamping ranjang tersebut . dan dia pun menggenggam kedua tangan anaknya itu untuk menguatkannya.
"Dwi, kau yakin mau tau keadaan Aldi."
"iya pa." jawab dwi dengan wajah sendu.
"Aldi tidak tertolong, dia sudah meninggal nak." jawab pak Hardinata.
"apa..."
bagaikan suara petir disiang hari,
dada Dwi langsung sesak bagaikan dihimpit sebuah batu besar yang membuatnya susah bernafas.
"tidak mungkin pa, tidak mungkin."
teriak Dwi histeris.
"kamu harus sanggup menerima kenyataan ini nak." kata papanya menguatkan hati Dwi sambil terus menggenggam kedua tangan anaknya itu.
Dwi terus menangis sambil mengingat wajah Aldi.
"mas... kenapa kau meninggalkan aku dan anak kita yang belum lahir ini mas..."
"bukankah kita sudah berjanji untuk sehidup semati."
ratap Dwi sambil mengenang masa-masa indah mereka sewaktu bersama.
Bayu pun datang menghampiri Dwi dan memeluknya.
dan tiba-tiba dia pun pingsan dan tak sadarkan diri.
Bayu , mama dan papanya pun panik langsung memanggil dokter.
tak berapa lama pun para suster membawa Dwi keluar dari ruang UGD langsung menuju ruang operasi, Dwi saat ini masih dalam keadaan tidak sadarkan diri.
" maafkan kak Bayu, Dwi. kakak tidak bisa melakukan apa-apa untuk menolongmu. "
__ADS_1
kata Bayu didalam hatinya, dan tak sadarpun dia menitiskan air mata melihat keadaan adiknya.