Ternyata Dia Bukan Duda

Ternyata Dia Bukan Duda
Episode 39. bertamu


__ADS_3

hendi sudah berdiri disamping mobil menunggu tania keluar dari gedung perkampusan.


hendi ditugaskan oleh bayu untuk menjemput dan mengajak tania ke suatu tempat, sebab bayu sedang ada urusan dengan pekerjaannya.


dari jauh hendi sudah melihat tania yang berjalan bersama dengan yuna sahabat tania.


dengan segera hendi pun datang menghampiri tania.


" mari nona, ikutlah dengan saya!" kata hendi dengan sopan.


" kemana pak?" tanya tania penasaran.


" silahkan masuk nona. " kata bayu yang membukakan pintu buat tania.


" sudah tania, kamu nurut aja. " kata yuna.


" tali yun, kamu gimana? " tanya tania.


" kamu tenang aja, aku kan bawa mobil." jawab yuna.


" beneran nih." tania tak enak hati karena tadi sudah janji mau pulang bareng.


" iya, ya udah sana. " kata yuna.


" baiklah, aku duluan ya... " tania melambaikan tangannya kepada yuna.


tania pun melangkah masuk dan duduk didalam mobil mewah kepunyaan bayu itu.


hendi dengan segera melajukan mobilnya dan membawa tania ke sebuah butik, disana hendi menyuruh tania untuk memilih sendiri pakaian yang ia sukai.


tania tidak lagi bertanya kepada hendi, bertanya apa maksud dari hendi yang membawanya kesini.


"pasti ini semua pak bayu yang nyuruh, karena nanti malam aku mau diajaknya bertamu ke rumah orangtuanya.


gumam tania dalam hati.


dia sudah tau pasti itu perintah dari bosnya, bayu, seperti waktu itu.


tania memilih satu buah dress di bawah lutut yang berlengan hingga ke sikut tangan, dia sengaja memilih dress yang menurutnya sopan dan tidak terlalu terbuka. tania tak suka berpenampilan terlalu seksi kalau harus berhadapan dengan orangtua.


tania membawa dress itu ke ruang ganti untuk mencobanya.


setelah dia merasa dress itu cocok, dia pun kembali melipatnya dan memberikannya kepada hendi.


" ini saja, yang lain?" kata hendi yang heran karena tania hanya memilih satu baju.


"sudah pak, itu saja. lagian aku tak membutuhkan yang lain. " jelas tania.


" wanita ini memang baik dan tidak matre, buktinya dia tak memanfaatkan kebaikan si bos dan kekayaannya. ternyata pilihan bos memang sangat tepat. "


hendi berkata-kata didalam hatinya.


" ya sudah nona, sekarang aku akan mengantarmu pulang. " kata hendi.


bayu pun segera mengantar tania pulang ke rumahnya.


hari sudah mulai gelap, dan sudah memasuki waktu magrib. tania segera membersihkan badannya dan langsung memakai mukenanya untuk melakukan sholat magrib.


setelah selesai menunaikan sholat, tania memakai pakaian yang di pilihnya di butik tadi. dan dia juga memoles wajahnya dengan sedikit makeup.


"ya Allah... kenapa hatiku jadi deg-degan begini ya? , padahal pak bayu kan hanya mengajakku makan malam bersama keluarganya, tapi kenapa jantungku ini berdebar-debar tak menentu begini.


gumam tania dalam hatinya.


tania terus memandangi dirinya di cermin kecil yang ada di dalam kamarnya.

__ADS_1


mobil bayu memasuki halaman rumah tania.


dia segera mengetuk pintu rumah tania, dan bu wati segera membukakan pintu.


" eh, ada nak bayu.


" iya bu, tania ada? " tanya bayu sopan.


" ada dikamarnya, silahkan masuk... "


kata bu wati dan mempersilahkan bayu untuk duduk.


bayu masuk kedalam rumah dan duduk di kursi kecil yang ada diruang tamu rumah tania.


rumah yang tak terlalu besar tapi terlihat rapi dan bersih.


" oh ya, nak bayu mau minum apa? "


" oh, tidak usah repot-repot bu, " tolak bayu.


" baiklah kalau begitu, ibu akan panggilkan tania dulu. "


" iya bu... "


bu wati pun berjalan tertatih-tatih dengan menggunakan tongkat, karena sampai sekarang kaki bu wati belum sembuh total pasca kecelakaan itu.


tok...tok... tok


" tania, ada nak bayu diluar. "


suara bu wati segera


memudarkan lamunan tania.


tania pun segera keluar dari kamarnya.


bu wati yang melihat anaknya itu merasa terkagum-kagum.


" kamu cantik sekali nak, baju mu juga. "


kata bu wati.


" iya bu, ini pak bayu yang belikan. "


jawab tania.


" ooohh... pak bayu baik sekali sama kamu tania?" tanya bu wati.


" aku pun tak tau buk, tapi dia memang baik sekali. " jawab tania.


" apa kamu suka sama dia? " tanya bu wati.


" entahlah buk, tapi pastinya aku itu sangat nyaman kalau berada didekatnya. "


kata tania.


" tania, sekarang kamu itu sudah dewasa. ibu yakin kamu bisa memilih mana yang terbaik buat hidup kamu." kata bu wati.


" iya bu,"


" ya sudah kalau begitu, sana temui dia !"


tania berjalan menghampiri bayu yang sedari tadi menunggu tania.


" maaf, lama menunggu. " kata tania.

__ADS_1


" tidak apa-apa," ucap bayu.


bayu segera berdiri dari duduknya, dia pun berpamitan dengan bu wati.


" buk, saya izin membawa tania pergi. "


kata bayu dengan sopan.


" iya nak. hati-hati di jalan ya?" balas bu wati.


" iya buk, terimakasih," ucap bayu.


" buk, tania pergi dulu ya," pamit tania kepada ibunya.


tania dan bayu keluar dari rumah menuju mobil bayu yang terparkir dihalaman rumah tania.


bayu membukakan pintu untuk tania, tania pun segera masuk kedalam.


setelah menutup pintu mobilnya, bayu segera melajukan mobilnya kejalan menuju rumahnya.


didalam perjalanan suasana hening, tidak ada yang berbicara diantara mereka. bayu yang fokus menyetir, sementara tania menata detak jantungnya yang berdetak tak menentu sedari tadi.


" kenapa pak bayu harus mengajakku ke rumahnya sih, seharusnya aku menolaknya tadi. gimana kalau orangtuanya tak suka denganku, "


gumam tania di dalam hati.


tak berapa lama mobil yang dikendarai oleh bayu memasuki halaman rumah yang sangat luas itu, ini adalah kali kedua tania datang kesini.


namun untuk kali ini rasanya sangat berbeda bagi tania di banding beberapa waktu yang lalu.


bayu segera menghentikan mobilnya tepat didepan halaman rumahnya. dia keluar terlebih dahulu membukakan pintu untuk tania.


" keluarlah, " kata bayu lembut.


" baik pak, "


tania segera keluar dari mobil, dia melangkahkan kakinya dengan perasaan gugup.


" kamu kenapa tania, kok sepertinya gugup begitu?" tanya bayu karena melihat tania yang gelisah.


" tidak apa-apa kok pak, aku hanya malu aja," ucap tania.


" kamu jangan takut dan jangan malu, anggap saja rumahmu sendiri. " kata bayu.


" gimana bisa aku menganggap rumahku sendiri, sementara aku bukan siapa-siapamu pak. "


batin tania.


bayu dan tania melangkah masuk kedalam rumah bayu.


baru beberapa langkah, tania sudah dikejutkan dengan keluarga bayu yang tengah berkumpul di ruang keluarga.


disana sudah ada papa dan mama bayu, dan juga adam yang ada digendongan mama bayu.


" selamat malam pa, ma... " sapa bayu.


" malam bayu, " sahut pak hardinata lembut.


" waaah... adam, liat tuh siapa yang dibawa sama papamu. " kata bu ana menghampiri bayu dan tania.


" assalamualaikum bu..."


salam tania dan segera dia mengambil tangan bu ana dan mencium punggung tangannya.


" waalaikumsalaam... " jawab bu ana lembut.

__ADS_1


__ADS_2