Ternyata Dia Bukan Duda

Ternyata Dia Bukan Duda
Episode 41. makan malam part 2


__ADS_3

bu ana melontarkan beberapa pertanyaan tentang keluarga tania, dan tania menjawabnya dengan jujur.


tania pun mulai merasa nyaman dengan bu ana, tania yang awalnya tadi mengira kalau mama bayu tidak suka dengannya ternyata itu salah, mama bayu terlihat berbicara dengan lembut dan sopan kepada tania.


" aku fikir orangtua pak bayu itu orangnya sombong, ternyata aku salah. mereka sangat baik dan juga ramah. "


batin tania.


" ma, sudah waktunya tania pulang, "


kata bayu sambil melihat jam di tangannya.


" kok cepat sekali sih bayu, lagian tania juga masih betah disini, iya kan tania. " kata bu ana yang merasa sedikit kesal karena bayu mengajak tania pulang.


" iya tante " jawab tania lembut.


" tapi ma... "


bayu sengaja ingin mengajak tania pulang cepat karena dia tak mau mamanya menanyakan hal yang aneh-aneh kepada tania.


" bayu, mama masih ingin ngobrol sama tania, lagian tania nya aja belum mau pulang."


kata bu ana.


tania hanya tersenyum, melihat kearah bayu dan mamanya.


" ya sudahlah," bayu pun pasrah dan mengikuti apa mau mamanya.


hoeekk... hoeeek...


terdengar suara tangisan bayi, ternyata itu adalah suara adam.


" tania, ayo ikut tante ke atas, " ajak bu ana.


" baik tante, "


bu ana dan tania naik keatas melihat adam yang sedang menangis.


" adam kenapa? " tanya bu ana kepada baby sitternya adam.


" ini nyonya, dari tadi dia nangis terus. padahal saya sudah kasih susu. " jawab tina.


karena tak tega melihat bayi itu terus menangis, tania pun berinisiatif untuk mencoba menenangkannya.


" boleh saya menggendongnya? " tanya tania.


" silahkan tania, " ucap bu ana.


tania mengangkat tangannya kearah tina ingin mengambil adam yang sedang menangis.


" tidak usah, biar saya saja." tina menolak memberikan adam kepada tania.


" tina, apa-apaan kamu, tania ingin mencoba menenangkan adam, berikan adam sama dia." tegas bu ana.


" tapi nyonya, adam tak terbiasa dengan dia, saya takut adam akan menangis lebih parah lagi. " kata tina dan memandang sinis kearah tania.

__ADS_1


" kenapa dia sepertinya sangat membenciku, "


batin tania.


" sudah tina, kamu berikan saja adam kepadanya? " tegas bu ana lagi.


" baiklah nyonya, " tina pun menyerahkan adam kepada tania.


tania mengambil adam dari tangan tina yang masih terus menangis .


" tante, sepertinya dia merasa sumpek berada di kamar terus, bolehkah saya membawanya keluar? " kata tania.


" silahkan tania, " kata bu ana mengizinkan.


tania membawa adam keluar dari kamar, dia membawa adam ke turun bawah.


tania menggendong adam dengan mendekap tubuh adam di dadanya, menyanyikan adam dengan nyanyian sholawat.


" kasian sekali kamu sayang, pasti kamu sangat merindukan ibumu. "


batin tania.


tania terus menyanyikannya, memeluk sambil mengusap kepalanya lembut. sehingga adam pun terlelap.


bu ana terus memperhatikan tania, dia sangat bahagia melihat tania yang begitu lembut memperlakukan adam.


" gadis ini sangat sederhana, dia sangat cocok menjadi istri bayu. aku yakin, dia pasti bisa menerima adam."


ucap bu ana dalam hati.


" gimana adam? " tanya bu ana lembut.


" sepertinya dia sudah tidur tante, " jawab tania.


" kamu pintar sekali ya nenangin adam, padahal tadi dia menangis sejadi-jadinya. sepertinya adam suka sama kamu. "


" ah, tante bisa saja. oh ya, mungkin adamnya lagi masuk angin tante, makanya dia menangis karena merasa tak nyaman. " ucap tania.


" apa, masuk angin. " bu ana terperanjak.


" iya tante, itu kan biasa terjadi pada bayi." jawab tania.


" ya sudah tania, karena adam sudah tidur lebih baik kita bawa dia ke kamarnya supaya dia tidur." kata bu ana.


" baiklah tante. "


sampai di dalam kamar adam, tania meletakkan adam di box bayi miliknya.


" maaf mbak, apa ada minyak angin? "


tina memberikan minyak angin kepada tania.


dengan segera tania membalurkan minyak itu di sekitaran perut dan kaki adam.


" ya sudah tante, adamnya jangan diganggu dulu. biarkan saja dia tidur. lebih baik saya permisi, sepertinya ini juga sudah malam, sudah waktunya saya pulang. " pamit tania.

__ADS_1


" ya sudah kalau begitu, terimakasih ya tania."


" tidak perlu berterimakasih tante . " ucap tania.


" lain kali datanglah kesini, " kata bu ana lembut.


" insyaAllah tante... "


" ya sudah tania, kamu turun aja duluan. nanti tante nyusul. "


tania keluar dari kamar adam dan menuruni tangga menghampiri bayu yang masih duduk di sofa.


" tina... " kata bu ana.


" iya nyonya, ada apa? " jawab tina.


" kenapa adam bisa masuk angin, apa kamu tak menjaganya dengan benar."


" maaf nyonya... "


" lain kali jaga adam dengan benar, mengerti !"


" iya nyonya, " tina menundukkan kepalanya.


bu ana pun pergi turun ke bawah melihat tania yang ingin pulang.


" ma, bayu anter tania dulu ya. " kata bayu.


" iya, hati-hati di jalan ya. " ucap bu ana.


" assalamualaikum... om, tante saya pulang dulu. " pamit tania.


" iya tania, kamu hati-hati ya. " ucap bu ana.


tania dan bayu pun keluar dari dalam rumah menuju mobil.


bu ana dan pak hardinata memandang terus bayu dan tania sampai mereka keluar dari pintu rumahnya.


bu ana segera duduk disamping suaminya.


" pa, mama bahagia sekali hari ini, bayu sudah bisa membuktikan kalau dia itu lelaki normal. awalnya mama pikir dia tak tertarik sama sekali kepada wanita. " kata bu ana.


" ya ampun ma, sampai segitunya pemikiran mama terhadap bayu. "


" habisnya pa, dari sejak masih sekolah. bayu tak pernah sama sekali berteman dengan yang namanya perempuan. "


" bayu seperti itu karena dia malas aja mungkin berurusan dengan yang namanya perempuan. sebab perempuan itu banyak maunya, dan susah dimengerti. contohnya mama. " kata pak hardinata sambil tertawa.


" huh, papa apaan sih. "


kata bu ana sambil memukul bahu suaminya.


" pa, mama setuju sekali kalau bayu mau memperistri tania. " ucap bu ana penuh harap.


" kalau papa sih terserah bayu saja. apapun pilihan bayu, papa pasti akan setuju selagi itu hal-hal yang positif. " ucap pak hardinata.

__ADS_1


" iya sih pa," ucap bu ana.


__ADS_2