Ternyata Dia Bukan Duda

Ternyata Dia Bukan Duda
episode 32. tak punya keberanian


__ADS_3

pagi-pagi sekali tania berangkat ke kantor. dia ingin menyelesaikan pekerjaannya, terutama membersihkan ruangan presdir.


setelah selesai mengerjakan semua tugasnya, tania duduk di pantri untuk beristirahat.


disisi lain.


ada bayu yang baru datang ke kantornya dan berjalan menuju menuju lift. didepan lift dia berhenti dan menekan tombol untuk membuka pintu lift tersebut.


tak berapa lama pintu lift pun terbuka, bayu melangkah masuk kedalam lift, dia menekan tombol angka yang tertera di papan tombol lift untuk membawanya menuju ruang kerjanya.


namun tiba-tiba hendi datang dengan berlari cepat kearah lift ketika pintu lift hampir tertutup, untung saja hendi bisa menahannya dan dia pun bisa masuk kedalam lift.


hendi berdiri disamping bayu, dia terlihat lelah karena berlari tadi, nafasnya pun tersengal-sengal.


" kamu kenapa hen? , kenapa harus berlari-lari begitu." tanya bayu datar menatap kearah hendi dengan wajah heran.


" aku mau bicara sama kamu soal dinner malam minggu itu? gimana?. "


tanya hendi dengan nafas dan detak jantung yang masih tak beraturan karena habis berlari.


" gimana apanya hen? , bayu mengernyitkan dahinya kearah hendi.


" kamu sudah nembak tania belom...?" kata hendi.


bayu yang mendengar perkataan hendi pun langsung terkejut.


" hah... nembak, maksud kamu aku harus nembak dia gitu. gak hen, aku gak berani dan gak mau berurusan dengan hukum, itu tindak kriminal namanya hen. "


kata bayu polos dan memalingkan wajahnya dari hendi.


Dia tak mengerti apa yang dimaksud dengan menembak yang dimaksud oleh hendi. karena selama hidupnya dia memang tak pernah berpacaran, dan dia juga tak punya pengalaman untuk itu.


" ya tuhan, bayu... bayu...!" kata hendi dengan tangan kanannya menepuk jidatnya kesal.


" bukan begitu maksudku. kalau kamu menembaknya pakai pistol ya jelaslah kamu akan dipenjara. " sambung hendi lagi.


tak berapa lama lift pun berhenti, menandakan sudah sampai ditempat tujuan.

__ADS_1


ting...


pintu lift pun terbuka;


bayu dan hendi segera keluar dari lift melangkah masuk keruang kerja bayu.


bayu membuka jasnya dan meletakkannya di senderan kursi kerjanya.


bayu duduk di sofa yang ada di dalam ruang kerjanya dan begitu juga dengan hendi yang duduk disamping bayu.


" terus nembaknya pakai apa hen?" bayu melanjutkan pembicaraan mereka sewaktu di lift tadi, dengan wajah penasaran menatap serius kearah hendi.


" nembaknya pakai cinta donk bay. dasar kamu jomblo kuper, kurang pergaulan. " kata hendi mengejek bayu sambil tertawa.


ahahahha


" kurang ajar kamu hen, beraninya kamu menertawakan aku, kamu mau aku pecat, hah..." kata bayu kesal.


" jangan asal main pecat gitu donk , bos. " kata hendi .


" oke...oke... kalau begitu kita lanjut ke pertanyaan awal. gimana, kamu sudah katakan kepada tania kalau kamu itu suka sama dia. " kata hendi serius.


bayu menatap hendi dan menggelengkan kepalanya.


" hah... Kenapa bay, aku sudah susah payah membuat acara diner romantis mu itu, tapi kamu belum mengatakan kalau kamu mencintainya, kenapa? " kata hendi kesal.


bayu yang mendengar ucapan hendi itu pun menundukkan wajahnya.


" aku tidak punya keberanian hen, aku takut dan juga malu untuk mengatakannya kepada tania. " kata bayu pelan dan masih menunduk.


" sejak kapan bayu yang ada didepanku ini menjadi penakut. " kata hendi tegas.


" aku tak bisa mengatakannya ketika dia sudah berada didepanku, hen. aku juga tidak tau kenapa. " kata bayu jujur.


" dasar aneh kamu bay, masak sih hal kecil begitu aja gak bisa. bukannya kamu itu seorang presdir, mengurusi perusahaan segini besarnya kamu aja bisa, kenapa giliran hal yang sekecil itu kamu tak bisa. " kata hendi kesal, Karena dia merasa semua persiapan diner yang dia rencanakan tak mendapatkan hasil yang memuaskan.


" itu berbeda hen, urusan kantor dan tania itu jauh berbeda. " kata bayu.

__ADS_1


" terus kapan kamu akan mengatakan kepada tania kalau kamu mencintainya kalau perlu langsung saja kamu lamar dia. "


kata hendi dengan santainya.


bayu yang mendengar perkataan hendi hanya diam dan menarik nafas panjang dan membuangnya pelan.


" ingat bay, tania itu gadis cantik dan juga berpendidikan, jangan sampai dia keburu diambil orang. " tegas hendi.


" jangan donk, hen." kata bayu.


" nah, oleh karena itu bay, kamu jangan sia-sia kan kesempatan yang ada. ingat bay, cewek itu butuh kepastian."


kata hendi lagi, menatap serius wajah bayu.


" iya sih, hen. aku akan berusaha untuk mengumpulkan keberanianku. " kata bayu bersemangat.


"nah, gitu donk... itu baru namanya anak pintar. " kata hendi sambil menepuk bahu bayu.


" apaan sih kamu hen. " kata bayu kesal.


"kalau begitu, aku ke ruang kerjaku dulu. selamat mengerjakan tugas-tugas mu. " kata hendi sambil berdiri.


" tugas apaan, hen. " tanya bayu heran.


" ya tugasmu untuk mengumpulkan keberanian, ahahaahah... " kata hendi sambil tertawa.


" kurang ajar kamu hen, beraninya kamu mentertawakan ku lagi. " kata bayu kesal.


" segera, kumpulkanlah keberanianmu sebanyak-banyaknya. jangan terlalu lama. " ledek hendi, dan dia juga kembali tertawa, untuk kali ini dia tertawa pelan, karena takut bayu marah lagi. hendi pun keluar dari ruang kerja bayu.


" awas kamu hen. " kata bayu kesal karena ledekan hendi.


hendi melangkah masuk ke ruang kerjanya dan duduk di kursi kerjanya itu sambil menggoyang-goyangkan kursinya.


"sepertinya aku harus cari cara lain, agar bayu bisa mengatakan perasaannya sendiri kepada tania, aku tak mau bayu terus memendam perasaannya.


gumam hendi dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2