
“Kamu sudah bangun, Sih?”
Pertanyaan bernada berat dari seorang wanita tua, sudah langsung menyapa Asih. Kepala Asih masih terasa sangat pusing sekaligus berat, selain tubuhnya yang terasa meriang. Sementara suara tadi, Asih kenali sebagai suara sang bibi. Bibi Sujiah, dan wajahnya sangat mirip dengan wajah mamak Asih.
Asih mengangguk-angguk menanggapi sang bibi sembari terus berusaha duduk. Ia masih belum berbicara dan memang karena tengah menerka-nerka.
Hal terakhir yang Asih ingat, dirinya pingsan setelah menyaksikan bahwa manusia yang keluar dari setiap rumah sekitar sebelum rumah sang bibi, justru bukan manusia. Mereka mungkin tergolong hantu, atau malah lebih, dengan wajah yang sama-sama pucat bahkan hitam, juga bola mata yang dominan berwarna putih. Selain itu, mereka juga kompak membawa lampu jad*ul masyarakat setempat yang menjadikan minyak tanah sebagai bahan bakarnya.
Namun kini, Asih sudah ada di dipan tua berkasur kapuk yang sangat keras. Badan Asih yang terbiasa tidur di kasur empuk jadi terasa sakit semua. Mirip habis kerja rodi.
Lama tak berjumpa, bibi Sujiah sudah makin tua. Tubuhnya saja sudah tongkok dan untuk jalannya, wanita itu menggunakan tongkat kayu yang tampak tua.
“Tadi ada yang anterin kamu. Mau berangkat nderes, tapi malah lihat kamu tergeletak di tengah jalan. Kebetulan, dia kenal kamu dan langsung antar kamu ke sini.” Bibi Sujiah masih berjalan membawa cangkir hitam menuju keberadaan Asih. Sebenarnya jaraknya tidak seberapa, tapi karena keadaannya, mendekati Asih tetap menjadi kesulitan berarti untuk orang sepertinya. Karenanya, ketika Asih buru-buru bangun kemudian merangkulnya, ia mau-mau saja dituntun untuk duduk di pinggir kasur keras yang sempat Asih tempati.
Sampai detik ini, alasan Asih diam karena ia merasa linglung. Asih merasa telah tidur terlalu lama, selain Asih yang seolah telah melupakan banyak hal.
__ADS_1
“Minum ini,” ucap bibi Sujiah sambil memberikan cangkir hitam berbahan tanah liat.
Biasanya Asih paling semangat jika minum air dari cangkir di rumah sang bibi yang terbuat dari tanah liat. Karena jika air sudah ditaruh situ, rasanya akan dingin sekaligus lebih segar layaknya air sari lemari pendingin. Namun, lagi-lagi hati Asih diselimuti banyak kegelisahan. Hati dan pikiran Asih mendadak sangat tidak tenang.
“Minum, biar hati dan pikiranmu tenang,” ucap bibi Jiah yang menatap dingin Asih.
Tatapan bibi Sujiah langsung berhasil membuat Asih ketakutan. Padahal Asih sendiri merupakan ratu ikan yang akan memiliki kekuatan istimewa jika sudah berada di dalam air, bahkan itu sekadar sungai. Dan Asih langsung tidak bisa untuk tidak menolak.
Dengan kedua tangan agak gemetaran, Asih meminum air di cangkir hitam pemberian sang bibi. Seperti biasa, air tersebut terasa dingin sekaligus segar. Hanya saja, adanya gulungan rambut yang sampai masuk ke mulut Asih, yang mana rambut itu begitu panjang, sukses membuat Asih muntah-muntah.
Tertatih-tatih, bibi Sujiah yang rambutnya sudah putih semua dan digelung asal itu menghampiri Asih. Asih menatapnya tak percaya di tengah kedua matanya yang samar akibat cairan yang masih memenuhi kedua matanya.
“Bi—” Asih bermaksud menuntut penjelasan kepada sang bibi. Kenapa bisa-bisanya, air minum untuknya sampai dihiasi gumpalan rambut yang sangat panjang dan harusnya tidak bisa tertampung oleh cangkir yang sampai ia jatuhkan begitu saja?
“Kamu punya masalah sama siapa? Kok bisa-bisanya ada yang kirim gun*a-gun*a ke kamu?” sergah bibi Sujiah sengaja menahan ucapan Asih.
__ADS_1
Detik itu juga Asih merasa hidupnya memang tidak baik-baik saja. Asih bingung sebingung-bingungnya, dan refleks mengalihkan tatapannya dari sang bibi. Kedua matanya menjadi menatap nanar tanah hitam yang menjadi lantai di sepanjang rumah sederhana milih sang bibi.
Rumah bibi Sujiah memang lebih layak disebut gubug, di era kini yang apa-apa sudah modern. Rumah tersebut tidak banyak yang berubah, meski Asih sudah beranjak dewasa.
“Kalau boleh tahu, memangnya kamu sudah menikah? Kapan? Kenapa perutmu sebesar itu?” lanjut bibi Sujiah yang perlahan menurunkan tatapannya dari kedua mata Asih yang menatapnya terkejut. Tatapannya turun ke perut Asih, yang memang terlihat buncit layaknya wanita hamil empat bulan.
Betapa terkejutnya Asih ketika melihat perutnya yang seingat Asih awalnya masih rata, kini sudah buncit layaknya wanita hamil pada kebanyakan. “Baru kemarin, loh ... belum ada satu minggu. Masa sudah begini?” batin Asih. Di tengah kebingungannya itu, ia bergegas keluar.
Tak butuh waktu lama bagi Asih untuk keluar dari rumah sang bibi yang tidak begitu besar. Karena lima meter dari tempat tidur saja, sudah merupakan pintu keluar. Asih saksikan, suasana pagi di desa sana yang tampak sibuk. Semuanya sudah memakai pakaian khas menuju sawah atau kebun. Hanya saja, dari semua yang ada di sana berwajah sekaligus berekspresi datar. Hanya bibi Sujiah saja yang menjadi satu-satunya manusia berekspresi.
“Sepertinya memang ada yang salah ...,” batin Asih sambil mundur menghindari langkah sang bibi yang mencoba mendekatinya. “Aku harap ini hanya mimpi,” batinnya lagi. Tampak sang bibi yang tersenyum pada setiap mereka yang lewat. Hanya saja setelah Asih pastikan, semua yang lewat masih tidak ada yang berekspresi.
“Kalau begini keadaannya, sepertinya tempat ini juga enggak cocok buat aku. Lebih baik aku ke rumah mas Aqwa, kemudian memasrahkan diri secara baik-baik. Andai memang kau masih bisa jadi manusia, aku pastikan aku akan menjadi manusia yang taat sekaligus beriman. Namun jika memang takdirku menjadi ikan, aku juga akan menerima dengan lapang dada. Asal teror ini usai, aku janji akan menjadi Asih yang lebih baik lagi!” batin Asih yang benar-benar bernazar. Yang Asih bingungkan dan baginya sangat tidak masuk akal, kenapa perutnya sudah sangat besar? Atau, memang firasat sekaligus keyakinannya bahwa ia sudah tidur terlalu lama memang benar? Hingga ketika akhirnya ia bangun, perutnya sudah besar dan itu merupakan hasil hubungannya dengan Aqwa.
“Jika memang anak itu tidak punya bapak, apalagi kamu justru hamil di luar pernikahan, gugu*rkan saja. Di sebelah ada jasa abo*rsi dapat uang dua puluh juta. Lumayan bisa buat modal usaha kamu menjalani lebaran baru. Apalagi sekarang kamu sudah apa-apa sendiri. Bapak dan mamakmu yang sudah mati enggak mungkin bisa menolongmu lagi!” ucap bibi Sujiah yang bagi Asih jadi makin aneh. Bicaranya pun terus nyerocos mirip orang yang sedang membaca dialog sebuah naskah formal.
__ADS_1
“Enggak beres ini!” batin Asih mantap untuk pergi juga dari sana.