
Asih tidak bisa untuk tidak takut. Malahan Asih merasa sangat takut. Bukan hanya air matanya yang berlinang. Karena suara tangisnya juga sampai tersedu-sedu.
Tangis Asih terdengar sangat menyedihkan di antara tawa melengking dari beberapa wanita dan juga suara berat dari tawa khas laki-laki. Tawa yang tak lain dari hantu-hantu di sana dan biasanya hanya akan Asih jumpai di cerita yang ia baca maupun tonton di layar televisi.
“Aku harus tetap wudu, salat terus doa. Semampuku, aku benar-benar harus melakukannya!” batin Asih tetap ingin berusaha.
Hanya saja, selama usahanya itu juga, makin Asih berusaha, makhluk tak kasatmata di sana juga tak segan menarik rambutnya maupun pakaian bagian punggung Asih. Mereka seolah sengaja tak mengizinkan Asih beribadah. Mereka terus menganggu Asih di tengah tawa penuh kemenangan yang sangat mengerikan di setiap yang mendengar. Anehnya, selama itu juga, bibi Sujiah sama sekali tidak menolong atau setidaknya menampakkan diri.
“Asih, kamu harus terus berjuang,” ucap Asih dalam hatinya dan sengaja menyemangati dirinya sendiri.
Asih membiarkan sebagian rambutnya yang ditarik rontok, demi bisa meraih air wudu. Selain itu, Asih juga tidak berani menatap hantu-hantu di sana dan dirasa Asih, jumlahnya lebih dari lima.
“Bismillah ....” Asih berhasil meraih timba yang diletakan di pagar sumur. Anehnya, sumur di sana kering. Benar-benar kering bahkan meski Asih sudah mulai melafalkan doa yang ia bisa. Tak ada perubahan di sumur. Entah karena pengaruh kekuatan jahat di sana yang terlalu kuat, atau doa Asih yang telanjur tidak bisa didengar lantaran kini, sepertinya Asih memang ada di dimensi lain.
“Bismillah yah Allaaaah. Sekuat-kuatnya sebuah kekuatan dari semua kaum bahkan bangsa sekalipun, hamba yakin dan hanya percaya, Engkau Yang Maha Sempurna sekaligus Maha Esa, salalu ada di atas semuanya. Hamba berserah, hamba memasrahkan segalanya kepada Engkau!” batin Asih yang tak kuasa menyudahi tangis kesedihan sekaligus ketakutannya.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu, di tempat berbeda dan itu di kediaman orang tua Aqwa, pengajian masih berlangsung. Pengajian yang diselenggarakan di ruang keluarga hingga halaman rumah itu dikhususkan untuk mendoakan Asih yang sudah empat bulan lamanya hilang tak ada kabar bahkan jejak. Namun kini, di tengah doa yang perlahan mereka hentikan, samar-samar suara tangis wanita terdengar. Mereka mengenali suara tersebut sebagai suara Asih. Suara yang sukses membuat mereka merinding.
Air mata Aqwa sudah langsung jatuh mendengar suara tangis putus asa dari Asih yang benar-benar terdengar nyata. Apalagi selama ini, mereka begitu dekat. Sudah seperti kakak adik dan Aqwa menyayangi Asih selayaknya ia menyayangi adik perempuannya.
“Jika keadaannya sudah begini, sepertinya aku harus turun ke sungai itu. Bahkan meski semuanya melarang. Aku harus melakukannya agar aku bisa memastikan keadaan Asih secara langsung!” batin Aqwa dengan tekad yang benar-benar kuat.
“Asih ... sebenarnya kamu di mana? Kamu ke mana, Nak? Empat bulan enggak ada kabar. Doa bersama selalu digelar. Namun, setelah semua itu kami lakukan, kin kami hanya bisa mendengar suara tangis putus asa kamu, Nak!” batin ibu Ryuna, tersedu-sedu dan tak kuasa menghentikan air matanya. Ia sengaja membenamkan wajah di punggung sang suami.
“Di mana kamu. Kamu di mana, sih. Bahkan mata batinku tetap tidak bisa lihat kamu!” batin Aqwa benar-benar kesal. Sebab semua usahanya selama ini dalam mencari Asih selalu gagal.
Pak Helios berdalih, alasan usaha mereka tidak mendapatkan hasil karena mereka bagian dari Asih. Yang mana, harus ada pihak lain yang menanganinya. Masalahnya, sejauh ini melakukan usaha, semua orang beragama sekaligus orang pintar yang mereka datangi menegaskan, Asih ada di dimensi lain. Dimensi yang telah memenjarakannya. Asih disinyalir telah sampai mengonsumsi sesuatu yang ada di sana. Karena sekadar minum, sehaus apa pun, harusnya tidak sampai minum jika kita ada di tempat asing apalagi tempat yang sekiranya mencurigakan.
“Jadi, apa yang sebenarnya terjadi atau menjadi pemicunya? Karena menyelamatkanku, dan dia justru ibarat menggantikannya tanpa disadari? Apa ada alasan lain dan itu dari pihak lain? Atau, ada hal dan itu fatal yang telah Asih lakukan hingga dia menjalani perjalanan sekaligus kehidupan di dimensi lain?” lanjut Aqwa benar-benar emosional.
Di kamar Aqwa, ia hanya berdua dengan sang kakek. Setelah beres pengajian, sang kakek menghampirinya ke kamar.
__ADS_1
“Sepertinya semua kemungkinan itu benar. Masalahnya tidak hanya satu, tapi memang banyak. Hingga karena saking banyaknya, keadaan benar-benar rumit.” Opa Helios yakin itu. “Termasuk yang kamu bilang, Asih mengamankan hantu penunggu jembatan sungai Merah. Sepertinya karena itu, Asih akan menghadapi penyebab hantu itu mati.” Kali ini, ia menatap sang cucu penuh keyakinan.
Aqwa benar-benar syok mendengarnya. “Dia harus menghadapi semua ini sendiri?” Mengatakan itu dan baginya sangat menyakitkan, air mata Aqwa jatuh.
“Ya!” opa Helios mengangguk beberapa kali, tapi ia yakin, memang harusnya seperti itu.
Kacau, Aqwa sungguh tidak bisa tenang apalagi baik-baik saja. Ia jadi mondar-mandir gelisah. “Bagaimana mungkin, Opa! Asih bisa apa? Salat saja dia masih sering lupa apalagi kalau sudah kecapaian meski dia tetap terbilang patuh beribadah ketimbang remaja lain seusianya.”
Aqwa kembali mondar-mandir di hadapan sang kakek. “Dia ada di dimensi lain dan harus menghadapi banyak hal di luar nalar. Lihat penampakan saja, dia pingsan. Kecuali jika di sana ada sungai, dan dia masuk ke sungai ....”
“Aku akui, dia punya kekuatan luar biasa jika dia sudah jadi ratu ikan karena aku menyaksikan sendiri menggunakan kedua mataku!” tambah Aqwa lagi.
“Sayangnya di sini tidak ada tempat berair karena sumur saja kering.” Di tempat berbeda, Asih masih terduduk lemas di depan sumur kering. Ia masih menahan ketakutan luar biasa karena sampai detik ini, ia masih dikelilingi para hantu. Bedanya, di sana sudah tidak ada yang bersuara. Hingga Asih bisa melafalkan doa dengan leluasa. Namun, tiba-tiba saja jerit ketakutan seorang wanita terdengar dari pekarangan depan.
“Hah? Ada orang lain yang hidup di sini?” pikir Asih.
__ADS_1
Sempat merasa lega karena akhirnya ia melihat manusia dengan tanda-tanda hidup layaknya manusia normal ada di sana, Asih yang sudah langsung mengawasi malah mendapati hal yang mencengangkan. Tampak seorang kakek-kakek berpakaian serba hitam termasuk blangkon yang dikenakan. Kakek yang sudah tongkok itu dengan cekatan membuat darah segar mengucur dari leher ayam hitam. Pisau yang kakek itu gunakan untuk melakukannya tampak berkilau karena tersorot beberapa obor yang menghiasi beberapa sudut pekarangan. Sementara di bawahnya, seorang wanita muda dengan perut cukup besar layaknya perut Asih, dibiarkan tiduran di atas tikar. Darah segar ayam tadi dibiarkan mengguyur perut si wanita yang hanya menutupi tubuh bagian pinggang ke bawah menggunakan sarung. Sisanya, dan itu tubuh bagian atasnya hingga pangkal perut, benar-benar dibiarkan tertutup.
“Apakah ini bagian ritual ...?” pikir Asih. Dan baru ia sadari, alasan para hantu di sekitarnya diam, karena semuanya fokus mengawasi apa yang ada di pekarangan depan sana.