
“Yang penting jangan mau diajak komunikasi. Sekadar kontak mata pun sebisa mungkin jangan. Enggak apa-apa dibilang jual mahal. Andai nanti mereka sampai muk*kul kamu kayak kejadian tadi, kamu seolah enggak tahu saja. Pura-pura, biar dia yakin, kamu enggak sadar ada dia. Soalnya kalau dia sampai tahu kamu bisa, bukan hanya dia yang bakalan ngerepotin bahkan terus menerus ganggu kamu. Namun juga yang lain!” Aqwa begitu mengkhawatirkan sang istri. Setelah membiarkan sang istri mandi di kamar mandi yang ada di kamarnya, sementara ia mandi di kamar mandi kamar sebelah, ia yang beres lebih dulu sengaja mengurus Asih.
Beda dari sebelumnya, kini Asih keluar dari kamar mandi dengan keadaan sudah memakai gamis, tapi kepalanya masih dibungkus handuk.
Asih yang dari awal keluar kamar mandi sudah langsung dituntun Aqwa, kemudian duduk di pinggir tempat tidur, jadi kikuk. Asih tak lagi bawel apalagi berisik. Karena perhatian Aqwa membuatnya merasa sangat disayangi. Aqwa benar-benar mencintainya. Kini saja, suaminya itu masih membantunya mengeringkan kepala.
“Sih, kamu masih hidup, kan? Kol cuma diem?” sergah Aqwa yang kemudian menunduk, menatap wajah Asih dengan saksama.
“Memang ada, ya? Orang mati masih bisa duduk dan juga bergerak,” sebal Asih sambil melirik Aqwa.
Aqwa langsung terkikik geli. Ia berangsur mendekap erat Asih bahkan memangkunya.
“Kalau sudah kayak gini, rasanya juga enggak kalah takut dari ketika aku lihat penampakan,” batin Asih jadi kerap mengedikan matanya. Sebab seperti yang baru ia keluhkan dalam hati, ulah Aqwa tak hanya membuatnya gugup, tapi juga takut.
Terlebih ketika wajah Aqwa terus mendekati wajah Asih, hingga wajah mereka sungguh tak berjarak lagi. Selain jantung Asih seolah mendadak dihiasi musik disko dengan suara dentuman sangat menyentak, Asih juga sampai gemetaran. Terakhir, Asih benar-benar tersentak ketika bibir Aqwa menyapa bibirnya dengan ******an lembut. Asih yang layaknya tersengat tawon raksasa, refleks memuku*l sebelah lengan Aqwa.
Akan tetapi, kali ini Aqwa tak peduli dengan teguran Asih. Aqwa malah perlahan menidurkan Asih kemudian menindihnya, tanpa benar-benar menyudahi ciu*man bibir mereka.
__ADS_1
Sampai saat ini, Asih hanya mengikuti Aqwa karena masih terlalu bingung. Asih merasa belum terbiasa, selain ia yang sadar, dirinya tak mungkin bisa menolak apalagi melarikan diri. Terlebih statusnya merupakan istri Aqwa. Mereka bahkan sudah memiliki buku nikah karena pernikahan mereka sah di mata hukum maupun agama.
“Dosa, yah, kalau sampai nolak apalagi menjalani tapi pikirannya enggak fokus ke suami?” pikir Asih yang refleks menahan napas ketika sang suami dengan sangat mudahnya menarik kaus lengan pendek yang dipakai. Tanpa banyak gerakan apalagi usaha, Aqwa melepas kausnya itu kemudian menaruhnya asal di sebelah mereka.
“Innalilahi ... aku beneran belum siap lahir dan batin,” batin Asih yang menyadari, ulah Aqwa tel*anjan*g dada membuat jauh di dalam dadanya makin sibuk berdentum. Di sana seolah banyak tangan tak kasatmata yang sibuk mengetuk, terlepas dari sekujur tubuh khususnya pipi Asih yang terasa memanas.
Karena Aqwa masih melakukan segala sesuatunya sambil terus menatapnya inte*ns, Asih yang jadi merasa sangat malu, sengaja mengalihkan pandangannya. Asih memalingkan wajah kemudian menggunakan kedua tangannya untuk menutupi wajah.
Tanpa Asih ketahui, sang suami tersipu menyaksikan ulahnya. Beberapa detik kemudian, Aqwa sengaja meraih kedua tangan Asih. Di tengah tatapannya yang masih mengunci tatapan Asih meski kedua mata itu terus bergetar sibuk menghindari tatapannya, baginya itu justru menjadi daya tertarik sendiri.
Aqwa mendekatkan tangan kanan Asih yang sudah ia genggam erat, ke bibirnya. Ia menc*iumi tangan tersebut sambil sesekali mengusapkannya ke punggung hidungnya. Tak peduli meski ulahnya juga membuatnya jadi kerap mendapat cubitan gemas di perut dari tangan kiri Asih.
“M—mas, Mamah ganggu, enggak?” suara lembut ibu Ryuna terdengar sangat jelas di sebelah pintu.
Yang membuat Asih melotot, ternyata pintu kamar Aqwa tidak tertutup rapat. Refleks ia menggelinding ke samping. Asih sadar sang suami sudah langsung syok karena ulahnya. Namun, Aqwa juga buru-buru memakai kausnya.
“Iya, Mah.” Aqwa juga segera duduk dengan benar.
__ADS_1
“Heran ih. Mau ngajak gitu*an kok pintu enggak dikunci apalagi ditutup!” batin Asih tak segan menen*dang kaki Aqwa yang Akhirnya turun dari tempat tidur.
Aqwa langsung sempoyongan karena tendangan sang istri. Ia sampai berpegangan ke tempat tidur.
“Mamah boleh masuk?” lanjut ibu Ryuna.
Sambil menatap heran Asih, Aqwa melangkah meninggalkan area sana. “Bentar, Mah.” Aqwa menghampiri sang mamah.
“Oh, Mas belum siap-siap? Bentar lagi acara Maulid-nya dimulai. Asih mana?” ucap ibu Ryuna yang memberanikan diri melongok ke dalam. Suasana kamar sang putra sepi, termasuk kamar mandi yang pintunya terbuka. Namun, ia tak menemukan tanda-tanda Asih ada di sana.
Aqwa yang sadar sang mamah sedang mencari menantu kesayangan, segera mengangguk-angguk sambil membingkai gemas wajah wanita itu. “Bentar aku bilangin. Anaknya masih di kamar mandi. Sepuluh menit lagi kami nyusul.” Ia sengaja mengalihkan tatapan sang mamah agar fokus kepadanya dan berhenti mengawasi sekaligus mencari-cari Asih.
Dalam diamnya, setelah ditinggal Aqwa, Asih merasa ada yang mengawasinya. Di kolong ranjang tempat tidur, seolah ada yang dengan sengaja mengawasinya. Alasan yang juga membuat suasana di sana menjadi berhawa sangat dingin. Namun, Asih mencoba cuek, meski itu membuatnya beberapa kali menahan napas. Barulah setelah Aqwa terdengar menutup pintu, ia buru-buru lari dan langsung mendekap tengkuk suaminya itu sangat erat.
“Di kolong tempat tidur ada wanita, Mas! Aku sudah pura-pura enggak lihat,” bisik Asih selirih-lirihnya meski bibirnya sudah sampai menempel di telinga kiri Aqwa. Saking dekatnya wajah mereka, sebagian wajahnya juga sampai menempel ke kepala Aqwa yang masih setengah basah.
“Wanita ... di kolong tempat tidur? Si Ayu ngikut ke sini?” bisik Aqwa tak kalah lirih seiring dagunya yang mengunci punggung kiri sang istri. Ia balas memeluk Asih sangat erat.
__ADS_1
Asih langsung menggeleng. “Harusnya bukan, Mas. Soalnya auranya beda. Auranya panas, bau amis darah sama bayi baru lahir!” balas Asih.
“Darah sama bayi baru lahir? Wewegombel?” pikir Aqwa yang langsung tersentak ketika melihat meja kerjanya. Karena di sana, laptopnya dalam keadaan terbuka. “Wewegombelnya beneran keluar dari laptopku?” pikir Aqwa lagi.