
“Pokoknya jangan didengerin. Mau mereka ngomong apa, budegi*n saja telinga kalian. Dan andai mereka memaksa, tabo*k saja!” tegas opa Helios.
Bagi opa Helios, cukup pada Brandon anak kembarnya, ia kecolongan. Tidak dengan anggota keluarga lain termasuk Aqwa cucunya yang memang memiliki keistimewaan. Karena saking istimewanya, beberapa makhluk tak kasat mata sampai ingin membu*h Aqwa demi mendapatkan kekuatan abadi.
“Kalau Mas butuh kesibukan, Mas bisa pel lantai dari atas sampai bawah. Jangan jailin istri Mas terus. Kasihan istri Mas lagi hamil. Opa sama Papah saja tetap stay di sini meski di Jakarta sedang banyak pekerjaan. Yang di Jakarta pun Opa tahan buat enggak di sini dulu, sampai-sampai ... sampai Opa sama Oma kamu LDR! Mas tega menyia-nyiakan pengorbanan kami!” lanjut opa Helios mengakhirinya dengan memijat-mijat pundak Aqwa menggunakan kedua tangannya.
“Eh Opa, ini serius. Pijatan Opa beneran enak. Terus, Opa ... terus!” ucap Aqwa yang memang jadi kurang enak badan. Sebab mendengar bisikan sekaligus bayang-bayang masa depan yang menakutkan, membuatnya tidak bisa tidur.
Syaraf-syaraf di kepala maupun leher Aqwa seolah mengeras bahkan tegang. Hingga pijatan yang dilakukan sang opa, membuat keadaan tersebut jauh lebih mendingan. Meski karena ulahnya itu juga, ia disebut kurang aj*ar oleh sang opa.
Opa Helios akui, meski dari segi fisik sekaligus kecerdasan, Aqwa masih condong menirunya sekeluarga. Untuk urusan jail sekaligus nyelenehnya terlebih ketika kepada Asih, sedikit banyaknya Aqwa memang mirip Ojan.
“Kamu jangan mirip Ojan, kenapa?” ucap opa Helios tetap memijat tengkuk, lengan, hingga punggung Aqwa.
“Jelas-jelas aku mirip Papah. Lagian, ngapain juga Opa panggil-panggil kak Ojan? Sinyal dia kuat, bisa-bisa langsung dateng, loh,” ucap Aqwa masih teramat nyaman dipijat sang opa.
“Andaipun Ojan datang, nanti sekalian suruh bikin film horor di sungai merah saja. Harusnya para dem*it di sana yang takut ke Ojan!” balas opa Helios.
Kini, bukan hanya ibu Ryuna dan pak Kim yang saling tersenyum sambil berpelukan. Sebab Asih yang duduk di sofa sebelah keduanya duduk juga. Asih tersenyum bahagia, meski ia sengaja menyikut suaminya agar tidak terus-menerus dipijat.
__ADS_1
“Harusnya Mas yang pijitin Opa,” tegur Asih.
“Ya sudah, kamu pijitin aku, aku pijitin Opa!” pinta Aqwa yang malah menjadi alasan keempat orang di sana tertawa.
Namun karena Aqwa mendadak diam dan terlihat sangat serius, semuanya jadi diam dan ikut serius juga. Aqwa menoleh ke dinding sebelah, memastikan waktu pada jam dinding di sana. Detik berikutnya, terdengar adzan dhuhur disertai bulu kuduk di kedua tangan maupun tengkuk Aqwa yang mereka pergoki berdiri.
Aqwa menunduk sedih bersama kedua matanya yang basah sekaligus merah.
“Peluk Sih,” ucap ibu Ryuna yang sudah menatap khawatir Aqwa.
“Hah ...?” Asih makin kebingungan. Di tengah kedua tangannya yang gemetaran, ia berangsur meraih sebelah tangan Aqwa kemudian menggenggamnya.
Aqwa benar-benar bingung. Ia tak hanya tidak bisa berkata-kata, tapi juga sampai lupa bernapas. Di benak Aqwa, korban balita langsung dibawa ke ruang pemujaan, kemudian dibe*l*ih dan darahnya disiramkan ke kepala bapaknya Lumut, selain hantu kepala pak Sanusi yang turut meminumnya. “Mereka pasti akan ke sini, beramai-ramai. Terus begitu dengan jumlah yang sengaja dilipatkan agar aku menyerah.”
Mendengar itu, ibu Ryuna jadi langsung lemas. Lain dengan pak Kim yang langsung berdiri menghampiri sang ayah. “Diganti tolak bala lagi, memang enggak bisa Pah? Terus, itu si hantu kepala ngapain sih? Apakah kita harua mencari tubuhnya?” keluhnya sembari menatap sang papah penuh kepastian.
“Tubuhnya sudah dimakan anj*ing ... bahkan mungkin juga dengan tulangnya,” ucap Aqwa bersama benaknya yang dihiasi adegan tubuh pak Sanusi dimakan sekaligus menjadi bahan rebutan para anj*ing.
“Ya sudah, beri saja dia tubuh anj*ing itu yang sedikit banyaknya pasti masih mengandung daging tubuh pak Sanusi!” kesal Kim. “Apa harus, aku mencari salah satu dari anji*ing itu, atau setidaknya sisa tulang pak Sanusi, untuk tolak bala?” sergah pak Kim lagi dan memang telanjur emosi. Ia dapati, sang papah yang berangsur menatapnya.
__ADS_1
“Idemu boleh juga. Temukan salah satu dari anj*ing itu, juga sisa tulang pak Sanusi, ... setelah salat dhuhur nanti, kita harus langsung mencarinya. Sebelum mereka menjatuhkan korba*n lebih banyak lagi dan akan makin membuat Aqwa terbebani,” ucap pak Helios. “Syukur-syukur, salah satu bangsa ikan datang agar kita bisa menjadikannya sebagai perantara untuk mengh*ancurkan mereka. Karena hanya dengan begitu, kita baru bisa mengakhiri teror ini.”
Membahas bangsa ikan, opa Helios berangsur menatap Asih. Benar saja, cucu menantunya itu tampak sangat bersedih. “Perlu kamu ingat, Sih. Orang tuamu terbu*nuh oleh bangsanya sendiri. Karena alasan itu juga, mereka memberikanmu kepada kami. Karena kebetulan, mereka juga tahu Aqwa termasuk kami, membutuhkanmu. Bersyukurlah, ada sisi positif dari gun*a-gun*a mereka yang membuatmu tersesat lama di daratan. Karena itu juga, kamu jadi manusia seutuhnya. Meski andai tanpa bantuan Sukma, yang akan terjadi kepadamu memang kamu tidak bisa bertahan seperti kemauan utama bangsa ikan. Agar kamu tidak bisa kembali ke kerajaan. Agar kamu sebagai ahli waris yang sah, tidak mengambil kuasa di sana.”
“Mereka menyesatkan aku ke desa di mana ada praktik abor*si, agar aku juga mengakhiri janin dalam perutku? Mereka menganggap calon anakku sebagai ancaman juga? Begitu, Opa?” tanya Asih memang ingin memastikannya.
Meski berat, opa Helios berangsur mengangguk. “Meski ternyata, di sana juga membuatmu menemukan beberapa fakta mencengangkan. Termasuk kabar dari bibi kamu.”
Kali ini, giliran Asih yang mengangguk berat. Ia masih menyimak setiap wejangan dari opa Helios.
“Nanti, pasti akan ada orang yang ke sini mencari Asih dengan alasan, akan memberikan barang milik bibinya. Namun, dari semuanya tolong jangan ada yang kamu sentuh, Sih. Nanti, semua barang termasuk uang bayaran dari abors*i di dalamnya, langsung buang ke sungai merah. Nanti mamah Ryuna yang buang. Asih dan Aqwa tetap wajib di rumah,” lanjut pak Helios.
Setelah semuanya kompak mengangguk paham, mereka juga berangsur mengambil wudu dan siap salat dhuhur berjamaah di masjid agung yang ada di pondok pesantren sebelah rumah.
Beres salat, pak Kim dan opa Helios langsung pergi sesuai misi. Keduanya menggunakan sepeda motor dan pak Kim yang membonceng opa Helios.
Seperti yang sudah opa Helios yakini, satu jam dari kepergian pak Kim dan opa Helios, ada tiga orang yang yang datang. Dua orang pria paruh baya dan seorang wanita yang tampaknya sedikit lebih muda dari kedua pria tersebut. Masih seperti wejangan opa Helios, ketiganya sungguh mencari Asih, dan bermaksud memberikan barang-barang bibi Sujiah.
Merinding, ibu Ryuna menguatkan hati untuk menjalani misi yang sudah menjadi tugasnya.
__ADS_1