
“Aku mohon, tolong aku. Jasadku ditahan bangsa silu*man ikan yang bekerja sama dengan hantu kepala, hingga aku jadi begini. Mereka baru akan membiarkan jasadku naik ke daratan, setelah aku berhasil membuatmu ke sana,” ucap si pria bernama Ridho tersebut.
Yang Asih takutkan akhirnya terjadi. Ada saja alasan Aqwa harus ke sana. Bahkan belum ada dua minggu layaknya wanti-wanti, sudah ada arwah yang meminta tolong dan itu sampai mengungkit kemampuan Aqwa.
“Jika kamu tidak menggunakan kemampuanmu untuk membantu sesama, kekuatanmu akan hilang!” ucap Ridho.
“Enggak apa-apa. Aku ikhlas kehilangan kemampuan ini karena setelah menjadi seorang suami, yang harus aku utamakan adalah istri. Jadi karena istriku sangat membutuhkanku, yang bisa aku lakukan untuk membantumu hanyalah mendoakan kamu, agar kamu diterima oleh Tuhanmu,” ucap Aqwa sambil menatap saksama kedua mata Ridho. “Jangan lupa, memohon bantuan tidak boleh memaksa. Terlebih kamu juga tahu, mereka hanya sedang memperalat kamu. Jadi, akan tetap ada syarat sekaligus permintaan, meski kamu sudah menyelesaikan syarat maupun permintaan mereka yang sebelumnya.” Aqwa berusaha memberi pengertian kepada Ridho. Yang mana selama itu juga, ia tak sedikit pun ia mengizinkan sang istri menatap atau setidaknya melirik Ridho.
Aqwa tak mau sang istri sekarat gara-gara melihat keadaan wajah Ridho yang sangat menyeramkan. Wajah itu tak hanya pucat, tapi perlahan mengeluarkan belatung kecil sekaligus menghitam. Menandakan jika Ridho sudah dikuasai hawa jahat.
“Pergi dan tolong jangan bikin gara-gara. Aku benar-benar akan langsung mendoakan kamu,” yakin Aqwa.
“Istri dan anakku sudah menunggu kepulanganku. Istriku sedang hamil besar. Lusa menjadi HPL-nya, sementara anak pertama kami masih berusia dua tahun. Aku mohon, tolong bantu kami. Jangan sampai, mereka menunggu apalagi menangisiku,” ucap Ridho sengaja memaksa.
“Ya Allah, ... enggak, aku mohon. Sampai dua minggu ke depan!” batin Asih benar-benar memohon. Ia sungguh ketakutan karena terlalu khawatir. Bukan hanya air matanya yang sudah langsung berlinang. Karena tubuhnya juga sampai gemetaran. Karenanya, ia juga refleks mendekap erat tubuh Aqwa.
“Lewat doa, aku benar-benar akan membantumu,” yakin Aqwa yang kemudian memejamkan kedua matanya sambil melantunkan doa. Bersamaan dengan itu, ia juga mendekap erat tubuh Asih yang ia sadari sudah menangisi keadaan mereka. Mengenai larangan agar Aqwa maupun Asih tidak pergi ke sungai Merah layaknya wanti-wanti opa Helios.
***
__ADS_1
“Gagal?” Lumut menatap kesal Ridho yang kembali tanpa Aqwa.
Di ruang ibadah mereka, kini sampai ada kepala pak Sanusi yang menempati meja ritual. Selain itu, di sana juga tak ada barang-barang Aqwa yang tersisa. Karena sejak talak bala yang opa Helios lakukan, semua perantara mereka menghubungi Aqwa juga binasa.
“Coba kamu saja yang naik ke daratan,” ucap sang Raja kepada Lumut.
Detik itu juga Lumut langsung memasang ekspresi tidak suka sambil menatap sang papah.
“Kalau bukan kamu yang naik ke daratan, siapa lagi? Mengutus yang lain, sementara di sini, kamu paling paham dengan misi kita?” keluh raja.
“Andai aku memiliki tubuh yang layak ditempati,” ucap kepala pak Sanusi dan langsung mendapatkan lirikan sinis dari Lumut.
Dari awal pertemuan mereka, Lumut memang anti bahkan membenci pak Sanusi. Terlebih setelah diajak kerja sama, kepala pak Sanusi berdalih akan menggunakan tubuh Aqwa maupun anak yang sedang Asih kandung, dan diprediksi masih merupakan seorang indigo.
“Kamu begitu, seolah-seolah kamu cantik!” sinis kepala pak Sanusi yang langsung membuat Lumut murka.
“Maksud kamu bicara begitu apa? Lama-lama beneran aku tenda*ng kamu biar sampai New York!” kesal Lumut.
Rajaraksa selaku sang raja, jadi bingung sendiri menyaksikan interaksi Lumut dan kepala pak Sanusi yang memang sangat sulit untuk akur.
__ADS_1
“Lalu, bagaimana dengan aku?” ujar Ridho yang masih ada di sana.
Kini, semuanya kompak menatap Ridho. Ridho yang sekarang, berbeda dengan Ridho saat awal meninggal. Ridho yang sekarang sudah dikuasi ambisi sekaligus dendam. Kenyataan tersebut dipertegas dengan warna kulit Ridho yang menghitam, selain setiap luka Ridho yang mengeluarkan belatung.
Kepala pak Sanusi yang memang jauh lebih tegas dari Lumut maupun pak Rajaraksa, sengaja menyusun rencana.
“Cul*ik Asih secepatnya. Sesatkan dia dan bawa dia ke sini. Jadilah Aqwa agar Asih mau mengikuti kamu sampai jembatan sungai Merah. Setelah itu, Aqwa pasti tidak memiliki alasan untuk tidak ke sini,” ucap kepala pak Sanusi.
“Itu cara yang aku ajarkan kepada Gendis!” tegas Lumut. “Termasuk meng*guna-gun*a Asih dan bersekutu dengan bangsa ular, aku juga sudah melakukannya lewat hantu penasaran bernama Dewi, yang kemarin berakhir hanc*ur karena Aqwa.”
“Dalam kondisi seperti sekarang, tidak perlu meributkan cara siapa yang paling bisa diperhitungkan. Karena yang harus kita lakukan sekarang, setelah keadaannya begini sementara Aqwa sampai menolak pertolongan arwah, hanyalah saling kerja sama!” tegas pak Rajaraksa.
“Jadi, sekarang aku cukup menyesatkan Asih agar dia ke sini? Aku benar-benar tidak punya banyak waktu karena anak istriku sudah menungguku!” tegas Ridho.
Mendengar itu, diam-diam, Lumut dan sang bapak tersenyum senang. Keduanya berkode mata, merasa lega karena ada arwah baru yang bisa mereka peralat. Yang mana bonusnya, sosok tersebut sama sekali tidak perhitungan. Sangat kontras dari kepala pak Sanusi yang belum apa-apa sudah merasa berkuasa.
Sementara itu, di tempat berbeda, di kamar, baik Aqwa maupun Asih sama-sama tidak tidur. Bahkan meski adzan subuh berkumandang, keduanya masih terjaga dan saling pandang. Asih sengaja mendekap tubuh Aqwa kemudian membenamkan wajahnya di dada suaminya itu.
“Kamu masih ingat saat kamu melihat aku loncat ke sungai, ... itu hantu sana yang berulah. Dia sengaja menyamar jadi aku. Dan aku yakin, kejadian semacam itu akan kembali terjadi. Itu kelakuan Gendis, anak dari dukun abors*i yang bersekutu dengan wewegombel. Namun kini, setelah apa yang terjadi, kepala pak Sanusi gentayangan dan dia sudah bekerja sama dengan bangsa ikan. Jadi, semua kesia*lan sekaligus teror yang kita alami memang berasal dari mereka,” ucap Aqwa.
__ADS_1
“Jika mereka menjadi sumber teror dan segala kesial*an kita, lantas, apa maksud mereka memaksa kita menikah?” ucap Asih yang kemudian berkata, “Aku yakin, pernikahan kita tetap ada maksudnya. Meski alasan Lumut menginginkan Mas, juga masih bikin aku bertanya-tanya.”
Setelah menyimak ucapan Asih, yang Aqwa pikirkan hanya satu. Hasil dari sebuah pernikahan yaitu anak. Bisa jadi, jika mereka tidak bisa mendapatkan Aqwa, mereka juga mengincar anak Aqwa. Terlebih kenyataan mereka yang membuat Asih menjadi manusia seutuhnya, membuktikan bahwa Lumut dan sang bapak sengaja ingin berkuasa.